‘Mata’ Cendana Lindungi Fahri?

Fahri Hamzah dan Anis Matta, duo intelektual PKS
9 minute read

Fahri Hamzah tetap seksi untuk dikupas. Menolak pinangan banyak partai, Fahri mengaku setia pada PKS sekalipun sudah dipecat.


PinterPolitik.com

Wajar mungkin kalau Fahri tidak bisa move on dari PKS. Ada alasan-alasan psikologis dan kedekatan emosional Fahri dengan PKS, partai kader yang dibangga-banggakannya ini. Publik boleh saja termakan alasan ini, bahwa Fahri masih setia pada PKS.

Tapi, sebagai insan intelektual patutnya kita berpikir lebih jauh. Apa yang membuat Fahri tetap kukuh bertengger di jajaran pimpinan DPR? Kalau secara formal tidak ada lagi dukungan politik dari PKS, apakah mungkin ada dukungan informal dari orang di internal PKS?

Sebelumnya, pinterpolitik.com sudah dua kali menduga-duga siapa yang mampu mempertahankan Fahri Hamzah di kursi Wakil Ketua DPR RI. Dugaan pertama adalah Anis Matta, yang merupakan kawan Fahri secara ideologis, sekalipun memiliki latar belakang yang berbeda. Anis mungkin masih “melindungi” Fahri karena Anis masih menjabat di kepengurusan PKS saat ini. (Baca juga: Siapa Peternak Fahri?)

Sementara dugaan kedua adalah Setya Novanto, mantan Ketua DPR yang membela dan selalu dibela oleh Fahri. Pinterpolitik.com sempat menduga bahwa bertahannya Fahri di DPR adalah hasil dari “saling jaga”-nya dia dengan Novanto. Fahri menghalau tekanan KPK kepada kursi Novanto, sementara Novanto melindungi kursi Fahri sebagai pimpinan DPR dari terjangan PKS. (Baca juga: Fahri Lengser Bersama Peternaknya?)

Akan tetapi, setelah banyaknya bantahan Fahri atas tudingan itu, juga fakta bahwa Fahri tak kunjung lengser setelah Novanto sudah lama lengser, jelas bahwa peternak Fahri bukan (hanya) Novanto. Lalu, siapa lagi?

Dari BAKIN sampai KAMMI

Sebelum membahas siapa yang ada di belakang Fahri, tentu penting untuk memahami PKS terlebih dahulu.

Embrio PKS sebagai partai dakwah, tidak dapat terlepas dari sejarah dunia dakwah. Salah satu awal penanda lahirnya institusi dakwah di Indonesia adalah terbentuknya Dewan Da’wah Islam Indonesia (DDII) yang diinisiasi oleh, salah satunya, Mohammad Natsir pada 1967. DDII kemudian melahirkan Jemaah Tarbiyah—yang terinsiparasi dari Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir—pada tahun 1980-an, sebagai organisasi dakwah khususnya di kampus-kampus.

Jemaah Tarbiyah ini dipimpin oleh Hilmi Aminuddin, seorang Ustadz dan pendakwah yang dalam perjalanan sejarahnya turut membentuk Partai Keadilan (PK) sampai menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Hilmi terakhir masih menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro PKS hingga tahun 2015. Sehingga, tentu dapat disimpulkan (atau telah menjadi pengetahuan umum) bahwa pengaruh kuat IM dan dakwah kampus memang menjadi embrio PKS.

Sementara, ada sejumlah pihak yang melihat bahwa Jemaah Tarbiyah sendiri sudah “ditunggangi” oleh Badan Koordinasi Intelijen Indonesia (BAKIN) milik Orde Baru. Koneksi mereka ke BAKIN adalah melalui Suripto Djoko Said, salah satu intelijen sipil andalan Soeharto.

Sebagai sayap sipil BAKIN, Suripto mampu masuk ke jaringan tarbiyah kampus dengan “halus” dan membuatnya mampu melebur di sana. Hal ini kontras, katakanlah, dengan strategi sayap militer BAKIN pimpinan Ali Moertopo yang menggunakan strategi “pancing dan jaring” untuk meng-handle gerakan politik Islam.

Mulusnya jalan Suripto di internal jaringan tarbiyah pun diperjelas olehnya sendiri, yang kemudian juga diamini oleh Ustadz Hilmi Aminuddin. Suripto mengaku bahwa dia memiliki kedekatan dengan Hilmi sejak awal tahun 1990-an. Kedekatan ini diperkokoh dengan Suripto yang menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro saat PKS terbentuk di tahun 2002.

