Mengintip Isi Kepala Fadli Zon

Mengintip Isi Kepala Fadli Zon
Foto : Tribunnews
7 minute read

Bagaimana seharusnya menilai sikap Fadli Zon yang terkesan vokal di media sosial terkait kritik dan pemikiran politiknya?


PinterPolitik.com

SONTOLOYO!
kau bilang ekonomi meroket

padahal nyungsep meleset

sontoloyo!

utang numpuk bertambah

rupiah anjlok melemah

harga-harga naik merambah

hidup rakyat makin susah

kau jamu tuan asing bermewah-mewah

rezim sontoloyo!

Begitulah sepenggal puisi ciptaan politisi Partai Gerindra, Fadli Zon sebagai ekspresi menanggapi kata sontoloyo yang terlontar dalam pidato presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu.

Tingkah polah wakil ketua DPR ini memang kerap kali mengundang kehebohan di ruang publik. Dengan gaya kritik yang sering memancing kontroversi, Fadli Zon bisa dibilang menjadi salah satu politisi iconic jebolan Gerindra, terutama menyoal komentar-komentarnya di media sosial.

Ada banyak yang mencibir, namun tidak sedikit pula yang mengagumi sosok politisi jebolan London School of Economics and Political Science (LSE) ini. Ia bahkan memiliki pengikut sebanyak 985 ribu di twitter dan 139 ribu di instagram. Tentu bukanlah jumlah yang sedikit.

Lalu bagaimana seharusnya menilai sikap Fadli Zon yang terkesan vokal di media sosial terkait kritik dan pemikiran politik dalam kacamata psikologi politik?

Mengintip Isi Kepala Fadli Zon

Fadli Zon Muda, Sang Intelektual

Semasa muda, tidak bisa dipungkiri Fadli Zon adalah sosok yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata teman sebayanya. Sejak SMA Fadli merupakan sosok unggulan secara kapasitas intelektual.

Setelah belajar selama dua tahun di SMA Negeri 31, Jakarta Timur, ia pernah mendapat beasiswa dari AFS (American Field Service) ke Harlandale High School, sebuah sekolah menengah umum yang terletak di kota San Antonio, Texas, Amerika Serikat.

Tak main-main, sekolah ini pun diklasifikasikan sebagai sekolah unggulan oleh lembaga pemeringkat University Interscholastic League atau UIL.  Fadli pun berhasil lulus dari sekolah ini dengan predikat summa cum laude.

Memilih kembali ke Indonesia ,ia melanjutkan studinya di program studi Sastra Rusia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Rekam jejaknya juga menunjukkan ia aktif dalam aktivisme politik kampus dengan memimpin berbagai demonstrasi dan menghidupkan kelompok-kelompok studi di dalam kampus UI era awal 1990-an.

Dalam hubungan di luar kampus, ia juga memiliki taring aktivisme dengan menjadi Sekjen dan Presiden Indonesian Student Association for International Studies (ISAFIS) pada tahun 1993 hingga 1995, salah satu organisasi prestisius di kalangan mahasiswa.

Secara mengejutkan, ia pun juga terlibat dalam kepengurusan pusat Gerakan Pemuda Islam di tahun 1996 hingga 1999, dan bahkan menjadi anggota Asian Conference on Religion and Peace (ACRP) sejak tahun 1996.

Dalam konteks akademik, ia juga pernah terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi  I Universitas Indonesia,  Mahasiswa Berprestasi III tingkat Nasional dan memimpin delegasi mahasiswa Indonesia dalam ASEAN Varsities Debate IV di Malaysia di tahun 1994.

Berkat kecemerlangan intelektual sosok Fadli Zon, ia juga berhasil mengenyam pendidikan di London School of Economics and Political Science (LSE), salah satu universitas terbaik dunia, di bawah bimbingan John Harris, salah satu professor politik terkemuka dunia dan Robert Wade, juga salah satu Professor Global Political Economy terkemuka dunia.

