Meraba Kesaktian “Pusaka Jawa” Jokowi

Meraba Kesaktian Pusaka Jawa Jokowi
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di halaman Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri. (Foto: Setkab)
6 minute read

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap perlu menggunakan strategi politik ala Jawa untuk menguatkan kepresidenannya. Namun, apakah strategi tersebut benar-benar mampu menguatkannya?


PinterPolitik.com

“Treasure bring misery” – Future, penyanyi rap asal Amerika Serikat

Setelah sempat menganggap Thanos sebagai musuh bersama bagi banyak negara, Presiden Joko Widodo (Jokowi) kini tampaknya malah mulai meniru metode yang dilakukan karakter komik Marvel tersebut. Mantan Wali Kota Solo tersebut dinilai tengah mengumpulkan pusaka-pusaka untuk memperkuat dirinya.

Setidaknya, anggapan seperti itulah yang diungkapkan oleh Aris Huang dalam tulisannya di New Mandala. Huang menilai bahwa rekonsiliasi atau politik “kumpul kebo” (kumbo) antara Jokowi dan Prabowo Subianto beberapa bulan lalu merupakan bagian dari strategi politik ala Jawa.

Pertemuan yang dilakukan di Stasiun MRT (Moda Raya Terpadu) Jakarta dan diakhiri dengan santap bersama di Senayan dianggap sebagai ritual penting. Huang menganalogikan pertemuan tersebut sebagai ritual yang menunjukkan kesaktian Jokowi dalam kontestasi politiknya dengan Prabowo.


Mungkin, seperti Thanos, Jokowi perlu melaksanakan ritual-ritual tersebut agar dapat mengumpulkan pusaka-pusaka ajaib. Dengan ritual tertentu, satu per satu pusaka akan memperbesar kekuatan yang dimiliki mantan Wali Kota Solo tersebut.

Dengan pusaka-pusaka tersebut, bukan tidak mungkin Jokowi akan menjadi sosok terkuat yang dapat mengalahkan siapa saja yang menantangnya. Bahkan, pahlawan-pahlawan super Avengers pun kewalahan menandingi kekuatan pusaka-pusaka ajaib.

Pertanyaannya, pusaka apa yang tengah dikumpulkan oleh Jokowi? Lalu, mengapa presiden membutuhkan kekuatan pusaka-pusaka ala politik Jawa tersebut?

Strategi ala Jawa

Presiden Jokowi bisa jadi memang membutuhkan pusaka-pusaka tersebut guna memperbesar kekuatan politik yang dimilikinya. Pasalnya, sebagai presiden yang berasal dari luar lingkaran oligarki dan elite politik, Jokowi dinilai perlu mengumpulkan kekuatan-kekuatan lain.

Kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014 memang membawa harapan baru bagi Indonesia. Angin segar dari kemenangan tersebut berasal dari latar belakang sang presiden yang bukan merupakan figur kuat dalam perpolitikan nasional.

Baca juga :
Hantu Sawit di Papua?

Dirk Tomsa dalam sebuah tulisannya di New Mandala menjelaskan bahwa status Jokowi sebagai politisi outsider dapat menjadi aral bagi pelaksanaan pemerintahannya. Selain harus berhadapan dengan lawan-lawan politiknya di lembaga legislatif, mantan Wali Kota Solo tersebut juga dinilai rentan terhadap pengaruh kekuatan-kekuatan oligarkis.

Dengan posisi politiknya yang lemah, apa yang dijelaskan oleh Huang dalam tulisannya bisa jadi memang diperlukan. Dalam arti lain, pusaka-pusaka (aktor politik lain) memiliki kekuatan tertentu perlu dikumpulkan oleh Jokowi.

Upaya pengumpulan kekuatan pusaka ini sebenarnya juga mencerminkan teori politik dalam budaya politik Jawa. Benedict Anderson dalam bukunya yang berjudul Language and Power menjelaskan bahwa budaya politik Jawa memiliki konsepsi kekuatan yang unik.

Anderson menjelaskan bahwa kebudayaan Jawa memiliki teori politik tersendiri yang berbeda dengan pemahaman politik milik Barat – khususnya konsepsi kekuatan yang dimiliki oleh Max Weber.

Setidaknya, terdapat empat sifat kekuatan dalam konsepsi Barat yang disebutkan oleh Anderson, yakni kekuatan yang berasal dari interaksi sosial, sumber kekuatan yang heterogen, tidak terbatasnya akumulasi kekuatan, dan ambiguitas moral yang dimiliki oleh kekuatan.

Akumulasi kekuatan Jawa lebih dilakukan dengan upaya mengonsentrasikan kekuatan. Click To Tweet

Sementara, konsepsi kekuatan dalam budaya politik Jawa memiliki perbedaan tersendiri. Kekuatan dalam pemahaman Jawa ini bersifat tidak terlihat (divine) berkaitan dengan sinergi alam semesta, homogen, konstan dalam jumlahnya, serta tidak memiliki legitimasi moral. Kekuatan dalam konsepsi ini juga tidak terbatas pada makhluk organik maupun non-organik.

Dengan sifat-sifat tersebut, kekuatan dalam konsepsi Jawa diakumulasi dengan cara yang berbeda pula dari konsepsi Barat. Anderson menjelaskan bahwa akumulasi kekuatan Jawa lebih dilakukan dengan upaya mengonsentrasikan kekuatan. Dalam tulisan tersebut, pemusatan kekuatan ini dianalogikan seperti sinar matahari yang diarahkan melalui kaca pembesar guna menghasilkan energi panas tertentu.

