“Mother Of Satan”, Senjata Teroris Meledakan Dunia

6 minute read

TATP ditemukan pada 1895 oleh seorang ilmuan Jerman, Richard Wolfenstein. Kekuatannya dalam jumlah yang sama lebih besar daripada TNT. TATP kali pertama digunakan di Indonesia pada Oktober 2015. Pembuatnya adalah Leopard Wisnu Kumala. Bom jenis ini lebih mudah dibuat, dan susah untuk dideteksi. Inilah mengapa TATP disebut sebagai Ibunya Setan alias ‘Mother of Satan.’


PinterPolitik.com

Hampir satu pekan sudah teror bom bunuh diri yang meledak di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutnya sebagai ibunya setan alias Mother of Satan. Bom tersebut merupakan jenis bom yang sering digunakan kelompok ekstremis ISIS.

Dari tangan R alias B, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua unit telepon genggam, uang sebesar Rp 1,8 juta, dompet berisi KTP, kartu ATM dan BPKB sepeda motor. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, dua pelaku bom Kampung Melayu, Ahmad Sukri (AS) dan Ichwan Nurul Salam (INS) adalah anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Yang menjadi pendukung utama ISIS melalui Bahrun Naim yang kini berada di Raqa, salah satu kota di Suriah.

Bom ‘Mother Of Satan’ atau yang mempunyai nama asli triacetone triperoxide (TATP) adalah salah satu ciri khas dari teror bom yang didalangi jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). TATP ini lebih berbahaya dari trinitrotoluena (TNT). Jika TNT membutuhkan detonator, TATP hanya butuh panas atau getaran untuk diledakkan.

Bagaimana ‘Mother Of Satan’ ini bekerja? Mari kita ulas lebih dalam

Mengenal “Mother Of Satan”

Mother Of Satan Senjata Teroris Meledakan Dunia

Mother Of Satan’ atau yang mempunyai nama asli triacetone triperoxide (TATP) telah digunakan para militan dan teroris dalam beberapa dekade terakhir. TATP adalah salah satu bom yang sulit dibuat dan mematikan. Walaupun demikian, bahan-bahan untuk membuatnya sangat mudah dicari.

Bentuk senyawa kimia TATP ini berupa serbuk dengan butiran seukuran gula pasir.TATP ini memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap suhu udara di atas 86 °C, gesekan benturan dan aliran listrik. TATP tidak larut dalam air dan baunya menyerupai aseton.

TATP ditemukan pada 1895 oleh seorang ilmuan Jerman, Richard Wolfenstein. Kekuatannya dalam jumlah yang sama lebih besar daripada TNT. Namun, berbeda dengan TNT, TATP sangat sensitif dan tidak memerlukan detonator untuk meledakkannya. Karena faktor sensitif dan ketidakstabilan itulah, TATP tidak pernah dipakai militer atau pemakaian komersial lainnya, tidak seperti TNT.

TATP kali pertama digunakan di Indonesia pada Oktober 2015. Pembuatnya adalah Leopard Wisnu Kumala. Dia tidak lain merupakan pelaku dari teror di Mal Alam Sutera. Kerusakan dari TATP dalam jumlah besar bisa lebih merusak dibanding TNT dalam jumlah TATP yang sama. Bom jenis ini lebih mudah dibuat, dan susah untuk dideteksi. Inilah mengapa TATP disebut sebagai Ibunya Setan alias ‘Mother of Satan.’

Bukti betapa sulitnya TATP terdeteksi adalah pada kasus percobaan bom bunuh diri Umar Farouk Abdulmutallab pada 25 Desember 2005. Ketika itu, Farouk naik pesawat Northwest Airlines dalam penerbangan dari Amsterdam menuju Detroit. Di balik celana dalamnya, ada paket peledak 15 cm yang terdiri atas campuran TATP dan PETN. Serangan menjelang pesawat landing itu gagal karena bom tidak meledak. Hanya paha Farouk yang terbakar.

Baca juga :  Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri Mulai Menjamur?

Mengurai jaringan Jamaah Ansharut Daulah

 

Kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD) dituding polisi sebagai biang keladi ledakan di Kampung Melayu. Untuk kesekian kali JAD, yang telah berikrar setia kepada ISIS, menjadi motor utama penggerak aksi teror di tanah air belakangan ini. Kelompok ini diyakini polisi dimotori oleh Amman Abdurrahman. Amman kini mendekam di Nusakambangan setelah di vonis 9 tahun buntut kasus pelatihan teroris di Aceh pada 2010.

JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2015 dan terdiri dari hampir dua lusin kelompok ekstremis Indonesia yang menjanjikan kesetiaan kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi.

