Ofensif, Jokowi Bisa Seperti Ahok?

Joko Widodo (foto: istimewa)
7 minute read

Jokowi melakukan serangan balik kepada kelompok oposisi. Namun, jika terselip lidah akan ada bahaya yang menanti.


PinterPolitik.com

Kehadiran Joko Widodo (Jokowi) dalam dunia politik Indonesia adalah fenomena unik. Ia bukan lahir dari rahim elite atau petinggi militer. Di tahun 2014, Jokowi dengan segala kesederhanaannya datang ke kontestasi Pilpres dengan bermodalkan prestasi ketika menjabat sebagai wali kota Solo. Saat itu ia pun keluar sebagai pemenang.

Beberapa pihak menilai, kesantunan dan kesabaran Jokowi dalam menanggapi kritik adalah faktor penentu kemenangan politisi PDIP tersebut di Pilpres 2014. Lalu, bagaimana dengan hari ini?

Akhir-akhir ini, Jokowi nampak berbeda. Ia tercatat berulang kali menangkis fitnah dan serangan lawan politiknya dengan lontaran-lontaran kalimat tak biasa. Ia sempat menyebut istilah politisi “sontoloyo” karena resah dengan para politisi yang kerap gunakan segala cara untuk memenangkan Pemilu.

Selain itu, Jokowi pun sempat melontarkan kata-kata seperti “PKI balita”, “tempe tebal”, hingga “Tiongkok antek Indonesia” yang menjadi manivestasi sikap politiknya terhadap serangan oposisi.

Ekspresi politik semacam itu tentu mengherankan berbagai pihak. Jokowi, yang selama ini dikenal santun dan sabar, kini ikut bereaksi ketika dihujani oleh isu-isu negatif. Apalagi, selama ini Jokowi diketahui tak ambil pusing dalam menanggapi tuduhan-tuduhan lawan. Lalu, mengapa saat ini sang presiden mengeluarkan ekspresi seperti itu?

Beberapa tokoh oposisi pun kini malah mengaitkan ucapan sontoloyo Jokowi dengan moralitas dan kebijaksanaan Jokowi selaku seorang presiden. Apakah serangan balik ini akan berdampak ke Jokowi?

Ekspresi Jokowi, Bentuk Kekhawatiran?

Tidak bisa dipungkiri bahwa Jokowi memang dihujani oleh berbagai isu negatif sejak tahun 2014 lalu. Mulai dari isu keturunan Tionghoa dan PKI, hingga dituduh sebagai antek asing dan aseng. Tak main-main, menurut beberapa lembaga survei isu tersebut berhasil mempengaruhi sebagian masyarakat Indonesia.

Survei SMRC mengatakan 5,1 persen masyarakat percaya Jokowi adalah PKI, sedangkan di survei Indo Barometer angka kelompok terbut berada di kisaran 5,8 persen. Sekalipun jumlah ketidakpercayaan terhadap isu tersebut jauh lebih besar, tetapi hasil survei ini telah membuktikan bahwa isu-isu negatif tersebut berhasil mempengaruhi penilaian masyarakat.

Jokowi sendiri sudah menunjukkan kekhawatiran tersebut. Pada saat berpidato di Kongres XX-2018 Wanita Katolik Republik Indonesia, ia bereaksi. Misalnya, ia mengatakan bahwa ada 9 juta masyarakat Indonesia yang percaya kalau dirinya adalah anggota PKI. Jokowi membantah hal itu dengan mengatakan ketika PKI dibubarkan, ia masih balita.

Jokowi juga berusaha menangkis tuduhan bahwa ia adalah antek asing dengan membandingkan jumlah pekerja Indonesia di Tiongkok yang jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah pekerja Tiongkok di Indonesia. Ia bahkan menyatakan bahwa justru pemerintah Tiongkok-lah yang telah menjadi antek Indonesia.

Tidak berhenti di situ, ekspresi politik Jokowi berlanjut pada saat ia blusukan di pasar tradisional di daerah Bogor. Ia mengatakan bahwa tempe di pasar masih tebal. Harga-harga di pasar masih relatif stabil. Bahkan menurutnya beberapa harga bahan pokok justru turun.

Satu per satu ekspresi politik dan bantahan tersebut mengindikasikan bahwa Jokowi khawatir dengan permainan isu-isu negatif di tengah masyarakat yang sangat mungkin menyebabkan masyarakat tidak tahu lagi mana informasi yang benar dan mana yang salah. Maka jika Jokowi tidak angkat suara untuk mengklarifikasi, bukan tak mungkin, semakin banyak masyarakat yang terpengaruh dengan isu-isu semacam itu.

Terkait hal tersebut, politisi PDIP, Budiman Sudjatmiko, pernah menuding kubu Prabowo menggunakan strategi Presiden Donald Trump saat memenangkan Pilpres Amerika Serikat (AS) 2016. Budiman menerangkan, strategi politik yang dimaksud disebut sebagai Firehose of Falsehood, yakni memanfaatkan kebohongan sebagai alat politik.

Di AS, Donald Trump memang kerap kali memproduksi kebohongan sebagai alat untuk mengalahkan Hillary Clinton. Sejumlah penelitian menyebutkan perilaku Trump tersebut membuat masyarakat bimbang dan pada akhirnya mempercayai pemberitaan yang beredar. Bahkan, ketika sudah dilakukan fact checking, hal tersebut tidak mengubah opini dari konstituen. (Baca: Firehose of Falsehood Prabowo, Jokowi Waspada)

Pada titik ini, terbukti, taktik Firehose of Falsehood telah berhasil mengantarkan Donald Trump ke Gedung Putih. Seperti kata Budiman, Prabowo dan kubunya sangat mungkin menggunakan taktik serupa untuk memenangkan Pilpres 2019.

