Opera Tokoh Reformasi VS Reklamasi

10 minute read

Satu ucapan, bisa mendatangkan respon tak henti. Itulah yang terjadi pada Luhut dan Amien. Bagaimana sepak terjang politik dua tokoh politik ini?


PinterPolitik.com 

“Tenang-tenang saja, tetap puasa Daud, tetap ngaji, tetap terima tamu. Santai-santai saja.”

 

Keterangan yang diberikan Hanafi Rais, anak tertua Amien Rais, seolah menambah kontras ‘perselisihan’ yang terjadi pada Luhut Panjaitan dengan Amien Rais. Seperti yang ramai diberitakan minggu lalu, kedua tokoh politik tersebut ‘bertikai’ soal keterangan sertifikat tanah. Amien menganggap Jokowi ngibul karena mengklaim telah banyak membagi sertifikat tanah.

Keterangan Amien itu langsung saja dibantah Luhut. Tak hanya itu, pria 70 tahun tersebut ‘mengancam’ akan membuka dosa-dosa Amien. Entah apa yang dimaksud dengan dosa-dosa Amien, tetapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tersebut menyiratkan sebuah emosi menggebu.

Dari sana, gelombang respon, kritik, dan tanggapan tak berhenti bermunculan. Mulai dari sanggahan Sofyan Djalil, menteri agraria, yang menusuk kritik Amien, lalu Luhut yang ‘diserang’ oleh pendukung Amien, hingga kesediaan PP Muhammadiyah untuk mewadahi debat Amien dan Luhut secara langsung.


Di tengah pusaran yang gaduh itu, Amien belum lagi tampil memberi pernyataan atau menjawab pertanyaan yang datang. Sementara Luhut sudah mantap tak akan meladeni lagi pembahasan yang kerap dijuluki “Perseteruan tokoh Pro Reformasi VS Pro Reklamasi” ini. “Saya nggak mau. Mau interview saya boleh, tapi saya nggak mau interview bicara itu (debat dengan Amien) lagi,” terangnya.

Jika Luhut sudah memutuskan untuk tak mau lagi melanjutkan debat, pembahasan soal dua tokoh yang cukup populer bukan berarti tak  layak digali. Pada pemerintahan Jokowi, Amien dan Luhut memang konsisten berada di pihak yang berseberangan dan terus melemparkan kritik. Benar sekali, ini bukan pertama kalinya Amien Rais menjawil ‘ketenangan’ Luhut. Keduanya pernah bersinggungan soal adu data reklamasi.

Tak jauh berbeda dengan narasi dan retorikanya saat ini, Amien berkoar bagaimana reklamasi adalah upaya pemerintah menjual tanah kepada aseng. Kicauan Amien kala itu, untungnya digantikan oleh rasa syukur sebab Anies Baswedan dan Sandiaga Uno keluar sebagai pemimpin DKI Jakarta yang baru. “Allah masih menyayangi bangsa kita ini, kasih napas dulu,” demikian ujarnya.

Melihat sikap yang bertolak belakang tersebut, menarik pula menilik bagaimana proses keduanya bertumbuh, sehingga mempengaruhi dukungan dan pandangan politiknya saat ini. Siapakah Luhut Panjaitan dan Amien Rais? Terlepas dari perbedaan yang menonjol, apakah ada benang merah yang bisa menyatukan keduanya?

Luhut, Loyalis dengan Karir Berbintang

“Bahwa saya loyal, yes. Loyalis kepada presiden tegak lurus, tidak bisa ditawar. Kecuali Presiden langgar konstitusi. Sepanjang presiden tegak, itu kami akan bantu Presiden sekuat tenaga”

Sejak diangkat sebagai menteri sejak awal, Luhut memang tak main-main mengaku sebagai loyalis. Hal itu dibuktikannya dengan keluar dari kepengurusan Partai Golkar (bukan keanggotaan), di mana dirinya bernaung, sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Golkar, guna fokus menjadi pengarah Timses Jokowi – JK di tahun 2014.

