Nasib Buruk LRT Palembang

lrt palembang
LRT Palembang. (Foto: Katadata)
3 minute read

“Hidup itu simpel, yang bikin ribet itu gengsi.” ~Anonim


PinterPolitik.com

Segala hal kalau dilakukan hanya untuk gengsi dan hawa nafsu pasti ujungnya nggak baik. Perlu bukti? Yuk, tengok Light Rail Train (LRT) di Palembang. Bagaimana kabarnya?

Sekadar bernostalgia, ya. Dulu LRT dirancang, katanya untuk menyukseskan Asian Games. Palembang kan menjadi salah satu wajah Indonesia yang akan disorot dunia internasional, kurang asyik kan kalau sepi fasilitas dan infrastruktur.

Asian Games telah berlalu. Euforia membanggakan dirinya telah selesai. Lantas, bagai nasib LRT kemudian?

Sebenarnya, selain untuk mengenyangkan gengsi kita di mata dunia, pembangunan LRT ini juga ditujukan untuk investasi masa depan. Takutnya, di masa depan Palembang jadi makin padat dan macet seperti di Jakarta. Kalau sudah ada LRT kan jadi aman. Hmm, tapi apa iya semenguntungkan itu?


Dengar-dengar, pemerintah masih terus memberikan subsidi untuk mempertahankan operasional kereta api layang tersebut. Dan ternyata dananya itu nggak sedikit, bisa Rp 9 miliar per bulan. Kira-kira bakal sampai kapan pemerintah nombok terus?

Kubu oposisi sudah sempat protes nih. Mereka menanyakan, dulu perencanaannya bagaimana? Harusnya dilihat urgensinya. Memang semacet apa Palembang sampai butuh LRT? Kalau masyarakat Palembang memang benar-benar butuh LRT, harusnya yang memakai banyak. Pemerintah nggak akan terus-terusan menombok biaya operasional. Biaya subsidi bisa dipakai untuk hal penting lainnya.

Tidak hanya oposisi, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga turut mengkritisi transportasi massal tersebut. Karena kenyataannya memang tidak berjalan efisien. Yang pakai hanya turis lokal, yang hanya coba satu kali, kemudian sudah.

LRT Palembang itu ibarat karya seni, untuk background selfie, cekrek, upload, selesai... Click To Tweet00

JK pun bertanya-tanya, apa gunanya LRT Palembang ini? Kalau untuk mengangkut orang, tentu menjadi kurang efisien. Kalau dibangunnya di pulau Jawa mungkin akan lebih berguna. Penduduknya bejibun, sampai 160 juta jiwa, yang pakai bisa jadi banyak.

Pembangunan proyek mercusuar untuk menyambut sebuah pesta olahraga memang bukan hal yang baru. Bung Karno pun pernah bangun ini itu sampai negara jadi krisis demi bisa dilihat sangar di mata dunia ketika pagelaran Asian Games. Namun, bukankah akan lebih baik jika setiap mau bangun ini itu, dimatangkan dulu konsepnya, secara teknis maupun ekonomi. Biar nggak buang-buang uang aja.

Coba tengok infrastruktur yang dibangun untuk perhelatan Olimpiade Rio de Janeiro, sekarang bagaimana? Tak terurus dan tak berguna. Di negara-negara lain pun banyak yang nasibnya serupa.

Okelah, yang lalu biarlah berlalu. Tapi pemerintah juga harus ingat, jangan mengulangi kesalahan yang sama, membangun infrastruktur hanya demi gengsi, apalagi hanya untuk bisa dipilih lagi di Pilpres. (F41)