Dalam konteks publikasi, ia pun juga memiliki track record cemerlang. Ia pernah menerbitkan buku yang berjudul The IMF Game: The Role of the IMF in Bringing Down the Suharto Regime in May 1998, Politik huru-hara Mei 1998, dan Gerakan etnonasionalis: bubarnya imperium Uni Soviet.

Menariknya, semasa muda ia juga memiliki selera sastra yang terbilang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatanya dengan Teater Sastra UI. Beberapa publikasi tentang sastra pun pernah ditelurkan politisi Gerindra ini.

Di antaranya adalah buku yang berjudul Idris Sardi: Perjalanan Maestro Biola Indonesia, kumpulan puisi Mimpi-mimpi yang kupelihara: 1983-1991, Setelah Politik Bukan Panglima Sastra: Polemik Hadiah Magsaysay bagi Pramoedya Ananta Toer, dan Menyusuri Lorong Waktu. Fadli bersama seniman Basuki Teguh Yuwono juga pernah menerbitkan buku berjudul Keris Minangkabau.

Dengan melihat rekam jejak intelektual sosok Fadli Zon, tentu publik terheran-heran, mengapa kini ia lebih sering muncul dengan kritikan yang terkadang asal bunyi dan tak substansial. Ada apa dengan Fadli Zon?

Terjangkit Superioritas Ilusif?

Dalam konteks politik Indonesia hari ini, Fadli Zon yang kini menjabat sebagai wakil ketua DPR RI lebih sering tampil kontroversial dalam panggung politik nasional. Dengan menyerang pemerintah melalui kritik, sering kali nyinyiran Fadli dianggap sebagai retorika omong kosong oleh kubu pemerintah karena isinya yang sering kali tak substansial.

Sebuah kritikan pedas terlontar dari sosok politisi partai NasDem, Teuku Taufiqulhadi menyoal tanggapan puisi sontoloyo yang di ciptakan Fadli Zon. Ia menyebut bahwa Fadli terserang penyakit gejala sarumpaetisme.

Anggota Dewan Pakar NasDem tersebut menjelaskan bahwa gejala ini adalah sebuah sikap yang merasa benar sendiri, enggan menerima pandangan orang lain dan untuk memaksa kehadiran pikirannya dalam masyarakat, mau melakukan apa saja, termasuk berbohong.

Lalu benarkah Fadli Zon kini terjangkit gejala sarumpaetisme?

Dalam ilmu psikologis, David Dunning dan Justin Kruger dalam jurnalnya yang berjudul Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One’s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments menyebut kondisi ini sebagai bentuk bias kognitif yang mendorong munculnya superioritas ilusi atau yang dikenal sebagai efek Dunning-Kruger. Keadaan pikiran ini akan membuat seseorang gagal mengenali ketidakmampuan mereka sendiri dan keliru untuk menilai kemampuan kognitif mereka di luar kemampuan itu sendiri.

Seseorang yang menderita gejala ini akan selalu melihat orang lain inferior dan gagal tanpa melakukan diskusi yang mendalam. Dengan demikian, efek Dunning-Kruger dapat dikatakan sebagai keadaan otak manusia yang terus bekerja di bawah kesalahan logika.

Celakanya, kondisi ini sering terjadi pada masyarakat yang memiliki intelejensi tinggi misalnya dalam dunia akademis. Kecenderungan ketidakmampuan seseorang untuk menanggapi perbedaan pola pikir, paradigma dan kepercayaan bisa menjadi indikator kuat efek Dunning-Kruger.

Seseorang dikatakan gagal mengenali ketidakmampuan mereka sendiri karena ketidakmampuan itu membawa kutukan ganda. Jika seseorang tidak memiliki keterampilan untuk menghasilkan jawaban yang benar, ia juga dikutuk dengan ketidakmampuan untuk mengetahui kapan jawabannya, atau jawaban orang lain benar atau salah.

