Ofensif, Jokowi Takut Kekuatan Prabowo

Ofensif, Jokowi Takut Kekuatan Prabowo
Tingkat elektabilitas yang tipis di atas 50 persen nyatanya tidak aman untuk seorang petahana. (Foto: istimewa)
7 minute read

Aksi-aksi politik Jokowi belakangan ini memang di luar dari biasanya. Ia cenderung lebih agresif “menyerang” lawan politiknya lewat pernyataan-pernyataan ofensif, misalnya lewat sebutan politisi sontoloyo dan genderuwo. Istilah-istilah itu berada di luar zona politik Jokowi yang biasanya halus dan santun, serta terkesan menjadi “serangan untuk bertahan”. Elektabilitas dirinya yang hanya tipis berada di atas 50 persen – angka yang tidak aman untuk petahana – sangat mungkin menjadi alasan Jokowi berani keluar dari zona politiknya yang nyaman.


PinterPolitik.com

“Attack is the secret of defense; defense is the planning of an attack.”

:: Sun Tzu ::

Strategi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan ini oleh beberapa pihak disebut cenderung makin ofensif dan terbuka menyerang lawan-lawan politiknya.

Perubahan sikap ini dianggap sebagai hal yang cukup mengejutkan karena keluar dari pakem politik Jokowi yang selama ini dianggap santun, sopan dan cenderung sophisticated atau rumit dengan segala simbol politiknya.

Beberapa waktu belakangan ini memang publik disuguhkan oleh beberapa istilah yang digunakan Jokowi sebagai bahasa komunikasinya. Sebelumnya publik mendengar istilah “politikus sontoloyo” yang digunakan oleh Jokowi untuk menyebut lawan-lawannya yang kerap menyinggung program pemerintah sebagai alat pencitraan dan mempengaruhi pemilih dalam konteks Pilpres yang sudah di depan mata.

Survei Kompas menunjukkan bahwa Prabowo mampu mengkapitalisasi isu politik dan meraih suara pemilih mengambang (swing voters) lebih banyak dibandingkan Jokowi. Click To Tweet

Sementara, yang terbaru, aksi ofensif itu ditunjukkan lewat istilah “politikus genderuwo”. Istilah ini ia gunakan untuk menyebut lawan politiknya yang kerap menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat.

Tentu saja dalam konteks tersebut, pihak yang paling sering menggunakan “politik ketakutan” itu adalah Prabowo Subianto yang akan menjadi lawan tempur Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Narasi politik Prabowo tentang kehancuran Indonesia di 2030, kebocoran kekayaan negara, ketimpangan sosial yang makin besar, serta harapan hidup sejahtera yang makin susah terpenuhi adalah bagian dari politik ketakutan yang disinggung Jokowi itu.

Tentu saja serangan-serangan politik yang tidak biasa dari petahana ini menimbulkan pertanyaan. Apakah Jokowi kini telah menggunakan pendekatan yang berbeda untuk melawan Prabowo? Atau ini hanya bagian lain dari ekspresi politik sebagai bentuk kekesalan sesaat saja?

Ofensif adalah Cara Bertahan Terbaik

Jika ditelusuri secara lebih mendalam, sejak pertama kali muncul ke hadapan publik sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo, konstruksi citra politik Jokowi memang lekat dengan latar belakangnya sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang cenderung sopan, halus, berusaha menghindari konfrontasi, dan suka akan simbol-simbol sebagai cara komunikasi yang tidak langsung.

F.X. Nadar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta menyebutkan bahwa salah satu karakteristik yang umum muncul dalam masyarakat Jawa adalah kemampuan menyembunyikan rasa atau hiding feelings.

Maka, tak heran jika konteks karakter politik Jokowi sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat Jawa yang tidak suka marah-marah, berbicara dengan nada yang lebih persuasif tanpa tekanan, serta menghindari konfrontasi.

