Menanti Janji Gubernur Baru

    8 minute read

    Setelah keduanya terpilih dan dinyatakan menang sesuai perhitungan cepat, kini saatnya masyarakat menagih dan mengawal janji-janji yang diberikan selama kampanye.


    PinterPolitik.com (A15 – R)

    Hasil hitung cepat (quick count) Pilkada DKI pada Rabu (19/4)  dari berbagai lembaga survey sudah dapat memastikan bahwa paslon nomor urut tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan Pilkada DKI 2017. Jumlah suaranya mengungguli Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot). Dengan hasil quick count ini, netizen ikut menyemarakkan euforia keunggulan Anies-Sandiaga di linimasa twitter.

    Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman, meminta masyarakat untuk dewasa dalam menyikapi hasil dari quick count Pilkada DKI putaran kedua ini. Ketua KPU DKI, Sumarno pun meminta kedua pasangan calon Gubernur dan para pendukungnya untuk menahan diri karena walaupun Anies-Sandiaga dinyatakan menang dalam hitung cepat namun KPU belum memberikan pernyataan resmi terkait hasil perhitungan suara Pilkada DKI putaran kedua ini. Rekapitulasi perhitungan suara oleh KPU DKI akan dilakukan pada  tanggal 20-26 April lalu yang diawali dari tingkat kecamatan, baru kemudian 26-28 April lalu di tingkat kota dan di tingkat provinsi tanggal 29 April 2017 lalu.

    Namun, di linimasa twitter para netizen ini sudah memberikan beragam cuitan yang menarik. Ada yang senang Anies-Sandiaga terpilih, ada juga yang kecewa dan belum lapang dada melihat Ahok-Djarot yang kalah dalam hitung cepat kemarin. Selain itu ada juga netizen yang menagih janji-janji Anies-Sandiaga untuk segera direalisasikan, salah satu yang paling ditunggu masyarakat dari realisasi janji pasangan pemimpin Jakarta yang baru ini adalah janji tentang perumahan murah dengan DP 0 rupiah.

    Bahkan ada juga yang membandingkan keunggulan pasangan Anies-Sandiaga dengan pemilihan presiden Amerika Serikat yang dimenangkan oleh Donald Trump.

    Cuitan para pendukung Ahok-Djarot yang beragam, mulai dari yang belum terima hingga yang sudah lapang dada dan mengikhlaskan Anies-Sandiaga menjadi pemimpin baru Jakarta,

    Ada juga netizen yang menerka bahwa kekalahan Ahok ini adalah skenario menuju Pilpres 2019,

    Menagih janji-janji kampanye Anies-Sandiaga,

    https://twitter.com/fanny_hasugian/status/854675736833122304


    Konsolidasi Ahok dan Anies

    Pagi kemarin, Kamis 20 April lalu gubernur baru Jakarta, Anies Baswedan melakukan pertemuan pertama selepas Pilkada DKI dengan Ahok di mana keduanya bertemu di Balaikota, Jakarta Pusat. Pertemuan yang berlangsung selama 20 menit ini dilakukan secara tertutup guna membahas rencana penyusunan program untuk tahun anggaran 2018.

    Baca juga :  Pasar Tradisional, Heartland Jokowi-Sandi

    Anies meminta agar Pemprov DKI yang sekarang masih dipimpin Ahok bisa membantunya dalam penyusunan perencanaan program Pemprov DKI untuk tahun 2018 yang disiapkan lebih awal agar tidak ada kendala di kepengurusan Pemprov DKI yang akan dipimpin oleh Anies.

    Ahok pun menyambut positif permintaan Anies tersebut, ia akan menyelesaikan semua pekerjaannya dan mempersiapkan pekerjaan rumah yang akan diteruskan oleh Anies dan Sandiaga selaku pemimpin baru DKI Jakarta. Ahok pun berharap jangan terjadi deadlock dalam pembahasan anggaran bersama DPRD DKI Jakarta, karena hal tersebut akan memperlambat pekerjaan Gubernur baru nantinya.