Keloyalan Luhut pada pemerintahan Jokowi berubah menjadi kekuatan saat diangkat sebagai Menkopolhukam pada reshuffle pertama kabinet kerja. Sederet manuver telah dilakukannya, termasuk ‘memecah’ kekuatan politik Koalisi Merah Putih melalui Partai Golkar. Bahkan, terpilihnya Setya Novanto sebagai Ketum Golkar, memunculkan dugaan adanya intervensi dari pemerintah melalui pengaruh lelaki kelahiran Silaen, Sumatera Utara tersebut.

Peran sentral Luhut juga terlihat saat namanya dicatut dalam kasus “Papa Minta Saham”. Luhut langsung saja mengklarifikasi dirinya tidak terlibat sama sekali. “Ada yang menuduh saya seolah-olah saya pernah berbicara pada Novanto atau saudara Riza untuk pengaruhi Presiden perpanjang kontrak Freeport,” ujarnya seperti yang dikutip oleh Antara. Keberadaan kasus tersebut nyatanya tak membuat pengaruh dirinya meredup.

Sebaliknya, pada tahun-tahun berikutnya, Luhut makin menunjukan ‘kekuatannya’. Ia mendatangi KH. Ma’ruf Amin terkait penodaan agama yang dilakukan mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Poernama (Ahok). Tak hanya mendapat maaf dari Ketua Umum MUI, Luhut juga bersahabat dengannya.

Sebelum berada di pemerintahan, riwayat Luhut di Akmil Angkatan Darat juga tak kalah sangar. Bisa dibilang, loyalitas Luhut terpatri di sana, sebab sudah lebih dari dua puluh tahun ia mengantongi pengalaman dinas militer, khususnya di Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Walau begitu, karirnya mentok sebagai Komandan Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdikpassus) saja.

Meski tak lagi berdinas di militer sejak 1999, pangkat Luhut sudah jenderal penuh. Namun sekali lagi, pemilik bintang empat ini tak pernah sekalipun jadi kepala staf angkatan. Melihat sepak terjang militernya yang cemerlang, namun minim pengakuan, Luhut ditarik menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI dari 2000 – 2001 di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Luhut Panjaitan saat menemani Jokowi bertemu Prabowo (sumber: Tirto)

Di masa pemerintahan Megawati, ia sempat duduk sebagai menteri dan memutuskan membanting stir sebagai pengusaha di masa pemerintahan BJ Habibie. Hingga kemudian, dirinya kembali terlihat kembali di tahun 2010, sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar.

Selanjutnya, loyalitas Luhut terlihat di masa pemerintahan Jokowi. Ini pula yang membuatnya menjadi orang terdekat Jokowi. Hal ini terbukti dari berbagai keterlibatan Luhut di luar wewenangnya kementerian yang dipimpinnya. Seperti, menemani Jokowi bertemu Prabowo, menerima Jenderal Tito Karnavian soal aksi 411, hingga menemui KH Ma’ruf Amin. Sekalipun Jokowi mengetahuinya, ia bahkan sama sekali tak mempermasalahkannya.

Dengan demikian, bukan hal aneh bila menyaksikan Luhut pasang badan soal kicauan Amien. Sebab itu bisa jadi adalah bentuk loyalitasnya kepada pemerintah, seperti yang sudah diungkapkannya sejak awal. Loyalitas itu pula yang sudah dilatih sejak dirinya masih berada di Akademi Militer Angkatan Darat, selama lebih dari dua puluh tahun.

Amien Rais, Kritikus Sejak ‘Lahir’

Bila dibandingkan, Luhut dan Amien memang berbeda dan sangatlah kontras. Jika Luhut lama berada di dunia militer, Amien lama berkecimpung sebagai aktivis dan akademisi. Tak main-main, pria yang tahun ini genap berusia 73 tahun, adalah lulusan program doktoral Ilmu politik di Universitas Chicago atau  University of Chicago.