Jika ditarik pada kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh individu, seperti yang dijelaskan oleh Huang, kekuatan justru berasal dalam diri masing-masing individu. Oleh sebab itu, resep kekuatan Jawa justru berasal dari pengumpulan pusaka-pusaka sakral, yakni dengan mengumpulkan berbagai aktor politik di bawah naungannya.

Baca juga :
Misteri Sandi Calon Ketum PAN

Dalam kasus Jokowi, Huang menyebutkan bahwa Prabowo merupakan salah satu komponen dalam upaya pemusatan kekuatan presiden ala Jawa tersebut. Dengan ritual – dalam hal ini pertemuan – yang dilakukannya, Jokowi secara tidak langsung menunjukkan ke publik bahwa sang presiden telah berhasil mendapatkan kekuatan pusaka tersebut.

Selain Prabowo, Jokowi bisa jadi berusaha melakukan upaya pemusatan kekuatan dengan mengambil pusaka Jusuf Kalla (JK). Sang wakil presiden yang masa jabatannya akan segera berakhir tersebut kabarnya masih diinginkan oleh Jokowi perannya dalam pemerintahan sebagai ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

Pertanyaan selanjutnya yang kemudian timbul adalah sekuat apa hasil pengumpulan pusaka-pusaka tersebut. Apakah benar Jokowi dapat menjadi kuat dengan strategi politik ala Jawa ini?

Malah Terkikis?

Meski pengumpulan kekuatan-kekuatan pusaka ini dinilai dapat menguatkan kekuatan kepresidenan Jokowi, belum tentu juga sang presiden dapat benar-benar menjalankan kekuasaannya dengan bebas. Pasalnya, pusaka-pusaka tersebut justru dapat mengikis kekuatan Jokowi sendiri.

Selain Jokowi, upaya penyerapan dan pemusatan kekuatan pusaka ini pernah dilakukan oleh Presiden Soekarno. Anderson dalam bukunya menjelaskan bahwa sang proklamator berusaha memusatkan berbagai pusaka politik guna mewujudkan demokrasi terpimpinnya.

Upaya ini dilakukan dengan membentuk pemahaman politik NASAKOM – Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Anderson menyebutkan bahwa NASAKOM bukanlah sebuah upaya kompromi di antara tiga kekuatan politik yang berbeda, melainkan upaya Soekarno untuk mengonsentrasikan kekuatan-kekuatan tersebut pada dirinya.

Keinginan Soekarno untuk memusatkan NASAKOM tersebut bisa jadi beralasan. Anderson menjelaskan bahwa semakin besar perbedaan yang dimiliki di antara kelompok-kelompok politik dalam ritual pemusatan, semakin besar juga kekuatan yang dimiliki oleh pemilik ritual – baik kekuatan nyata maupun yang dipersepsikan.

Namun, upaya NASAKOM milik Soekarno ini mengalami kegagalan dengan dinamika politik yang terjadi di antara ketiga kekuatan tersebut. Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan tersebut adalah tumbuhnya kekuatan politik kalangan militer dan agama yang menganggap Soekarno terlalu memihak kubu komunis.

Lalu, bagaimana dengan upaya pengumpulan pusaka Jokowi?

Seperti Soekarno, Jokowi juga berupaya mengumpulkan berbagai kekuatan politik yang ada, dari partai-partai koalisinya hingga partai-partai lawannya yang dikabarkan akan ikut masuk ke dalam pemerintahannya. Namun, seperti Soekarno juga, pemusatan kekuatan ini bisa saja mengancam posisi Jokowi.

Baca juga :
Jokowi, Disrupsi Teknologi dan Dinosaurus

Ritual kumbo yang tengah dilakukan oleh Jokowi, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Prabowo misalnya, disinyalir menimbulkan ketidakpuasan tertentu di partai-partai koalisi lainnya. Nasdem, PKB, dan PPP sempat beberapa kali mengingatkan Jokowi perihal ritual kumbo tersebut.

Selain itu, pemusatan pusaka yang dilakukan Jokowi bisa saja malah mengikis ruang gerak sang presiden sendiri. Pusaka-pusaka tersebut boleh jadi memiliki kepentingan dan pengaruh politik tersendiri terhadap Jokowi.

PKB dan Nahdlatul Ulama (NU) misalnya, memiliki kekuatan tersendiri dalam memengaruhi keputusan calon wakil presiden Jokowi dalam Pilpres 2019 lalu. Bahkan, partai itu sempat dikabarkan pernah memberikan ancaman – berupa pengalihan dukungan – kepada sang presiden apabila cawapres pilihannya tidak sesuai.

Pengaruh kekuatan pusaka partai politik terhadap presiden juga pernah terjadi dalam proses penyusunan Kabinet Kerja jilid I. Harapan akan kabinet dapat diisi oleh kalangan profesional harus gugur akibat tekanan-tekanan dari partai politik dan Megawati.

Mungkin, berbeda dengan para raja Jawa yang mengoleksi banyak pusaka pada zaman dahulu, Jokowi tidak memiliki kekuatan serupa untuk menghalau kekuatan pusaka-pusakanya. Pasalnya, bagaikan Keris Mpu Gandring, pusaka-pusaka kekuatan tersebut bisa saja memiliki keinginan-keinginan sendiri yang dapat menghantui sang presiden.

Mungkin, seperti lirik rapper Future di awal tulisan, harta pusaka juga dapat membawa malapetaka, apalagi bila harta pusaka tersebut juga meminta jatah-jatah tertentu. Namun, tentu, semua bergantung pada bagaimana si pemegang pusaka merawat pusaka tersebut. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Facebook Comments