Mesranya Jokowi-Ulama di Istana

Mesranya Jokowi-Ulama di Istana
Istimewa
2 minute read

“Sebagai Presiden, beliau yang mungkin paling sering mengunjungi pondok pesantren dan ulama. Tak hanya itu, tapi juga menerima tokoh-tokoh masyarakat dari agama lain. Hampir semuanya diterima di Istana.” ~ Sekretaris Kabinet, Pramono Anung.


PinterPolitik.com

Kiranya agak beda Presiden kita yang satu ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) termasuk yang paling gemar mengunjungi pesantren-pesantren saat blusukan ke daerah. Dan adakalanya, justru ulama-ulama dari berbagai daerah yang berkunjung datang untuk ngupi-ngupi cantik di Istana Kepresidenan. Gak sekalian Nobar Liga Inggris Pakde? Biar seru, hahaha.

Ngobrolin apa ya kira-kira ulama-ulama ini di Istana? Mmm, berhusnudzon aja lah ya, siapa tau di Istana banyak bisikan “hantu-hantu gentayangan”, jadi perlu bantuan ulama buat ngusir. Wadezig. Itu mah dulu di pemerintahan sebelumnya. Eh tunggu dulu, maksudnya pemerintahan zaman Belanda gitu loh.

Emang gak bisa dipungkiri, mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Dan kenapa kemudian ulama diterima diajak duduk ngupi-ngupi cantik di Istana, ya karena Pakde Jokowi ingin mendengarkan suara-suara masyarakat muslim tentang banyak hal.

Mudahnya nih ya, kalau kamu mau tau tentang bagaimana cara bikin sate yang enak, ya masa iya kamu tanyanya sama abang yang jual siomai. Begitu lah kira-kiranya. Jalan pikiran Pakde Jokowi sesederhana itu kok. Gak ngebulet kayak Pak Mantan yang satu itu, ups.

Kemarin, Selasa (13/3) ada 39 ulama dari Kalimantan Selatan (Kalsel) bercengkrama di Istana untuk bertemu dengan Pakde Jokowi. Mereka berasal dari sejumlah organisasi, di antaranya Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel. Wuih, banyak juga ya.

By the way, anyway, busway, ulama yang lagi di Arab Saudi itu gak ikut diundang juga nih Pakde? Ajaklah beliau sesekali. Kician kali dia hijrah sendiri di sana gak ada teman. Kalau dia kelamaan di sana, kita-kita yang merindukan dia bisa lupa sama sosoknya loh. Jangan-jangan wajahnya suatu saat hanya tersimpan di ingatan kolektif aja. Mentok-mentok, jadi lukisan dan dipajang di dinding rumah pemujanya. Hu hu hu, kok jadi sedih ya. (K16)

Share On