Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati Biro Jodoh Jokowi
(doc: metrotvnews.com)
2 minute read

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu?


PinterPolitik.com

Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin memang bentuknya kecil tapi cahayanya mampu menerangi sebuah ruangan yang gelap, walaupun harus merelakan dirinya terbakar hingga habis.

Begitu pun dengan seorang ibu. Kasih dan pengorbanannya begitu total, mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik dan membesarkan seorang anak. Ibu memang sosok yang tak tergantikan dalam hidup setiap orang.

Ternyata dalam dunia politik Indonesia ada juga sosok ibu. Sosok itu terlihat dalam diri Megawati. Peran Megawati dalam tubuh Partai Banteng memang tak tergantikan. Mana ada yang berani melawan Ibu Mega. Berani melawan Ibu Mega, tau sendiri akibatnya, bukan? Ihhh, ngeri deh pokoknya.

Partai Banteng saat ini masih tercatat sebagai salah satu partai pendukung pemerintah dan salah satu partai pengusung Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Makanya Jokowi sendiri kelihatannya nggak berani melawan. Bahkan ada yang bilang kalau sejumlah kebijakan Jokowi disetir oleh Partai Banteng. Hm, au ah takut ngomong kalau nggak ada buktinya.  


Mengingat Pilpres udah makin dekat, maka Partai Banteng mulai berpikir untuk mencari calon pendamping Jokowi. Hal ini tentu harus lewat restu Ibu Mega. Bahkan Ibu Mega sendiri yang akan memilih dan menentukan bibit, bebet dan bobot calon pendamping Jokowi. Hm, rupanya Ibu Mega juga punya profesi sampingan sebagai mak comblang nih. Ckckckck, mantapzzz.

Sebelumnya Ibu Mega juga turun tangan langsung dalam menentukan calon kepala daerah yang diusung Partai Banteng pada Pilkada serentak nanti. Wah, apa maksud dari ini semua?

Emang Jokowi nggak bisa untuk mencari dan menentukan calon sendiri atau gimana? Hadehhh, udah kayak zaman Siti Nurbaya aja, upsss. Masa Jokowi mau aja berlaku seperti ‘kerbau dicocok hidungnya’ di hadapan Partai Banteng? Tapi, kalau Jokowi berani balelo, maka ia bisa aja dicap sebagai “anak yang durhaka” atau “kacang lupa kulit”. Terus mau gimana? Jokowi makan buah simalakama lagi? (K-32)