Mega-SBY, Belajarlah Dari Malaysia

Mega-SBY, Belajarlah Dari Malaysia
Y14
6 minute read

Pembebasan Anwar Ibrahim menjadi momen bersejarah dalam bersatunya kembali para politisi Malaysia, demi membangun pemerintahan yang lebih baik.


PinterPolitik.com

“Dalam politik tidak ada masa untuk kita rasa letih atau kecewa, sehingga matlamat perjuangan itu tercapai.” ~ Anwar Ibrahim

Pernyataan mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim di atas, pernah ia sampaikan saat harus kembali keluar masuk penjara. Pria berusia 70 tahun ini bahkan pernah bercanda pada wartawan agar jangan kaget kalau suatu hari nanti, ia bisa keluar dari penjara dan memulai perjuangannya lagi.

Keyakinannya yang kuat itu pada akhirnya memang menjadi nyata, setelah Mahathir Muhammad berhasil memenangkan Pemilu Malaysia secara telak dari kekuasaan korup Najib Razak. Selain mengangkat istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail sebagai wakil perdana menteri, Mahathir juga berhasil mengupayakan pengampunan bagi Anwar.

Sikap Mahathir untuk membebaskan mantan muridnya yang sempat ia tuding sebagai pembangkang ini, menurut banyak pihak, mengindikasikan akan adanya perubahan demokrasi di Negara Jiran tersebut. Anwar sendiri, mengaku telah memaafkan tindakan mantan gurunya yang membuatnya mendekam di penjara selama 18 tahun.

Bersatunya dua orang “orang kuat” ini, tentu akan menjadi catatan sejarah tersendiri dalam perjalanan pemerintahan Malaysia. Namun di sisi lain, sikap keduanya yang sama-sama legowo dan saling memaafkan demi terciptanya cita-cita pemerintahan Malaysia yang lebih bersih dan demokratis ini, patut menjadi pelajaran tersendiri.

Sehingga tak salah bila momen di mana Anwar dan Mahathir saling berjabat erat, mengingatkan pada kenangan di mana kedua mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri, berjabat tangan ketika menghadiri Perayaan Kemerdekaan di Istana Negara, tahun lalu.

Banyak pihak berspekulasi, momen itu akan membawa angin segar bagi hubungan kedua partai pimpinan mereka, PDI Perjuangan dan Demokrat. Sayangnya, harapan tersebut sepertinya tidak mudah tercipta begitu saja. Buktinya, walau Jokowi terlihat sangat ingin menggandeng Demokrat dalam koalisinya, namun keinginan tersebut kelihatannya sulit tercapai apabila masih ada tentangan dari Partai Banteng.

Teman dan Musuh Dalam Politik

“Yah realitanya politik memang kejam, bahkan hubungan keluarga bisa rusak karena politik.” ~ Machiavelli

Pernyataan Filsuf Italia Niccolò Machiavelli di atas, ia katakan dalam buku Il Principle atau The Prince (Sang Pangeran) yang dikenal dengan pemikirannya yang kontroversial. Dalam buku tersebut, sang filsuf di era renassaince ini menganjurkan kepada para penguasa untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.

Baca juga :  Ekonomi Timpang, Mahasiswa Gelar Aksi ‘121’

Konon, ajarannya tersebut memang telah menjadi panduan bagi para pemimpin kontroversial seperti Hitler, Lenin, dan bahkan Napoleon Bonaparte sampai menyimpan buku tersebut di bawah bantalnya. Ini membuktikan kalau meraih kekuasaan, bagi sebagian orang, bukan masalah bila harus bertikai, berkhianat, hingga membunuh.

Kasus sekutu yang menjadi musuh, saat ini juga masih sering terjadi, contohnya saja apa yang terjadi antara Recep Tayyib Erdogan dengan sahabat karibnya, Fethullah Gulen di Turki. Sebagai tokoh berpengaruh di bidang kehakiman dan kepolisian, peran Gulen disebut-sebut cukup besar dalam membantu Erdogan meraih jabatan presiden setelah tiga periode menjabat sebagai perdana menteri.

Namun di 2013, hubungan keduanya berubah menjadi musuh setelah Erdogan dan Partai Pembangunan dan Keadilan (AKP) yang berkuasa, menuding Gulen ingin mendirikan negara Islam dan melakukan korupsi yang menjerat sejumlah pejabat senior, termasuk putranya sendiri, Bilal. Setelah dipecat, Gulen pun pergi ke Amerika Serikat dan tidak pernah lagi kembali ke negaranya.

