Menerawang Kabar Prabowo Terbang

perjalanan Prabowo
Prabowo Subianto (Foto: Straits Times)
6 minute read

Lagi-lagi, dokumen perjalanan Prabowo Subianto ke luar negeri bocor dan dikonfirmasi pihak berotoritas. Spekulasi pun merebak akibat dari beredarnya kabar ini.


Pinterpolitik.com

Prabowo lagi-lagi pergi. Di tengah ramai pemberitaan tentang Pilpres 2019 dan hal-hal yang menyertainya, mantan Danjen Kopassus tersebut diketahui meninggalkan Tanah Air dengan jet pribadi menuju Dubai, Uni Emirat Arab. Belakangan diketahui pula bahwa Prabowo melanjutkan perjalanan tersebut menuju Wina, Austria.

Spekulasi mulai muncul terkait dengan kepergian Prabowo ke luar negeri di saat-saat seperti ini. Hal ini tergolong wajar, mengingat Prabowo pergi dengan rombongan yang tidak lazim. Dua di antara anggota rombongan Prabowo diketahui adalah anggota sekretariat parlemen Rusia.

Tak ada yang mengetahui pasti apa maksud kepergian Prabowo ke negara-negara tersebut. Terlepas dari hal itu, ada satu hal yang menarik dari penerbangan yang dilakukan oleh Prabowo, yaitu bocornya manifes penerbangan yang kemudian dikonfirmasi oleh pihak Ditjen Imigrasi.

Hal tersebut tergolong menarik karena kejadian ini bukanlah yang pertama kali. Saat Prabowo pergi ke negeri jiran Brunei Darussalam, peristiwa bocornya manifes dan konfirmasi dari Ditjen Imigrasi juga mewarnai pemberitaan di Tanah Air.

Lalu, mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Apakah ada maksud atau makna tersendiri di balik bocornya manifes dan langkah Ditjen Imigrasi yang mempublikasikan kepergian Prabowo?

Tidak Lazim

Perjalanan baik ke dalam atau ke luar negeri idealnya adalah hal yang biasa saja bagi siapapun. Meski demikian, perjalanan Prabowo pasca Pilpres 2019 tampak menjadi sesuatu yang mencengangkan. Perjalanan Prabowo tampak direspons macam-macam oleh masyarakat, terutama di media sosial.

Kabar tersebut menjadi mencengangkan boleh jadi bermula karena terjadi kebocoran manifes perjalanan Prabowo. Hal ini menjadi hal yang cukup membingungkan karena tersebarnya manifes perjalanan adalah hal yang tidak biasa.

Yang juga menarik adalah tersebarnya manifes penerbangan itu tidak semata-mata menjadi ulah netizen saja yang memang lazim menyebarkan berbagai isu. Isi dari manifes tersebut ternyata justru dikonfirmasi oleh pihak berotoritas, dalam konteks ini adalah Ditjen Imigrasi.

Pembicaraan menjadi kian heboh karena manifes ini mengungkap anggota rombongan yang ikut bersama Prabowo dalam perjalanan tersebut.

Di antara anggota rombongan tersebut ada beberapa warga negara asing, yaitu Justin Darrel Flores Howard (Amerika Serikat), Mischa Demermann (Jerman), Mikhail Davzdov (Rusia) dan Anzhelika Butaeva (Rusia). Dua nama terakhir sempat dikabarkan adalah anggota sekretariat parlemen Rusia, meski hal ini belum dikonfirmasi secara resmi oleh Kedutaan Rusia di Indonesia.

Lazimnya, dokumen manifes penerbangan adalah hal yang bersifat rahasia dan pribadi serta menjadi tanggung jawab dari maskapai penerbangan atau otoritas terkait. Terungkapnya dokumen perjalanan Prabowo ini tentu menjadi hal yang menimbulkan pertanyaan, terlebih Prabowo pergi dengan pesawat pribadi.

Perjalanan dan Politik

Meski perjalanan adalah hal yang biasa, perjalanan bagi tokoh politik terkemukan seperti Prabowo boleh jadi memang memiliki makna tersendiri. Hal ini digambarkan misalnya dalam buku Travel as a Political Act yang ditulis oleh penulis cerita perjalanan terkemuka Rick Steves.

Menulis dari sisi seorang traveler, Steves menggambarkan bahwa perjalanan tidak hanya bisa sekadar menjadi perkara liburan semata, tetapi juga dapat memiliki maksud dan tujuan khusus. Dalam hal ini, politik dapat menjadi salah satu maksud dari perjalanan tersebut.

