Menelusur Jejak Pramoedya Ananta Toer

    Ilustrasi: Y14
    9 minute read

    Salah satu hal yang membedakan Pram dari penulis-penulis lain adalah karena ia hidup di hampir semua era besar yang dilewati oleh negara ini dalam satu abad terakhir. Pram mengalami rasanya dijajah Belanda, lalu dijajah Jepang, meraih kemerdekaan, ia juga mengalami masa-masa demokrasi terpimpin, pemberontakan PKI 1965, otoritarianisme Orde Baru, hingga era reformasi.


    pinterpolitik.com

    “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanyalah tafsirannya.” Demikianlah salah satu kutipan tulisan Pramoedya Ananta Toer dalam novel “Rumah Kaca”, roman keempat dalam tetralogi “Pulau Buru”. Tepat hari ini, 6 Februari 92 tahun lalu, Pramoedya Ananta Toer lahir ke dunia. Mungkin tangisan Pram kecil saat itu seperti teredam terompet gerakan kepemudaan baru Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal pergrakan kepemudaan untuk kemerdekaan Indonesia. Sepanjang hidupnya Pram – kalau boleh disapa demikian – mengabdikan dirinya di dunia sastra, sejarah, kritik, juga seni, dan menjadikan dirinya mungkin salah satu penulis Indonesia yang karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Asing. Maka, tidak heran Google Indonesia menjadikan animasi Pram yang sedang mengetik dengan mesin tik tua sebagai doodle hari ini.

    Pram: Saksi Sejarah Paling Lengkap

    Pram – tidak diragukan lagi – mungkin adalah salah satu penulis terbesar dalam sastra Indonesia. Tercatat lebih dari 50 karyanya telah diterjmahkan ke dalam 41 bahasa asing. Salah satu hal yang membedakan Pram dari penulis-penulis lain adalah karena ia hidup di hampir semua era besar yang dilewati oleh negara ini dalam satu abad terakhir. Pram mengalami rasanya dijajah Belanda, lalu dijajah Jepang, meraih kemerdekaan, ia juga mengalami masa-masa demokrasi terpimpin, pemberontakan PKI 1965, otoritarianisme Orde Baru, hingga era reformasi.

    Tak diragukan, Pram adalah salah satu saksi sejarah bangsa yang paling lengkap. Bahkan, hampir sebagian besar karya yang ditulisnya memiliki latar sejarah serta pengamatannya terhadap situasi sosial masyarakat. Goresan pena Pram di sel dingin penjara Nusakambangan dan pengasingannya di Pulau Buru atau gertak mesin tik tua di malam-malam sunyi adalah bagian dari lembaran kisah fantasi sejarah yang ditulisnya, misalnya dalam tetralogi Pulau Buru. Tidak sedikit kritik terhadap penguasa dan situasi sosial, pandangan politik, ataupun pesan-pesan kehidupan yang diberikannya melalui untaian kisah-kisah anak manusia yang ditulisnya.

    Pram mungkin akan dikenal sebagai pujangga yang mendedikasikan dirinya di dunia tulis menulis – untuk sebagian penulis, ia bahkan dianggap sebagai idola. “Menulis adalah sebuah keberanian,” kata Pram di tempat lain – kata-kata yang membuatnya pernah dipenjara.

    Masa Kecil Pram

    Pramoedya Ananta Toer – bernama asli Promoedya Ananta Mastoer – dilahirkan di Kampung Jetis, Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925. Ayahnya – Mastoer – adalah seorang guru yang juga pernah menjadi kepala sekolah Institute Budi Oetomo, dan mendidik Pram dengan keras. Walaupun keluarga Pram adalah golongan masyarakat kelas menengah ke atas, namun masa kecil Pram lebih banyak dihabiskannya bermain dengan anak-anak dari golongan masyarakat kelas bawah yang sederhana. Hal itulah yang menyebabkan ia mengilangkan ‘Mas’ dari nama akhirnya karena merasa bahwa hal itu merujuk pada golongan aristokratik.

    Menelusur Jejak Pramoedya Ananta Toer

    Pram memulai pendidikan formalnya di SD Blora, Radio Volkschool Surabaya pada tahun 1940 – 1941. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke Taman Dewasa/Taman Siswa pada tahun 1942-1943. Ia pernah ambil bagian dalam kelas dan Seminar Perekonomian dan Sosiologi oleh Drs. Mohammad Hatta dan Maruto Nitimihardjo, serta sekolah Stenografi antara tahun 1944-1945. Pram juga pernah masuk Sekolah Tinggi Islam Jakarta pada tahun 1945.