Nasib Anwar sedikit banyak hampir sama dengan apa yang terjadi pada Gulen. Ketika Mahathir pertama kali berkuasa sebagai perdana menteri, Anwar merupakan generasi muda yang digadang-gadang akan menjadi penerusnya. Namun karena perbedaan pandangan, mendadak Anwar yang saat itu merupakan wakil perdana menteri dituduh korupsi dan bahkan sodomi, sehingga membuatnya keluar masuk bui.

Kalau Gulen memilih melarikan diri dari “terkaman” Erdogan, Anwar memilih menghadapi semua konsekuensi yang ditudingkan kepadanya, sambil terus mengobarkan semangat reformasi dari balik penjara. Sehingga, saat ia menerima uluran tangan Mahathir untuk berkoalisi, banyak pihak tak percaya akan keputusannya tersebut.

Menurut Anwar, apa yang terjadi antara Mahathir dengan dirinya sudah ia maafkan dan kubur dalam-dalam. Baginya, saat ini yang terpenting adalah tujuan bangsanya dalam menciptakan pemerintahan yang demokratis dan bersih. Apalagi, Mahathir juga berjanji akan menyerahkan tampuk pimpinan padanya dalam satu atau dua tahun mendatang.

Banyak yang tersentuh atas kebesaran hati Anwar tersebut, namun menurut Sigmund Freud dalam bukunya  The Interpretation of Dreams, apa yang dilakukan oleh Anwar merupakan bukti kalau dirinya telah berada dalam tahap pendewasaan, karena mampu menekan ego pribadinya untuk kemajuan bangsa.

Mungkinkah Mega-SBY Baikan?

“Orang lemah tak pernah bisa memaafkan, karena memaafkan hanya milik orang-orang kuat.” ~ Mahatma Gandhi

Ucapan pemimpin India yang terkenal cinta damai tersebut, sepertinya patut dikalungkan pada sosok Anwar Ibrahim. Walau banyak yang berharap pemimpin oposisi Malaysia ini maju melawan Najib, namun Anwar malah lebih memilih mendukung mantan gurunya yang pernah ia sebut sebagai pemimpin otoriter tersebut.

Baca juga :  Aktivis Pasti Berlalu

“Déjà vu!” Begitulah yang Anwar teriakan mengenai reuni dirinya dengan Mahathir. Di sisi lain, hubungan keduanya yang membaik ini juga membuktikan kebenaran dari adagium yang mengatakan kalau tiada musuh dan kawan sejati dalam politik, sebab politik merupakan seni dari segala kemungkinan (the art of the possible).

Berangkat dari konsep “dalam politik segala sesuatu mungkin terjadi” inilah, yang kemudian mengingatkan kembali pada hubungan antara SBY dan Megawati. Apalagi kalau dilihat dari kasus pertikaian keduanya, sepertinya tidak sampai sedramatis dengan apa yang terjadi antara Mahathir dan Anwar. Tapi mengapa mereka masih sulit dipertemukan?

Sebagai petahana di Pilpres 2019 nanti, Jokowi tentu berharap mampu merangkul sebanyak mungkin dukungan dari partai politik yang ada. Sepertinya, mantan Walikota Solo tersebut telah “belajar” dari posisinya yang lemah di DPR. Terutama saat Koalisi Merah Putih (KMP) pimpinan Gerindra menguasai mayoritas kursi parlemen.

Tak heran kalau pada perayaan kemerdekaan, 17 Agustus 2017 lalu, Jokowi berhasil mempertemukan presiden kelima dan keenam tersebut. Hanya sayangnya, pertemuan yang diharapkan akan mampu meredakan ketegangan keduanya ternyata tidak berbuah manis, seperti yang diharapkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Padahal kalau saja mau belajar dari reuni Anwar dan Mahathir, akan sangat indah bila kedua partai yang bermusuhan ini dapat menggalang kekuatan bersama demi kebaikan bangsa dan negara. Apalagi menurut Robert Green dalam teorinya, The Art of Seduction, sebenarnya musuh bisa menjadi tambang emas bila mampu memberdayakannya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Baltasar Gracian, kalau musuh seharusnya dimanfaatkan dengan baik karena mampu menunjukkan kelemahan dan kekurangan yang ada. Ataukah harus menunggu momen adanya musuh bersama (common enemy) seperti seperti yang terjadi di Malaysia?

Walau efek pertikaian keduanya tidak sedramatis pertikaian Anwar dan Mahathir, namun kurangnya kemampuan para elit politik untuk bersikap legowo dan saling memaafkan inilah yang membuat konstelasi politik Indonesia menjadi selalu ricuh dengan segala berdebatan dan saling menyalahkan. Sungguh menyedihkan. (R24)

Share On

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here