Sudah jamak diketahui pula bila Amien bukanlah orang indonesia satu-satunya yang  menimba ilmu di University of Chicago. Di tahun yang sama, sekitar tahun 1969, bersama dengan Nurcholis Madjid dan Syafi’i Ma’arif, menuntut ilmu di universitas top dunia tersebut.

Menariknya, walau menimba ilmu di tempat yang sama, arah dan pandangan politik Amien bertolak belakang dengan dua tokoh lainnya. Alih-alih mengambil pandangan Islam pluralis dan liberal, pemikiran Amien lebih condong ke arah yang lebih fundamentalis – konservatif. Hal ini tercantum dalam Unheeded Warning: The Lost Reports of The Congressional Task Force on Terrorism and Unconventional Warfare karya Peter M Leitner.

Dalam buku yang sama dijelaskan pula bila Amien melihat posisi orang Yahudi di AS sama dengan komunitas Tionghoa atau Kristen yang menguasai modal ekonomi – politik secara dominan, walau secara sosial kelompok tersebut adalah minoritas. Melihat hal tersebut, setidaknya bisa dipahami mengapa pria kelahiran Surakarta tersebut kerap meneriakkan narasi asing. Sebab Amien terus berpendapat Indonesia harus dijaga dari dominasi asing tersebut.

Walau kerap dianggap berhaluan konservatif, nyatanya Amien dulu adalah seorang reformis tulen. Hal ini, selain terlihat dari kritiknya kepada Orde Baru, juga terjadi di ormas terbesar kedua setelah Nahdatul Ulama (NU), Muhammadiyah. Di tahun 1990-an, saat PP Muhammadiyah hendak memilih ketua barunya, Amien lugas menyatakan kekecewaannya saat Lukman Harun tidak terpilih.

Lukman Harun sendiri adalah tokoh reformis PP Muhammadiyah. Jika Luhut loyal kepada pemerintah dan lembaga militer, maka Amien sangatlah loyal kepada Lukman Harun. Kekalahan seniornya saat memperebutkan posisi sebagai ketua PP Muhammadiyah tahun 1990, membuat Amien dan kubu pro reformasi sangat kecewa.

Bahkan Amien sempat mengendus adanya rekayasa intensif dengan misi menjungkalkan Lukman Harun. “Ini perlu diratapi. Cukuplah sekali ini saja terjadi. Ini dzolim. Saya tak rela, orang yang begitu banyak jasanya kok dibegitukan,” ungkap Amien seperti yang dilansir dari Tempo 22 Desember 1990.

Tapi di tahun 1995, malah giliran Lukman Harun dan Amien yang berseteru. Amien terpilih menjadi Ketua PP Muhammadiyah di tahun 1995 dan sangat vokal mengakhiri rezim Soeharto. Sebagai seorang yang berdarah muda waktu itu, kritik Amien menjadi sebuah usikan tersendiri bagi Lukman Harun, yang notabene mesra dengan Orde Baru.

Dari sana, Amien dianggap membawa Muhammadiyah ke ranah politik. Lukman Harun lantas berkata, “kritis boleh kritis, tetapi dalam Muhammadiyah itu ada tata kramanya. Dia (Amien Rais) kadang-kadang kurang memperhatikan tata krama. Muhammadiyah bukan partai politik, Muhammadiyah bukan gerakan politik!” tegas Lukman.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Lukman terbukti sudah. Dengan basis massa dari Muhammadiyah, Amien Rais mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Tak hanya itu, keinginan Amien Rais supaya Orba tumbang juga terwujud. Amien menjadi salah satu tokoh yang berperan penting dan terwujudnya reformasi itu sekaligus menjadi tokoh yang dielu-elukan.

Amien Rais di tahun 1998 (sumber: istimewa)

Di masa-masa itu, yakni saat BJ Habibie mengambil peran sebagai pengganti Soeharto, Amien mendatangi rumahnya dan meminta agar Pemilu dilaksanakan lebih cepat. “Dia menuntut dalam waktu sesingkat-singkatnya, tiga bulan, saya harus adakan Pemilu. Saya bilang “No”. Saya presidennya. Keluar,” kenang BJ Habibie.