    Bergabung dalam Militer

    Semasa zaman perjuangan untuk kemerdekaan, Pram terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan perjuangan melawan penjajah. Pram sering mengikuti kelompok militer di Jawa dan ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Akibat aktivitasnya tersebut, ia pernah ditahan oleh penjajah selama 2 tahun, yakni antara tahun 1947-1949. Perjuangan Pram cukup berat karena Ibunya meninggal saat ia masih berusia 17 tahun, sementara ayahnya jatuh ke dalam dunia perjudian. Pram akhirnya harus bekerja dan menghidupi 7 orang adiknya. Ia pernah menjadi juru ketik di kantor berita Jepang, Domei, menjadi seorang stenograf serta jurnalis. Ia juga pernah bergabung menjadi tentara dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR). Saat menjadi tentara, Pram mulai menulis naskah dan mulai semakin mendalami aktivitas tulis menulis. Ia kemudian keluar dari militer dan fokus menulis.

    Pram dan Lekra

    Baca juga :  A.M. Fatwa: dari Pram hingga Ahok

    Beberapa sumber mengatakan bahwa Pram pernah ikut pertukaran sastrawan ke Belanda. Saat kembali ke Indonesia ia kemudian menjadi anggota Lekra – salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Pram bahkan pernah menjadi pimpinan Pleno pada kongres nasional Lekra pada Januari 1959 di Solo Jawa Tengah. Lekra atau Lembaga Kebudayaan Rakyat sendiri adalah organisasi yang didirikan oleh  D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta sebagai salah satu sayap Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mendorong seniman dan penulis untuk mengikuti doktrin realisme sosialis.

    Gaya penulisan Pram pun berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya “Korupsi”, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh ke dalam perangkap korupsi. Akibat tulisannya itu, tercipta friksi antara Pram dan pemerintahan Soekarno.

    Hubungan dengan Tiongkok

    Pram sebelumnya juga pernah mengunjungi Tiongkok pada tahun 1956. Setelah singgah di Siberia, Beijing dan Rangoon, ia lalu kembali lagi ke Indonesia pada 21 Oktober 1958. Seiring dengan semakin terkenalnya Pram di dunia internasional, ia pun merasa dirinya semakin percaya diri dan rasa rendah dirinya yang sebelumnya selalu muncul benar-benar hancur dan musnah. Pram pun merasa menjadi seorang manusia kuat dan berani menentang segala bentuk ketidak adilan. Hal ini membuka wawasannya.

    Bahkan, setelah pulang dari Tiongkok, ia mulai mempelajari dan meneliti kasus-kasus penyiksaan terhadap masyarakat Tionghoa Indonesia. Pada saat yang sama, ia pun mulai berhubungan erat dengan para penulis di Tiongkok. Pram menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang membicarakan sejarah Tionghoa di Indonesia, berjudul “Hoakiau di Indonesia”.

    Tulisan ini menandai karakter Pram sebagai kritikus yang tak mengacuhkan pemerintahan Jawa-sentris pada keperluan dan keinginan dari daerah lain di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Hal ini juga menandai semakin giatnya Pram terlibat dalam dunia politik. Akibatnya, pada tahun 1960-an ia sempat ditahan selama 9 bulan karena pandangan pro-Komunis Tiongkoknya dan aktivitasnya yang dianggap menjual rahasia negara pada pemerintah Tiongkok.

    G 30-S PKI dan dibuang ke Pulau Buru

    Dijebloskan ke dalam penjara tidak membuat Pram surut dalam berkarya. Sebaliknya, di dalam penjara Pram mendapatkan inspirasi yang melimpah sebagai bahan baku untuk memproduksi karya-karya tulisnya. Setelah Pram dibebaskan dari dalam penjara, situasi perpolitikan di Indonesia semakin kacau.

    Peristiwa 30 September 1965 menandai babak baru dalam pribadi Pram. PKI dituduh sebagai biang keladi tragedi pembunuhan terhadap beberapa jenderal dan atas anggapan inilah Soeharto dan militer membersihkan orang-orang PKI dari berbagai organisasi yang berafiliasi dengan PKI, termasuk juga Lekra di mana Pram ada di dalamnya. Pram dianggap sebagai simpatisan PKI.

    Penangkapan Pram terjadi pada 13 Oktober 1965. Penangkapan ini dilakukan oleh rezim militer Soeharto di rumah kediaman Pram. Pram pada waktu itu benar-benar dimiskinkan oleh tentara, hingga ia tidak mampu menafkahi anak-anak dan istrinya. Penderitaan tidak hanya dialami oleh Pram, anak-anak dan isrinya pun ikut menanggung beban. Setelah Pram ditangkap, Pram di bawa ke berbagai tempat. Pertama kali Pram di bawah ke markas CPM Guntur, lalu ke markas besar Kodam V, lalu ke penjara Bukit Duri di Jakarta dan ke penjara Tangerang.