    “Jangan sampai ini deadlock, jangan sampai ada pokir-pokir kayak dulu. Kalau ada pokir-pokir (pokok-pokok pikiran) saya tolak berantem ini, berantem kasihan Pak Anies-nya masuk, Oktober baru menyelesaikan APBD-P nggak selesai. Kalau saya selesaikan, misalnya dari Pak Taufik Gerindra, ngotot APBD-P nggak mau deal sama saya nih, saya pasti ngotot, ngotot kasihan Pak Anies-nya, nanti programnya gantung di APBD-P-nya nih,” kata Ahok setelah menerima kunjungan Anies di gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat..

    Ahok pun mengaku akan menyesuaikan program-program Pemda DKI dengan program Anies-Sandiaga selama kampanye. Ahok juga ingin memastikan agar program Anies-Sandiaga tidak dijegal oleh DPRD seperti di masa pemerintahannya. Oleh karena itu Ahok meminta Anies untuk mengirimkan tim anggarannya ke Balaikota untuk segera menggelar rapat dengan tim anggaran milik Pemda DKI.

    Melihat sikap Ahok yang kooperatif dalam memuluskan transisi kepemimpinan ini membuat Anies mengapresiasi Ahok. Sikap ini dinilai sebagai bentuk kebesaran hati dalam memegang prinsip demokrasi yang telah disepakati bersama. Namun terkait program-program yang diprioritaskan untuk masuk ke dalam anggaran 2018 Anies belum mau membicarakan terlalu jauh. Ia merasa itu hal teknis yang tidak tepat dibicarakan saat ini. Dia mengaku akan berbicara terkait program, rencana realisasi dan segala aspek yang menunjangnya setelah ada keputusan resmi dari KPU DKI.

    Menuju masa transisi kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, saat ini Ahok pun masih tetap bekerja di Balaikota. Dirinya dan Djarot masih akan menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta hingga 6 bulan kedepan atau tepatnya hingga bulan Oktober 2017 sebelum akhirnya keduanya diganti oleh Anies dan Sandiaga.

    Setelah dilantik pada bulan Oktober nanti, tantangan dan pekerjaan rumah bagi Anies-Sandi cukup banyak. Keduanya harus mempertahankan Jakarta sebagai barometer daerah dengan keberagaman dan toleransi yang tinggi. Hal ini perlu ditekankan karena, dalam perjalanan meraih dukungan, Anies mendekati kelompok intoleran, seperti Front Pembela Islam (FPI).

    Tapi karena penduduk DKI Jakarta ini majemuk, maka Anies-Sandiaga harus bisa mengkontrol pergerakan para ekstrimis Islam agar tetap toleran dan tidak mengusik kehidupan dari agama lain diluar islam. Hal tersebut harus dilakukan guna tidak ada tindakan main hakim sendiri dengan mengatasnamakan agama seperti penutupan tempat ibadah atau sweeping tempat hiburan dan penjaja minuman keras yang dilakukan secara sewenang-wenang oleh kelompok intoleran.

    Selain itu pekerjaan keduanya adalah mengendalikan birokrasi di DKI Jakarta. Melihat rekam jejak keduanya sangat minim di dalam birokrasi pemerintahan, meskipun Anies sempat merasakan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di kabinet Presiden Jokowi. Anies-Sandiaga juga harus bisa melanjutkan laju pembangunan yang sudah dijalankan Ahok seperti memperbaiki jalur transportasi, membuat mulus jalan sampai ke gang-gang, membangun taman di berbagai lingkungan padat, hingga menjamin warga miskin mendapat layanan kesehatan dan pendidikan.

    Namun yang paling penting dilakukan oleh kedua pemimpin baru DKI Jakarta ini adalah mewujudkan janji-janji selama kampanye, seperti rumah dengan DP nol rupiah bagi warga miskin atau penolakan reklamasi di perairan utara Jakarta yang sudah setengah jalan. Mewujudkan rumah murah di Jakarta bukanlah perkara mudah karena tingginya harga tanah serta terbatasnya lahan.

    Baca juga :  Seberapa Gereget Sandiaga Effect?

    Menanti Janji Anies – Sandiaga

    Selama masa kampanye, pasangan Anies-Sandiaga memberikan berbagai macam janji kepada masyarakat DKI Jakarta. Janji-janji tersebut mulai dari program baru hingga menghentikan program-program Ahok-Djarot yang menuai kontroversi.