Lebih dari sekadar hubungan institusi intelijen, Suripto pun disinyalir punya akses langsung ke lingkaran Cendana. Suripto, yang menjabat Sekretaris Jenderal di Kementerian Kehutanan tahun 2000, sempat bersinggungan dengan dua insan bisnis Orde Baru, yakni kroni terdekat Soeharto yakni Prayogo Pangestu, bahkan anak Soeharto sendiri, Tutut Soeharto. Nama Suripto, Prayogo, dan Tutut masuk dalam pusara korupsi deforestasi pada waktu itu.

Baca juga :  Fahri 'Usir' KPK

Kedekatan ini, boleh jadi, adalah bukti masuknya pengaruh Orde Baru khususnya Soeharto di internal PKS.

Suripto, orang kepercayaan Soeharto yang masuk dalam lingkaran dakwah PKS (Foto: Tribunnews)

Lalu, di mana Fahri Hamzah? Fahri pun adalah pemimpin salah satu elemen penting berdirinya PK, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Sebagai organisasi dakwah kampus yang didirikan di Malang, Jawa Timur, KAMMI adalah elemen penting pergerakkan intelektual mahasiswa dan kalangan tarbiyah muda dalam pendirian PK, yang terpisah dengan kalangan pendakwah atau ustadz tua di generasi Hilmi Aminuddin.

Perbedaan ini juga diamini oleh Burhanuddin Muchtadi, dalam bukunya Dilema PKS: Suara dan Syariah. Dalam bukunya tersebut, Burhanuddin menyebut para petinggi KAMMI menolak disebut memiliki hubungan formal dengan PKS. Mereka hanya “membidani” PKS, namun bukan kesatuan politik yang selalu integral posisinya satu sama lain.

Friksi kecil kalangan tua-muda—atau ustadz-intelektual—di awal berdirinya PK – kemdudian PKS – ini yang terus mewarnai perjalanan partai tersebut sampai sekarang. Silang pendapat sangat mungkin muncul antar faksi, namun di sisi lain faksi-faksi ini terus dipererat oleh kehadiran Suripto, yang nyatanya juga “menernaki” KAMMI—juga Fahri. Karenanya, di internal PKS hampir tak ada kubu-kubu yang cenderung memecah belah, yang ada hanya faksi-faksi yang saling berbagi jabatan dengan adil satu sama lain.

Sehingga, sebenarnya faksi-faksi ini pun dapat dipetakan “siapa orang siapa”. Katakanlah, ada para alumni Arab Saudi ditambah alumni Jemaah Tarbiyah yang tua-tua, seperti Hidayat Nur Wahid, Salim Segaf Al Jufri, Yusuf Supendi, dan Tifatul Sembiring dalam faksi Ustadz Hilmi. Sementara dalam faksi intelektual muda KAMMI, ada Fahri Hamzah juga Mahfudz Siddiq.

Keterpecahbelahan PKS sepertinya bisa terjadi akibat kasus Fahri belakangan ini. Pihak PKS saat ini, pimpinan Salim Segaf, tengah menjaga stabilitas sambil tetap memaksa menendang Fahri keluar dari partai.

Lalu, ke mana Suripto yang seharusnya “menjaga” soliditas? Apakah justru masih ada pengaruh intelijen Orde Baru di tangan Suripto, sesepuh PKS yang mungkin masih bekerja di balik layar “menjaga” soliditas dan stabilitas partai dakwah ini?

Anis Matta, Tangan Cendana?

PKS menemukan titik balik pasca kasus sapi impor. Kasus korupsi ini begitu menjatuhkan citra partai yang menganggung-agungkan napas agamis. Tindak lanjutnya adalah dipilihnya Anis Matta sebagai Presiden PKS pada 2013, dengan kekuasaan yang berakhir pada 2015. Anis diharapkan mampu menjadi penyelamat citra PKS.

Lalu, siapa Anis Matta? Anis adalah salah satu kader PKS terbaik dan paling cerdas, karena telah menulis sejumlah buku yang banyak menjadi rujukan kaderisasi PKS. Yang menarik, sebagai kader berprestasi, Anis tidak berangkat dari kalangan Tarbiyah. Anis adalah anak kandung Muhammadiyah, begitu kata mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin.

Lalu, apakah Anis juga “diternaki” oleh Hilmi dan Suripto? Memang belum ada indikasi ke sana. Tapi yang jelas, Anis mampu menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PKS di empat kepemimpinan Presiden PKS yang berbeda, sejak 1999 sampai 2013. Ini menunjukkan bahwa Anis memiliki kedekatan hampir dengan semua kalangan internal PKS, termasuk tentunya dengan kalangan Tarbiyah Ustadz Hilmi.