Jika tudingan Budiman benar, bukan tak mungkin kelompok oposisi memang bisa dianggap berada di balik isu-isu negatif yang selama ini menyerang Jokowi. Apalagi selama ini, politisi-politisi di kubu Prabowo seperti Amien Rais sering kali mengaitkan Pilpres 2019 dengan isu kebangkitan PKI.

Maka, bisa saja ekspresi politik akhir-akhir ini merupakan langkah Jokowi untuk menghadapi taktik politik oposisi agar ia tidak bernasib seperti Hillary Clinton di AS. Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah, sudah tepatkah langkah Jokowi tersebut?

Jokowi Harus Waspada

Langkah Jokowi dalam menanggapi kritik dan tuduhan dengan kata-kata yang mulai keras terbilang berani. Ia pun tak sekedar menanggapi kritik, melainkan juga melakukan serangan balik. Jokowi mungkin akan diuntungkan dengan hal tersebut, tetapi bukan berarti ia sudah memenangkan wacana. Hal ini dikarenakan, perlawanan Jokowi dalam bentuk kata-kata justru menjadi celah baru bagi kelompok oposisi untuk menghantamnya.

Hingga saat ini, kelompok oposisi sudah menghantam Jokowi karena ungkapan “politisi sontoloyo” sang presiden ketika ia berbicara di hadapan publik. Moralitas dan kebijaksaan disinggung oleh kubu Prabowo untuk mengkritik kata-kata Jokowi tersebut.

Fadli Zon misalnya bahkan membuat puisi berjudul “Sontoloyo” untuk menghantam balik Jokowi. Sementara, Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menilai Jokowi anti-kritik dan tidak santun. Sedangkan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono menilai Jokowi layak dilaporkan ke Polisi terkait ucapannya itu.

Dalam  konteks ini, terlihat bagaimana kelompok oposisi sangat lihai dalam memainkan kata-kata. Alih-alih ingin melakukan perlawanan, Jokowi justru dihantam balik dengan kata-kata yang pernah ia lontarkan di muka publik. Pada titik ini, kubu oposisi seolah menanti Jokowi mengalami slip of tongue.

Slip of tongue adalah keadaan ketika seseorang salah mengucapkan kata-kata. Hal ini mungkin terlihat biasa, tetapi di dalam politik, kesalahan mengucapkan kata bisa berakibat fatal.

Mantan Perdana Menteri Inggris, David Cameron pernah mengalami kesalahan fatal tersebut. Pada saat Pemilu di Inggris tahun 2015, Cameron membuat kesalahan dengan mengatakan bahwa kontestasi politik itu adalah momen untuk “menentukan karir”.

Padahal ia sebenarnya bermaksud mengatakan bahwa Pemilu akan “menentukan negara”. Alhasil karena kesalahan itu, Cameron mendapat kritik dari berbagai pihak. Ia dianggap mengedepankan urusan karir pribadi dibandingkan memprioritaskan negara.

Di Indonesia, slip of tongue atau kesalahan dalam berkata-kata pernah dialami oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pada tahun 2016, Ahok bereaksi terhadap isu-isu agama yang dimainkan pada Pilkada DKI. Sebagai salah satu kandidat dalam Pilkada, Ahok berusaha menjawab isu tersebut dengan mengatakan kalau sekelompok orang telah memanfaatkan surat Al-Maidah untuk mengalahkannya di Pilkada.

Alih-alih meng-counter isu-isu agama, Ahok justru seperti “terpeleset” dengan ucapannya sendiri. Ia didemo berkali-kali oleh puluhan ribu massa dengan tudingan telah menistakan agama Islam. Alhasil, Ahok pun kalah di Pilkada DKI dan mendekam di penjara karena diputuskan bersalah pada kasus tersebut.

Berkaca pada kasus Ahok, apakah mungkin Jokowi bisa bernasib serupa? Tentu saja mungkin. Hal itu dikarenakan akhir-akhir ini sang presiden sangat reaktif menanggapi isu-isu dari kelompok oposisi. Bukannya mendapatkan keuntungan, Jokowi justru dihantam oleh lawan dengan ucapan yang pernah ia keluarkan sendiri.

Atau mungkin bisa saja, isu-isu miring tentang Jokowi memang sengaja diproduksi oleh kelompok oposisi untuk memancing Jokowi mengeluarkan kata-kata tak pantas. Sehingga, bukan tak mungkin Jokowi pun akan bernasib seperti Ahok jika tak pintar membaca taktik politik semacam itu.

Maka bisa disimpulkan bahwa serangan balik Jokowi terhadap kelompok oposisi tidak sepenuhnya memberikan keuntungan pada sang presiden. Jika tidak pintar berucap, kata-kata dari Jokowi justru bisa memakan tuannya sendiri.

Pada titik inilah, Pilpres 2019 bisa dikatakan tak lebih dari politik permainan kata-kata – hal yang pernah diungkapkan oleh pengamat politik Rocky Gerung dalam sebuah acara di televisi. Menarik untuk ditunggu apa yang akan dilakukan oleh Jokowi setelah ini. (D38)