PDIP Incar Milenial dan PNS

target suara pdip
Calon anggota legislatif Krisdayanti (kiri) memperagakan busana kampanye Pemilu 2019 dalam peluncuran "tagline" dan atribut partai untuk kalangan milenial di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Kamis (20/9). PDI Perjuangan dalam menghadapi Pemilu 2019 meluncurkan "tagline" dan atribut partai untuk kalangan milenial sebagai bentuk kreativitas politik dalam menyambut tahapan kampanye. (Foto: ANTARA)
2 minute read

“Awalnya cita – cita besar itu di pandang tidak mungkin terjadi, lalu mungkin, kemudian dan seringkali terjadi.” ~Cristopher Reeve


PinterPolitik.com

Pemilu sebentar lagi akan berlangsung. Para partai politik sudah menyiapkan target perolehan suara yang harus didapatkan di Pileg tahun depan. Apalagi sekarang aturan parliamentary threshold cukup tinggi. Jadi harus pasang target yang tinggi juga biar makin semangat.

Gara-gara aturan tersebut, beberapa penelitian bahkan memperkirakan hanya akan ada sekitar lima partai yang bisa masuk parlemen? Ngeri bener.

Demi mencambuk semangat relawan, partai politik memasang target perolehan suara setinggi-tingginya. Karena masuk parlemen tak semudah itu, Ferguso. Click To Tweet

Partai-partai yang elektabilitasnya gelap gulita, yang Pemilu 2014 lalu paling cuma dapat angka di bawah 5 persen pasti cukup ketar-ketir ya. Apa lagi partai-partai baru. Target bisa mencapai ambang batas saja kayankya cukup empot-empotan. Beda sama PDIP.

PDIP menargetkan raihan suara 30 persen di Pileg 2019. Gede banget ya? Hmm, wajar sih, parpol berkuasa gitu loh. Kalo nggak punya target tinggi sih keterlaluan. Hehehe.


Tapi ya, tahu nggak target pemilih yang bakal menjadi prioritas PDIP? Ternyata mereka akan mengejar suara dari pemilih muslim, anak-anak muda dan PNS.

Sekjen PDIP Hasto Kritiyanton dalam acara konsolidasi di Sumatera Utara mengatakan, kalau pemilih non-Islam targetnya sudah sesuai. Tapi yang PNS, milenial dan pemilih muslim ini masih harus kerja keras.

Hmmm, gimana nggak harus kerja keras, wong selama ini partainya diterpa isu partai komunis, anti-Islam, dan lain-lain. Terus sejarah PDIP yang jadul banget juga kadang diidentikkan dengan partainya orang tua. Yah, gampang-gampang susahlah ya.

Lebih dari itu, Hasto juga meminta kader PDIP untuk mendekati pemilih berusia di bawah 24 tahun, kemudian, pemilih perempuan.

Pada kategori tersebut, menurut Hasto, yang memilih PDIP 3,1 persen. Jadi dia minta bagaimana pun caranya para relawan harus mendatangi pemilih perempuan dan anak-anak muda.

Wadaw, relawan pria yang jomblo bisa menang banyak dongs? Siapa tahu kan berawal dari prospek pilihan parpol di Pileg 2019, berlanjut jadi pilihan pendamping hidup. Uhuuuyy… Bercanda loh saya. Hihihi.

Tidak lupa, Hasto juga selalu mengingatkan para kadernya untuk mengkampanyekan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin.  Kenapa? Hasto menyebut, pemilih PDIP 98 persen pasti memilih Jokowi, ini yang terbesar di antara partai koalisi lainnya.

Nah, ini. Sebagai pengusung pasangan calon, PDIP tentu juga memiliki kelebihan tersendiri dibanding partai lainnya. Apalagi kalau kampanyenya di wilayah-wilayah yang Jokowi banget, kemungkinan perolehan suaranya akan makin besar. Enaknya jadi PDIP ya. Hehehe. (E36)