    Setelah keduanya terpilih dan dinyatakan menang sesuai perhitungan cepat, kini saatnya masyarakat menagih dan mengawal janji-janji yang diberikan keduanya agar janji-janji tersebut tidak hanya menjadi wacana dan omong palsu kampanye saja seperti janji kampanye kebanyakan politisi. Beberapa di antaranya adalah,

    Rumah DP 0 Rupiah

    Program ini menjadi perbincangan di mana – mana, karena banyak pihak yang menilai program tersebut tidak realistis. Skema program ini adalah masyarakat yang ingin membeli rumah diminta menabung selama 6 bulan di bank milik Pemda Jakarta, Bank DKI. Kemudian, hasil menabung selama 6 bulan ini menjadi pengganti DP yang nilainya mencapai 10 persen dari harga rumah.

    “Jadi fokus kita di hunian vertikal (rumah susun) di tanah-tanah Pemprov, masyarakat nggak perlu bayar DP. Kemudian, dengan skema pembiayaan yang inovatif, rentang kreditnya kita tarik lebih panjang sampai 25 tahun. Jadi bukan untuk mencicil DP. Tapi untuk memberi kepastian saja bahwa dia benar-benar punya kemampuan untuk membayar selama KPR itu,” jelas Sandi.

    Sementara itu, soal lokasi untuk pembangunan rusun, Sandiaga mengungkapkan belum dapat menjelaskannya. Dia hanya mengatakan rusun akan dibangun di lima wilayah administratif Jakarta.

    OK OCE

    Pasti semua yang mengikuti berita tentang Pilkada DKI sudah akrab dengan kalimat “OK, OCE” ini. Program ini merupakan program andalan Anies-Sandiaga, di mana OK OCE ini adalah singkatan dari One Kecamatan One Center for Entrepreneurship.

    Program ini merupakan gerakan untuk melahirkan 200 ribu pengusaha baru. Untuk membentuk OK OCE, nantinya akan ada 44 pos pengembangan kewirausahaan warga di setiap kecamatan. Seluruh warga Jakarta dapat mengikuti program tersebut, termasuk pekerja harian lepas (PHL) provinsi.

    KJP Plus dan KJS Plus

    Untuk menjamin kesehatan dan pendidikan para warganya, Anies-Sandiaga mengeluarkan KJP Plus dan KJS Plus. KJP plus (Kartu Jakarta Pintar) adalah integrasi dari Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai program nasional dengan KJP. KJP Plus akan dibagikan kepada anak usia sekolah 6-21 tahun baik di dalam maupun luar sekolah.

    Sedangkan KJS (Kartu Jakarta Sehat) akan diperluas cakupannya yang ditanggung pemerintah, yakni kepada tokoh-tokoh agama, yaitu guru mengaji, pengajar Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, khatib, penceramah, dan seluruh pemuka agama lainnya. Menurut Sandiaga, program KJS Plus terinspirasi oleh keluhan warga soal program kesehatan. Sandiaga menjanjikan pelayanan kesehatan kelas I bagi guru mengaji, guru Sekolah Minggu, penjaga rumah ibadah, kader PKK, dan kader posyandu.

    Menggagalkan Reklamasi Teluk Jakarta

    Reklamasi adalah isu yang sering dibicarakan Anies-Sandiaga saat kampanye, dan dalam situs resminya secara tegas menolak reklamasi untuk dilanjutkan. Alasannya, mengutamakan kepentingan nelayan dan masyarakat sekitar.

    Untuk pulau-pulau yang sudah terlanjur dibangun akan sepenuhnya digunakan bagi kepentingan nelayan di Jakarta. Anies-Sandiaga pun memastikan pemberian jalan keluar terbaik bagi pengembang yang sudah berinvestasi di pulau reklamasi. Sementara itu, Sandiaga mengaku tidak didukung pengusaha karena menolak reklamasi. Untuk mencari solusi, dia akan membangun forum dialog antara pengusaha dan nelayan.

    Banyak masyarakat DKI Jakarta menaruh harapan pada kepemimpinan Anies-Sandiaga. Kini keduanya telah terpilih dan dipercaya oleh masyarakat DKI Jakarta untuk memberikan perubahan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyakarat. Apakah keduanya mampu memberikan bukti yang nyata kepada masyarakat? (A15)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here