Pada akhirnya, seseorang itu tidak dapat mengenali argumen sendiri sebagai kesalahan, atau argumen orang lain lebih inferior dari argumentasi sendiri. Kini, efek Dunning-Kruger menjadi masalah serius di dunia akademis, bahkan dalam interaksi sosial saat ini.

Berdasarkan penjelasan diatas, bisa jadi lebih tepat menyebut Fadli Zon selama ini terjangkit gejala superioritas ilusif dibandingkan dengan sarumpaetisme jika merujuk pada perilaku politiknya yang terkadang tidak mencerminkan intelektualitas nya selama ini.

Mungkinkah superioritas ilusif ini terbentuk secara alami dalam diri Fadli Zon? Apakah kondisi ini terbentuk sebagai dampak dari relasi politiknya selama ini bersama Prabowo dan Gerindra?

Fadli Zon di Pusaran Politik Kekuasaan

Fadli Zon memulai perjalanan politiknya pada saat ia menduduki kursi MPR perwakilan dari Utusan Golongan pada periode 1997 hingga 1999.

Namun, sebelumnya ia juga sempat mencicipi dunia jurnalistik dengan bergabung sebagai wartawan di beberapa media. Salah satunya ia menduduki posisi redaktur dan Dewan Direksi Majalah Horison di tahun 1993.

Pasca lengser dari kursi MPR pada tahun 1999, inilah momentum dimana Fadli mulai membangun kedekatan dengan sosok Prabowo Subianto. Ia kemudian menjabat sebagai direktur di beberapa perusahaan seperti Nusantara Energy Resources, Ltd, PT Tidar Kerinci Agung, Komisaris Utama PT Tambang Sungai Suir, PT Padi Nusantara, serta Komisaris PT Susu Nusantara yang kesemuanya merupakan gurita bisnis milik Prabowo Subianto bersama dengan adiknya, Hashim Djojohadikusumo.

Fadli Zon memang dikenal cukup lama sebagai tangan kanan Prabowo. Sehingga bisa jadi telah terbentuk relasi patron-klien antara Prabowo dan Fadli Zon. Bahkan dalam menanggapi tindakan kontroversial Fadli Zon pun, Prabowo bahkan memberikan pembelaan terhadapnya dengan menganggap demokrasi di Indonesia butuh sosok kontroversial seperti Wakil Ketua DPR tersebut.

Hal ini sejalan dengan teori patron klien menurut James Scott dimana relasi ini digambarkan sebagai hubungan di mana seorang individu dari status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya untuk memberikan perlindungan dan manfaat untuk orang dengan status yang lebih rendah (klien).

Si klien pada akhirnya harus membalas perlindungan dari sang patron dengan memberikan dukungan dan bantuan umum, termasuk layanan pribadi.

Nampaknya, terjunnya Fadli Zon ke pusaran politik kekuasaan juga tak bisa terlepas dari relasi patron kliennya dengan Prabowo. Hal ini ditandai pada 6 Februari 2008, ia membantu Prabowo dan Hashim mendirikan partai Gerindra.

Sehingga, bagaimanapun keadaan dan kondisinya, duet sejoli Prabowo-Fadli ini akan terus menempatkan kepentingan keduanya sebagai fundamental sikap politik, meskipun itu kontrovesial dan berpotensi mengundang kegaduhan politik.

Dengan melihat latar belakang pendidikannya, Fadli Zon diharapkan menjadi sosok intelektual murni. Akan tetapi, pada kenyataannya ia seperti terjangkit sindrom superioritas ilusif. Bisa jadi motif pragmatisme politik akibat relasi patron-kliennya dengan Prabowo  memainkan peran yang lebih dominan bagi sikapnya. Terlepas dari apapun, lontaran-lontaran kata-kata dari Fadli tetap menarik ditunggu. (M39)