Namun jalan Amien tetap mulus dengan menjadi ketua MPR dan memunculkan poros tengah untuk menaikkan Gus Dur ke kursi Presiden RI – demi menjegal Megawati Soekarnoputri – sekaligus melengserkannya. Ia kemudian mencoba maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2004 tetapi gagal.

Di masa pemerintahan Megawati, rentetan kritik Amien terus berlanjut. Ia sempat berkata bila perempuan tak seharusnya memimpin. Sementara pada pemerintahan SBY, Amien muncul dengan narasi ‘kekuatan asing dan aseng’ sebagai senjata kritiknya. “Dominasi asing terjadi di berbagai sektor dan mencolok mata. Dominasi in terus terjadi dari setiap masa kepemimpinan presiden di Orde Baru, Reformasi, dan saat ini. Ini betul-betul sebuah penghinaan!” cetusnya.

Di pemerintahan Jokowi pun tak jauh berbeda. Kisruh yang ramai ini pun, sejatinya ditunjukan kepada presiden asal Solo tersebut. Uniknya, kali ini Jokowi angkat bicara menanggapi kritik yang dilontarkan Amien pada acara Rapat Pimpinan Nasional Partai Perindo yang diselenggarakan minggu lalu.

 Benang Merah Luhut dan Amien

Terlepas dari perbedaan yang signifikan, baik Amien dan Luhut adalah tokoh-tokoh yang mengedepankan demokrasi sebagai hal yang inheren dengan usaha mempertahankan negara. Bahkan untuk Amien, yang kerap memainkan isu identitas, demokrasi adalah hal yang harus diperjuangkan. Demokrasi jugalah yang membuat mantan sohib Goenawan Mohammad ini tak luput menyamakan Indonesia dengan Amerika Serikat.

Selain itu, bagi keduanya, Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah momok yang harus dilibas. Luhut sebagai purnawirawan TNI sempat berbangga pernah terlibat dalam usaha penumpasan PKI. “Tapi jangan dibesar-besarkanlah kalau menurut saya. Saya ngalamin dari mulai saya SMA. Saya dulu ikut penumpasan PKI, jadi lihat semua. Bahwa kita waspadai, iya,” jelasnya.

Sementara Amien, tentu sudah bergenerasi diturunkan ide soal PKI di Muhammadiyah. Bagaimana tidak, Muhammdiyah disinyalir menjadi salah satu kelompok Islam yang terlibat dalam penumpasan PKI. Amien kerap melemparkan adanya kebangkitan PKI menghiasi pemerintahan Jokowi, sebagai kritik sekaligus tanda betapa pamalinya keberadaan hal tersebut. Dengan demikian, walau terlihat berseberangan sebetulnya Amien dan Luhut masih berada dalam satu frekuensi ideologi, yakni demokrasi dan anti-PKI.

Tak hanya itu, walau di awal tulisan, respon Luhut dan Amien seolah-olah dikontraskan – yakni Amien tenang, sementara Luhut cenderung emosi, namun melalui kacamata Johan Budi keduanya sama belaka. Salah satu anggota staf ahli Presiden Jokowi ini berkata keduanya sama-sama blak-blakan alias terbuka, “Keduanya sama-sama blak-blakan gaya bicaranya,” jelas Johan Budi.

Benang merah secara ideologis dan sikap ini, sebetulnya bisa saja menghilangkan batas di antara keduanya sebagai lawan politik. Tetapi, seperti apa yang dikatakan oleh Brian Mulroney, mantan Perdana Menteri Kanada, dalam politik yang dibutuhkan memang hanya dua, teman dan yang paling penting, adalah lawan, “in politics, you need two things: friend and above all enemies”

Jika keduanya berteman, barangkali opera sabun dengan respon terpanjang ini, tak akan pernah hadir. (A27)