New Prabowo, Dulu Nggak Asik?

New Prabowo, Dulu Nggak Asik?
Presiden Jokowi dan Prabowo Subianto. (Foto: Dok Rayapos)
2 minute read

“Telah berlalu show politik permainan citra, sebab rakyat sudah terlatih memisah dusta dari kata.” ~Najwa Shihab


PinterPolitik.com

Menjelang Pemilu para calon sangat disibukkan dengan pencitraan, new branding-lah istilah kerennya. Hal tersebut diharapkan dapat menarik suara pemilih milenials yang katanya akan mencapai 60 juta – 70 juta orang.

Wow, ternyata pemuda Indonesia banyak ya. Tapi kok nggak ada yang nyantol barang satu pun untuk nikahin akohh. Berat hidup menjomblo tuh, beratttt. Eh maap malah curhat. Hiks~

Jadi, beberapa waktu lalu Sandiaga Uno sempat menyebut-nyebut soal The New Prabowo. Eh tapi jangan berpikir Prabowo berubah kayak Power Rangers gitu ya. Di sini yang baru adalah karakternya Prabowo, yang menurut Sandi lebih asik, cair, menghormati, dan mau mendengarkan.

Hmm, sebagai kaum milenials mungkin kutak terlalu paham bagaimana tabiat eks Danjen Kopassus yang dulu ya. Tapi dari branding yang dibangun Sandi, sepertinya kusudah cukup paham. Kalau sekarang dibilang Prabowo asik, berarti dulu nggak asik. Sekarang dibilang cair, berarti dulu doi benda padat. Kalau sekarang sudah mau mendengarkan pendapat orang, apa dulu Prabowo nggak bisa dengar? Hehehe. 

Ehh, begitu nggak sih? Ya, kan kalo ada konsep “new” berarti ada konsep “old”. Kalau sekarang begini, ya dulu bisa jadi kebalikannya. Betul nggak? Itu kalau merunut logikanya Babang Ganteng lho. Bukan diriku seorang. Hehehe.

Tidak mau kalah, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet juga ingin memproklamirkan tentang The New Jokowi. Hm, tapi kalau boleh usul, apa nggak sebaiknya jangan sama? Bagaimana kalau pakai istilah Jokowi Reborn? Biar terlihat otentik, nggak nyama-nyamain gituh…

Menurut Bamsoet, Jokowi telah sukses menunjukkan citra diri yang berbeda selama empat tahun masa kepemimpinannya sebagai presiden. Tapi pas ditanya apa yang baru dari Jokowi, dia hanya menjawab: “Apa yang dilakukan hari-hari ini, ya itulah.”

Hmm, maksudnya Pak? Wkwkwkw *Lanjut suara jangkrik~

Kalau menurut Carl Gustav Jung, pertemuan dua kepribadian itu seperti hubungan dua bahan kimia; jika terjadi reaksi, keduanya akan berubah. Di masing-masing pasangan ada sosok generasi muda dan ada sosok generasi tua. Kira-kira generasi mana yang akan lebih berpengaruh terhadap citra mereka? Gimana menurut kalian? (E36)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here