Sangat jarang kita menyaksikan Jokowi marah-marah di depan publik, walau bukan berarti hal itu tidak pernah terjadi. Setidaknya, dalam konteks ini sifat Jokowi sangat jauh berbeda dibandingkan Prabowo yang kerap mengumbar amarah di panggung-panggung orasi politiknya.

Hal ini terlihat sangat jelas pada Pilpres 2014 lalu, di mana Jokowi memang tampil sebagai pemimpin yang halus, soft spoken dan menghindari konfrontasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Marcus Mietzner dari Australian National University (ANU).

Menurutnya, hal yang membedakan Jokowi dari tokoh lain – katakanlah dengan Prabowo – adalah sosoknya yang cenderung soft spoken dan tidak menawarkan konsep neo-otoritarian – yang cenderung konfrontatif – sebagai solusi terhadap status quo yang ada.

Mietzner menyebut kekuatan Jokowi terletak dari tawaran sikap politiknya yang rendah hati, sopan, mengedepankan etika kerja keras, spontan, serta kontra-naratif dengan arogansi – tanpa mengkonfrontasi hal tersebut.

Konteks ini membuat Jokowi dianggap lebih mampu merangkul semua pihak, berbeda dengan Prabowo yang justru menawarkan pembaharuan status quo dengan mengkonfrontir banyak kelompok – katakanlah yang ia sebut sebagai elite-elite yang “membocorkan kekayaan negara”.

Tentu saja jika berkaca dari istilah sontoloyo dan genderuwo, hal yang cenderung berbeda memang ditampilkan oleh Jokowi belakangan ini. Pasalnya, sebutan politikus sontoloyo dan politikus genderuwo adalah direct critique atau kritik langsung – sekalipun ia tidak menyebutkan siapa orang yang dikritiknya.

Hal ini tentu saja agak bertolak belakang dengan karakter Jokowi sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang cenderung menggunakan indirect critique atau kritik tidak langsung ketika berhadapan dengan suatu persoalan tertentu.

Bagi banyak pihak, konteks ini mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang-orang yang mengikuti garis politik Jokowi, tentu saja timbul pertanyaan terkait perubahan sikap politik yang demikian.

Pihak oposisi misalnya menggunakan momentum kata-kata Jokowi itu sebagai jalan untuk mengkritiknya dan menyebutkan bahwa sang presiden sedang “menunjukkan sifat aslinya”. Konteks ini kemudian dijadikan sebagai jalan untuk menjustifikasi bahwa selama ini apa yang ditampilkan oleh Jokowi di hadapan publik adalah “pencitraan”.

Pandangan tersebut tidak bisa dipermasalahkan karena memang itu adalah garis perjuangan oposisi. Namun, yang menjadi persoalan adalah mengapa strategi ofensif yang tidak terjadi pada Pilpres 2014 ini kini digunakan oleh Jokowi?

Ada beberapa pandangan yang bisa dijadikan penjelasan mengapa kini Jokowi menggunakan strategi yang lebih ofensif, entah sebagai serangan balik atau memang ditujukan benar-benar untuk menyerang.

Salah satu yang paling mungkin adalah pandangan yang umumnya percaya bahwa strategi bertahan dalam politik yang terbaik adalah dengan menyerang. “Attack is the secret of defense; defense is the planning of an attack,” demikian kata ahli strategi perang legendaris asal Tiongkok kuno, Sun Tzu.

Ini salah satunya ditulis oleh Craig A. Butler, seorang kolumnis untuk The Daily Lobo, sebuah surat kabar independen terbitan University of New Mexico, Amerika Serikat (AS). Konteks menyerang sebagai strategi untuk bertahan tersebut nyatanya punya akar sejarah yang cukup panjang, yang menurut Butler sudah ditulis oleh pemikir aliran realis macam Sun Tzu dan Niccolo Machiavelli.

Aplikasi konsep tersebut pun punya cakupan yang luas, mulai dari perang, kampanye politik, persaingan bisnis, hingga ke cabang olahraga seperti sepak bola. Untuk para penggemar bidang yang terakhir, tentu saja tidak asing dengan strategi ala pelatih Manchester City, Pep Guardiola yang menginternalisasi konsep “pertahanan terbaik adalah dengan menyerang” tersebut.