Dalam buku tersebut, Steves mendiskusikan soft and hard political power, kebijakan yang keras dan lunak dalam urusan obat-obatan, dan efek pada perang sipil di masa lalu atau mungkin juga di masa depan. Tak hanya itu, ia juga sempat menyebutkan berbagai isu seperti perjalanan Recep Tayyip Erdogan, perjalanan Donald Trump, dan juga Brexit sebagai bentuk dari travel as a political act ini.

Pengaruh dari bepergian secara politik ini juga digambarkan oleh Ulrike Brisson dan Bernard Schweizer. Dalam buku Not So Innocent Abroad: The Politics of Travel and Travel Writing, mereka menyebutkan bahwa ada sejumlah perkara politik yang dapat dipenuhi dengan melakukan sebuah perjalanan.

Salah satu hal yang dapat dipenuhi tersebut menurut Brisson dan Schweizer adalah perjalanan seorang politisi dapat meningkatkan pengaruh politik mereka baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Berdasarkan kondisi tersebut, sebuah perjalanan memang boleh jadi memiliki maksud atau makna politik tertentu, apalagi jika dilakukan oleh tokoh-tokoh yang memang memiliki pengaruh secara politik. Oleh karena itu, meski hingga saat ini belum terungkap maksud politik Prabowo dalam perjalanannya, wajar jika ada yang berspekulasi terkait dengan hal tersebut.

Urusan Pribadi

Merujuk pada hal tersebut, pihak-pihak yang menyebarkan perjalanan pribadi Prabowo boleh jadi menyadari bahwa ada political act tertentu dari perjalanan Prabowo. Dalam konteks ini, pihak imigrasi atau pihak lain yang mengonfirmasi perjalanan Prabowo bisa saja mencium adanya political act yang bisa memberi pengaruh bagi kondisi politik di tanah air.

Meski demikian, apa persisnya political act tersebut boleh jadi hanya Prabowo yang tahu. Terlepas dari hal itu, pihak penyebar dan otoritas boleh jadi sudah menyadari bahwa kepergian tokoh sekaliber Prabowo dapat memiliki pengaruh politik baik di dalam maupun di luar negeri, sebagaimana disebut Brisson dan Schweizer.

Terlepas dari kemungkinan Prabowo punya motif politik ke luar negeri, bocornya manifes perjalanan Prabowo tetap masih menjadi misteri. Click To Tweet

Jika merujuk pada destinasi perjalanan Prabowo, boleh jadi memang ada nuansa politik yang bisa menjadi spekulasi liar di dalam pembicaraan masyarakat. Berbagai tudingan mulai muncul seiring dengan timing isu yang hadir di saat-saat genting pasca Pilpres 2019.

Kepergian Prabowo ke Brunei misalnya, dikaitkan dengan persahabatan antara dirinya dan rezim Orde Baru secara umum dengan Sultan Hassanal Bolkiah. Berdasarkan pengakuan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ketua Umum Partai Gerindra itu ke Brunei memang dimaksudkan untuk bersilaturahmi dengan sang Sultan.

Kedekatan dan silaturahmi ini memutar kembali kedekatan antara Soeharto dengan Sultan Hassanal Bolkiah. Tak hanya hubungan saling menghormati, menurut catatan George Junus Aditjondro sebagaimana dikutip oleh Tirto, keduanya juga memiliki relasi dalam hal bisnis.

Sementara itu, kepergiannya ke Austria bisa dikaitkan dengan laporan majalah Time tentang Soeharto – mertua Prabowo – yang menyimpan dana di negara tersebut. Menurut majalah tersebut, ada dana sebesar US$ 9 miliar yang disinyalir milik Soeharto, yang dipindahkan dari Bank di Swiss ke Austria.

Praktis, kepergian Prabowo ke Brunei dan Austria membuat namanya harus kembali dikait-kaitkan dengan keluarga Soeharto. Secara spesifik, hal-hal terkait dengan dana milik keluarga tersebut langsung dikait-kaitkan dengan Prabowo, meski hal itu hingga saat ini masih belum bisa dikonfirmasi.

Terlepas dari berbagai spekulasi yang mencuat, penyebaran manifes perjalanan Prabowo tetap merupakan sebuah hal yang masih bisa digugat kesahihan langkahnya. Penyebaran isu itu jelas telah menimbulkan berbagai spekulasi miring terhadap Prabowo, entah apa pun tujuannya.

Pada akhirnya, hingga saat ini hanya Prabowo yang paling mengetahui apa maksud kepergiannya ke negara luar. Meski nantinya diketahui tak ada maksud politik, nyatanya kepergian orang seperti Prabowo saat ini sudah mendatangkan dampak secara politik. (H33)

Facebook Comments

Baca juga :
Misteri Jokowi di Majalah Arab Saudi