Pada Januari 2017, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengeluarkan pernyataan yang mengategorikan JAD sebagai kelompok di Indonesia yang paling mendukung ISIS. JAD juga disebut sebagai organisasi payung yang terdiri dari ratusan simpatisan ISIS yang berada di seluruh penjuru Indonesia.

Indonesia seakan dikepung oleh organisasi Islam garis keras yang menyebarkan faham radikalisme dan kekerasan. Ada tiga organisasi radikal bbesar di Indonesia, Pertama, Jamaah Islamiah yang targetnya adalah negara-negara barat. Kedua, Tauhid Wal Jihad yang targetnya semua orang yang tidak sehaluan dan dicap kafir. Ketiga, Negara Islam Indonesia (NII), namun kini hanya sekelompok kecil saja yang melakukan kekerasan.

JAD ini masuk ke dalam 21 kelompok pendukung ISIS bersama kelompok radikal lain seperti Majelis Mujahidin Indonesia Timur dan Mujahidin Indonesia Barat, Ikhwan Muahid Indonesi fil Jazirah al-Muluk, Khilafatul Muslimin dan lainnya.

Nama JAD mulai dikenal setelah bom Sarinah pada awal tahun 2016. Walaupun menjanjikan kesetiaan kepada pemimpin ISIS, namun JAD merupakan kelompok sel yang tidak memiliki jaringan langsung ke ISIS. Namun, berkat kesamaan ideologi, mereka melakukan sejumlah aksi teror di Indonesia.

Amman sebelumnya merupakan salah tokoh dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Bersama Abu Bakar Ba’asyir, Aman membuat kamp pelatihan perang di Aceh. Tujuannya untuk menyiapkan perang membela ISIS. Dukungan JAT terhadap ISIS disuarakan secara terbuka oleh Abu Bakar Ba’asyir pada 2014. Namun setelah jaringan JAT bubar, sebagian bekas anggotanya mengikuti Amman untuk mendirikan JAD dan kini  sel JAD terus berkembang.

Baca juga :  Menengok Terowongan Gerilya ISIS

Iqbal Kholidi, pemerhati terorisme di Indonesia mengatakan bahwa JAD merekrut orang-orang di Indonesia, termasuk pembom di Kampung Melayu. Meski demikian, munculnya jaringan baru ini tidak terlalu banyak berpengaruh, sebab ISIS ialah gerakan transnasional yang sudah berwujud nyata kekhilafahan. Pada fase ini, jaringan ISIS di Indonesia sudah tidak penting lagi, sebab khilafah sudah terbentuk.

Mempertanyakan Kinerja BNPT

Untuk menangani terjadinya serangan teror, Pemerintah Indonesia kemudian membentuk Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)  berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010. BNPT dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada presiden. Pada awalnya jabatan Kepala BNPT setingkat eselon I.a. Namun sejak diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2012 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 46 Tahun 2010 Tentang Badan Penanggulangan Terorisme, jabatan Kepala BNPT naik menjadi setingkat menteri.

BNPT bertugas untuk menyusun kebijakan, strategi, dan program nasional di bidang penanggulangan terorisme, mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait dalam pelaksanaan dan melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme, dan melaksanakan kebijakan di bidang penanggulangan terorisme dengan membentuk satuan-satuan tugas yang terdiri dari unsur-unsur instansi pemerintah terkait sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing. Bidang penanggulangan terorisme meliputi pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, penindakan, dan penyiapan kesiapsiagaan nasional.

Namun melihat kejadian bom di Kampung Melayu, kinerja BNPT pun dipertanyakan. Bagaimana bisa sebuah badan penanggulangan teror tidak bisa mendeteksi bahwa akan terjadi aksi teror yang membuat rakyat resah.

“BNPT seharusnya sudah bisa mendeteksi. Saya pertanyakan di sini Ketua BNPT yang baru, mana progresnya? Apa kerjanya kok selama ini diam-diam saja? Tidak ada suatu hal yang dilakukan, mana program-programnya? Sementara BNPT itu mitra kita juga. Kita tidak melihat peran yang berarti dari BNPT,” kata anggota Komisi III DPR Wihadi Wiyanto.

Selain Wihadi, anggota Komisi I DPR, Muhammad Syahfan Badri Sampurno pun menyatakan kurang puas terhadap kinerja BNPT. Syahfan juga mempertanyakan apakah sudah demikian canggihnya praktik terorisme di Indonesia, sehingga beberapa lembaga yang menangani masalah terorisme seperti BIN, BNPT, Densus 88 belum juga memberikan hasil maksimal dalam menanggulangi aksi terorisme.

Maraknya serangan teroris membuat Indonesia harus bisa menjaga negara lebih baik lagi. Revisi UU Antiterorisme juga harus segera rampung. Jika semua berjalan lambat, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan disusupi aksi teror kembali. (A15)

Share On