Beberapa pemimpin dunia pun sudah menerapkan hal ini, katakanlah seperti George Washington di AS dan Mao Zedong di Tiongkok. Konteks pemahaman terhadap strategi politik “bertahan lewat serangan” ini memang sangat aplikatif untuk menaklukan lawan-lawan politik maupun musuh di medan pertempuran.

Dalam konteks Jokowi, selama ini strategi kampanye yang ia pakai cenderung bersifat defensif. Jokowi selalu menggunakan strategi klarifikasi untuk meluruskan serangan-serangan isu yang dituduhkan kepada dirinya. Isu-isu seperti PKI, anti-Islam, anti-ulama, kegagalan ekonomi, dan lain sebagainya selalu ditangkis dengan penjelasan dan klarifikasi untuk meluruskan.

Jokowi sangat jarang menyerang secara langsung Prabowo misalnya, untuk mengulik kelemahan mantan Danjen Kopassus tersebut dan hal tersebut baru ia tunjukkan belakangan ini. Pertanyaannya, mengapa sekarang?

Jokowi Takut?

Alasannya sangat mungkin tergambar dari hasil survei Litbang Kompas beberapa waktu lalu. Hasil survei pada Oktober 2018 itu menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin hanya menyentuh angka 52,6 persen, berbanding 32,7 persen milik Prabowo-Sandiaga Uno.

Jika dibandingkan dengan survei Litbang Kompas pada Oktober tahun 2017, peningkatan dukungan terhadap Jokowi hanya menyentuh angka 6 persen. Bandingkan dengan dukungan untuk Prabowo yang mengalami peningkatan mencapai 3 kali lipat milik Jokowi dari 18 persen berdasarkan survei tahun lalu tersebut.

Artinya, Prabowo mampu mengkapitalisasi isu politik dan mampu meraih suara pemilih mengambang (swing voters) lebih banyak dibandingkan Jokowi. Gerakan #2019GantiPresiden, kritik-kritik di bidang ekonomi, dan serangan-serangan kampanye di akar rumput, nyatanya efektif mendongkrak elektabilitas Prabowo. Ini juga menunjukkan strategi kampanye defensif yang dilakukan oleh Jokowi tidak efektif meraih suara pemilih mengambang.

Apalagi, angka 52,6 persen ini belum tergolong aman untuk calon petahana. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjelang Pilpres 2009 misalnya, memiliki elektabilitas di atas 71 persen. Hal itu menjamin kemenangannya dengan perolehan suara di atas 60 persen saat pemungutan suara berlangsung.

Dengan demikian, Jokowi memang butuh strategi kampanye baru untuk mengamankan peluangnya terpilih lagi di Pilpres nanti. Strategi menyerang ini pun sangat mungkin dipilih untuk mengkapitalisasi keunggulan dirinya dibanding Prabowo dengan menggunakan hal-hal yang negatif dari kampanye politik sang jenderal, ketakanlah yang disebutnya sontoloyo dan genderuwo-is itu.

Ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Prabowo masih sangat kuat secara politik, sehingga memaksa Jokowi menggunakan cara yang keluar dari zona citra politik dirinya.

Namun, Jokowi juga perlu berhati-hati pada titik ini. Bagaimanapun juga, citra politik ke-Jawa-annya adalah salah satu faktor yang membuatnya unggul dibandingkan Prabowo pada Pilpres 2014 lalu.

Artinya, jika terjebak terlalu jauh dengan strategi sontoloyo genderuwo-is yang ofensif ini, sangat mungkin justru Jokowi-lah yang akan dirugikan karena kehilangan pemilih loyalnya.

Pada akhirnya, publiklah yang akan menentukan apakah strategi ofensif Jokowi ini berhasil atau tidak. Yang jelas, seperti kata Sun Tzu, menyerang adalah salah satu cara untuk bertahan dan memenangkan pertarungan. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)