    Selama 4 tahun Pram dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya, sampai akhirnya Pram dikirim ke kamp konsentrasi di Pulau Buru. Di pulau Buru, Pram menjalani hukuman selama hampir 10 tahun.

    Baca juga :  Jejak Pramoedya Ananta Toer

    Pram dan Minke: Fantasia Pulau Buru

    Pada saat Pram menjalani hukuman di Pulau Buru, Pram mengubah tekanan penjara menjadi hal yang produktif. Hal itu dilakukan dengan cara menulis. Pram menggambarkan masa-masa ini sebagai masa ketika imajinasinya memuncak dan ia mampu mengeksplorasi banyak hal. Pada awalnya Pram selalu mendapatkan siksaan fisik dari tentara penjaga dan juga selalu dilarang untuk menulis, tetapi karena pemerintahan Soeharto mendapat tekanan dari luar negeri (Amerika Serikat), maka Pram pun bebas dari siksaan dan akhirnya diperbolehkan untuk menulis. Di Pulau Buru inilah Pram menghasilkan karya-karyanya yang sangat terkenal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Minke mungkin adalah salah satu tokoh yang paling identik dengan karya Pram di Pulau Buru. Minke muncul dalam tetralogi Pulau Buru yang ditulisnya saat menghabiskan waktunya dalam tahanan di Pulau Buru antara tahun 1969-1979 ini. Tokoh yang kemudian diketahui diasosiasikan dengan Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Pribumi ini benar-benar memberi pemaknaan tersendiri terhadap sejarah perjuangan pemuda di Indonesia.

    Bebas, namun ditekan Orde Baru

    Setelah bebas dari Pulau Buru, Pram menerbitkan bukunya yang berjudul Pulau Buru pada tahun 1980. Namun, buku tersebut dilarang terbit oleh rezim Orde Baru. Hal yang sama juga terjadi dengan buku-buku novel lainnya. Namun, walaupun pada saat itu buku-bukunya dilarang terbit dan beredar, buku-buku yang ditulis oleh Pram tersebut banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di luar negeri dan diedarkan secara luas di luar negeri. Dari royalti buku-bukunya yang diterbitkan di luar negeri inilah Pram dapat bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.

    Hingga akhirnya, pada tahun 1998, ketika Soeharto diturunkan dari tahta kepresidenannya. Pada saat itulah buku-buku tulisan Pram diterbitkan dan tersebar luas di Indonesia. Dengan menyaksikan reformasi 1998, lengkaplah bab-bab hidup Pram – menyaksikan hampir semua perubahan yang terjadi di negara ini.

    Jejak Pram

    Pram memang telah tiada, namun jejak-jejaknya masih terukir di negeri ini. Karyanya dikenal di seluruh dunia. Ia juga dianggap memberikan penggambaran terhadap sejarah Indonesia pada tahun-tahun yang tidak banyak diketahui, yakni saat-saat awal pergerakan pemuda Indonesia dimulai.

    Pada 30 April 2006 Pram akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 81 tahun. Ia meninggalkan segudang kisah dan karya yang menjadi warisan berharga bagi anak-anak negeri ini. Pram meninggalkan semangat untuk menjadi orang bebas yang tidak takut pada apa pun. Bagi para penulis, Pram adalah kiblat bahwa kata-kata – sebagai bagian dari kebudayaan – adalah ekspresi dan keutamaan jiwa.

    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Demikianlah salah satu kutipan yang paling memotivasi. Menulis seperti halnya juga membaca seperti menghirup dan menghembuskan napas. Menulis adalah melawan dengan kata-kata.

    Di lain tempat, Pram juga mengajarkan soal kesetiaan dan keteguhan hati – nasihat yang paling cocok untuk dialamatkan pada para politisi kita saat ini. Para politisi kita adalah orang-orang yang terpelajar, namun kadang kala tidak setia dalam segala hal yang dikatakan dan diupayakannya. “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.” Demikian kata Pram dalam novel “Bumi Manusia”. Kesetiaan itu juga dilambangkan dengan sejalannya janji dengan upaya yang dilakukan. Pram dalam segala sejarah perjuangan hidup yang dilewatinya telah membuktikan itu.

    Akhirnya, Pram juga memberikan nasihat bagi generasi muda bangsa ini untuk memanfaatkan segala kebebasan yang telah diperoleh bagi sebesar-besarnya kemajuan bangsa dan negara. “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”. Demikian kata Pram. Sudah siapkah kita memajukan bangsa dengan segala kemajuan dan perjuangan yang telah dilewati oleh orang-orang seperti Pramoedya Ananta Toer? (S13)

    Share On