Pemilu 2019 Terburuk dalam Sejarah?

Pemilu 2019 Terburuk dalam Sejarah?
BW (foto: Merdeka)
3 minute read

“Kebijakan adalah sebuah keputusan yang akan mempengaruhi kehidupan banyak orang, maka harus dipertimbangkan dan dipikirkan secara matang”. – Game of Thrones


PinterPolitik.com

Pemilu telah usai, tapi menyisakan masalah yang tiada hentinya. Seperti hubungan percintaan yang kandas, tapi masih menyisakan tanda tanya. Uh, sedih banget ya.

Hal ini yang membuat mantan Wakil Ketua KPK, Pak Bambang Widjojanto berkomentar bahwa Pemilu kali ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah, utamanya pasca reformasi. Wah, untung bukan Pak Eko yang angkat bicara, nanti orang-orang pada komentar: “Masuk Pak Eko!”. Hehehe.

Emang terlihat banyak banget masalah yang muncul di Pemilu kali ini, mulai dari anggota KPPS yang meninggal dan sakit, hingga keluhan dari para caleg yang kurang dapat mengkampanyekan visi-misi mereka karena kalah pamor sama capres-cawapres.

Dulu katanya Pemilu serentak ini diadakan untuk memperkuat sistem presidensil. Maka yang ditonjolkan adalah Pilpres-nya. Tapi, kalau presidensil, kok masih ada batas presidential treshold? Click To Tweet

Wah, kasihan ya, sudah capek-capek malah kurang terkenal dan tersosialisasikan. Belum lagi masyarakat yang bingung harus mencoblos lima surat suara secara bersamaan. Duh banyak  banget, apa gak kasihan sama generasi tua yang kebingungan harus nyoblos sebanyak itu?

Dulu katanya Pemilu serentak ini diadakan untuk memperkuat sistem presidensil. Maka yang ditonjolkan adalah Pilpres-nya. Tapi, kalau presidensil, kok masih ada batas presidential threshold? Jadi bingung ya. Siapa sih yang ngusulin?

Dulu pakar komunikasi Effendi Ghazali dan kawan-kawannya mengusulkan Pemilu serentak katanya biar menghemat anggaran dan menghilangkan money politic. Niatnya sih bagus ya, tapi ternyata kondisi di lapangan malah sebaliknya.

Soalnya Kementerian Keuangan menyebut anggaran untuk Pemilu 2019 yang mencapai Rp 25,59 triliun itu naik 61 persen dibandingkan Pemilu sebelumnya. Itu sih namanya bukan pengiritan, tapi pemborosan. Gimana sih?

Baca juga :
Jokowi, Disrupsi Teknologi dan Dinosaurus

Lagian, dalam salah satu hasil survei, politik uang masih kuat terjadi kok. Di Aceh misalnya, angka money politic menjelang pemungutan suara semakin meningkat. Bahkan disebutkan bahwa 40 persen pemilih mengubah pilihan akibat politik uang. Loh loh, kok malah jadi bermasalah begini ya.

Kok bisa sih kebijakan seperti ini muncul? Apakah sebelumnya tidak diuji terlebih dahulu? Atau jangan-jangan menggelinding seperti bola begitu saja dan masuk ke gawang?

Lha Cristiano Ronaldo saja ambil ancang-ancang dulu kok sebelum menendang, biar bolanya masuk ke gawang. Makanya dia bisa jadi pemain terbaik dunia. Lha ini berhubungan dengan arah negara lima tahun ke depan dan hajat orang banyak, malah seperti ini. Hadeh.

Seharusnya sebagai lembaga yudikatif, sebelum meloloskan usulan ini para hakim di Mahkamah Konstitusi (MK) harus memikirkan dulu. Hadeh, jadi ingat lagu dari grup band Tipe X yang bilang bahwa penyesalan memang selalu menyakitkan, tapi itu kenyataan. (F46)