Megawati, Merdeka Sampai Pikun

Megawati, Merdeka Sampai Pikun
Megawati (sumber: istimewa)
3 minute read

Megawati mengaku tak bisa tidur tiap kadernya tertangkap KPK. Duh, kasihan Ibu.


PinterPolitik.com

 

Sebelum membahas Megawati lebih dalam, mari renungi sebentar siapa lagi tokoh parpol yang masih menjabat menjadi ketua umum partainya sendiri sejak masa Reformasi hingga detik ini selain Megawati? Hayo siapa? Tidak ada. Ya, memang hanya Mega. Bukan Ratu Elizabeth di Inggris, lho.

Mungkin itu salah satu risiko jika berkarir sebagai politisi. Tak kenal pensiun, siap dibutuhkan rakyat kapan saja, dan juga harus anti korupsi. Sikap anti korupsi Bu Mega terlihat dalam pidatonya Minggu (15/10) malam lalu di kantor DPP PDIP. Dalam nada-nada suara yang tinggi itu, terselip sebuah kegundahan yang membuatnya sulit tidur, yaitu banyaknya kader PDIP tertangkap OTT KPK.

Memang tak tahu diri kader-kader PDIP yang korupsi itu. Sudah capek-capek diangkat oleh Bu Mega padahal, lho. Tahu nggak sih mereka, kalau modal mengangkat kader tak kecil? Belum lagi PDIP ini selalu dijadikan ‘target’ tiap pemerintah melakukan pemberantasan korupsi? Nanti kalau semua tertangkap, bagaimana caturnya Bu Mega bekerja? Siapa yang nyolong nanti? Eh?


Megawati, Merdeka Sampai Pikun
Megawati dan Jokowi (sumber: istimewa)

Tentu saja tak ada yang salah dari peringatan Bu Mega soal larangan korupsi kepada para kadernya dalam pidato malam itu. Sangat relevan dan diperlukan, malah. Korupsi memang seburuk-buruknya kelakuan, segelap-gelapnya keinginan. Pendapatan dan moral negara susut karena korupsi.

Tapi yang hilang dari wejangan Bu Mega semalam adalah, korupsi tetap buruk walau, pemerintah sedang melakukan pemberantasan atau tidak. Juga, ketahuan atau tidak, korupsi tetaplah buruk. Melakukan korupsi tapi tak ketahuan KPK atau Kejaksaan Agung tak membuat korupsi jadi lebih baik atau bisa ditolerir. Begitu kurang lebihnya.

Baca juga :
DPR Melawan, Susi Tak Aman?

Satu lagi yang tertinggal dari pidato Bu Mega adalah, ia tak menyampaikan NKRI adalah warisan ayahandanya yang harus dijaga sampai mati. Dijaga dari korupsi, dijaga dari kepemimpinan yang diktator, dan dijaga dari pemimpin rakus dan gila kekuasaan.

Kalau tak berkaca dari wejangan Soekarno, Bu Mega ‘gagal’ sudah mencari penyebab mengapa banyak kader PDIP tersangkut OTT KPK. Gagal pula mencapai instrospeksi, jika jangan-jangan yang dimaksud Soekarno adalah menjaga NKRI dari anak-anak (kader PDIP) Bu Mega? Atau bahkan, dari Bu Mega sendiri?

Namun begitu, sosok Bu Mega yang berkoar tentang korupsi, walau seadanya, patut diapresiasi. Bagaimana tidak, di saat teman-teman seangkatannya sudah sibuk bermain dengan cucu di teras, hobi berkebun, memelihara lou han, atau berlari-lari kecl di tiap gang di pagi hari, Megawati masih memilih tegak di singgasana partai. Maka dari itu, demi menghormati kinerja totalnya, taruhlah hormat pada Ibu, turuti dan jangan ngeyel kalau tak mau diajak perang. Merdeka sampai pikun, Bu! (A27)

Facebook Comments