Pemerintah ‘Dihantui’ Arwah TKI

“Biarku istirahat di ranjang ini, karena kedua bola mata ini telah teramat lelahnya.” ~ Kahlil Gibran


PinterPolitik.com

“Kalau tidak punya kemampuan, sana jadi buruh di rumah orang!”

Begitu bentak orang-orang pemerintah, tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan rakyat kecil. Yang penting kan sudah diberi pekerjaan, begitu mungkin pikir mereka.

Mau itu pekerjaan di dalam negeri kek, di luar negeri kek, diberi gaji tetap kek, diberi gaji tapi enam bulan sekali kek, atau diberi gaji tapi dipukuli. Pokoknya sudah diberi pekerjaan kan!

Apa sih yang salah dari sistem penyaluran TKI kita? Ngga ada, dong. Wong kita sukses menjadi eksportir TKI terbesar di dunia.

Wadidaaaaw, emangnya gitu ya cara mengukur kesuksesan? Emangnya kuantitas adalah segalanya, ya?

“Ya udah sih, yang penting banyak. Mau mereka diapakan juga sama majikannya, yang penting pulang-pulang idup.”

Oiya betul juga. Kembali ke awal. Pokoknya dikasih pekerjaan, tidak ada uang, yang penting kerja. Tidak penting itu kemanusiaan.


Lah, terus kalau sudah ada yang sampai wafat begini, pemerintah mau apa? Ya sudah, minta maaf saja kan sama keluarganya? Atau, paling maksimal memperjuangkan secara diplomatis, kan?

Palingan lagu lama lagi yang dimainkan. Presiden mengemis-ngemis ke negara yang zalim itu, seperti waktu presiden mengemis ke Raja Salman. Lah, kalau itu kan baru divonis tak berhak idup. Apa jasad yang sudah tidak idup masih bisa didiplomasikan?

Ampun-ampunan deh kalau sudah begini. Kasihan Pakde Joko sama Ibu Retno disuruh minta maaf padahal bukan salah mereka. Tapi, emang begitu deh tugas diplomat dan simbol negara. Menjadi ‘muka’ negara di panggung global.

Baca juga :  Kisruh Sidang Paripuna DPD

“Tapi kan itu tidak menyelesaikan masalah!” teriak salah seorang pembaca setia kami.

Ya, ya, tentu saja kawan-kawan. Biarkan suara nyaring kami menggema sampai telinga para penguasa. Kami tidak minta diberi uang. Kami cuma minta keadilan untuk mereka.

Maafkan kami ya, seluruh arwah TKI yang sudah gugur.

Oke. Mari kawan-kawan, kita menghantarkan kepergian seorang lagi pahlawan devisa kita.

Gugur bungaku di taman bakti~

(R17)

Rate this post
Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here