Selama menjabat Sekjen PKS, Anis sempat membuat kontroversi dengan menempatkan Soeharto dalam spanduk kampanye PKS. Anis pun bersikap tegas, bahwa PKS seharusnya turut mendukung wacana memberikan gelar kepahlawanan kepada Soeharto.

Dukungan yang sama juga datang dari kalangan KAMMI. Fahri Hamzah, tentunya, memimpin seruan KAMMI dan mahasiswa angkatan 98, agar upaya rekonsiliasi dengan Keluarga Cendana dapat dijalankan. Fahri menilai, mau tidak mau Soeharto adalah pahlawan bangsa yang berjasa memukul komunisme.

Berkat “agresi” Anis dan Fahri itu, citra PKS dinilai memburuk di kalangan pemuda dan intelektual anti-Orde Baru. Prof. Mochtar Pabottingi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bahkan sempat menebut PKS sebagai “Partai Kroni Soeharto”. Isu Soeharto ini juga menimbulkan kegaduhan di internal PKS, karena faksi-faksi tua yang saat itu masih dipimpin Hilmi Aminuddin menolak wacana ini.

Baca juga :  Polemik Hak Angket KPK
Anis Matta (kiri) dan Hilmi Aminuddin (kanan), dua sosok di balik Fahri Hamzah

Naiknya Anis ke kursi Presiden PKS pada 2013 pun punya banyak aktor di belakangnya. Direktur Eksekutif Global Future Institute Hendrajit bahkan menyebut adanya kedekatan Hary Tanoesoedibjo-Wiranto, bahkan Titiek Soeharto dengan Anis Matta.

Tokoh-tokoh yang lahir di era Orde Baru ini kemungkinan memiliki kepentingan untuk menjaga PKS kembali ke jalur nasionalisme non-agamis. Lebih lagi, PKS sangat mungkin sempat digunakan sebagai “tameng” Cendana, khususnya saat pembelaan Anis-Fahri terhadap pengajuan status pahlawan Presiden Soeharto.

Wiranto dan Hary Tanoe disebut-sebut punya kepentingan menjadikan PKS sebagai partai yang lebih plural. Hal ini terlihat sekali dengan manuver Anis untuk mengadakan Munas di Bali, lalu kemudian sukses membuat Mars PKS dinyanyikan di gereja. Sementara dengan Titiek Soeharto, sebut Hendrajit, Anis memiliki hubungan bisnis via Bimantara Group.

Sehingga, sangat mungkin dukungan kepada kubu Anis-Fahri datang dari orang-orang pro-Orde Baru. Dukungan bisa saja masih hadir dari Suripto-Hilmi (intelijensi-dakwah Orba), Hary Tanoe-Wiranto (bisnis-nasionalisme Orba) sampai Bimantara Group (bisnis keluarga Cendana).

Belum lagi, bila relasi langsung dengan Cendana via Suripto masih ada, maka PKS yang masih memiliki Suripto di belakangnya, mau tak mau juga terkena pengaruh Cendana.

Terlihat samar, tapi “mata” Cendana mungkin masih ada di PKS.

Titiek Soeharto dan Tutut Soeharto

Lalu, ke mana orang-orang lama yang disebut di atas Suripto dan Hilmi? Nama Suripto menghilang sejak kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang menyeret namanya. Namun, beberapa pemberitaan menyebut masih ada pengaruh Suripto sebagai tetua PKS dalam pengusungan calon PKS di Pilkada 2018 ini.

Sementara nama Hilmi memudar setelah dicopot dari jabatan sebagai Ketua Majelis Syuro PKS sejak 2015, digantikan oleh Salim Segaf. Insiden  “pengkhianatan” para kader dakwah terhadap Hilmi ini, oleh beberapa pihak disebut sebagai indikasi lebih dekatnya Hilmi dengan Anis Matta dan Fahri Hamzah. Pasalnya, Hilmi ikut didepak dari kepengurusan PKS bersamaan dengan Fahri, sementara Anis ditempatkan sebagai Ketua Badan Kerjasama Internasional PKS, jauh dari inti kekuasaan PKS.

Lalu, apakah memang Hilmi adalah “peternak” Fahri, yang terhubung kepada Fahri melalui Anis di kepengurusan PKS saat ini? Sangat mungkin terjadi demikian.

“Permainan” Hilmi-Anis-Fahri ini juga menarik untuk disimak secara konseptual. Bila merujuk pada definisi “kader”, maka Anis dan Fahri saat ini mungkin lebih merupakan kader Hilmi ketimbang kadernya para pemimpin PKS. Anis bukanlah kalangan Tarbiyah yang sejalan dengan Salim Segaf, dan begitu pula dengan Fahri yang tidak memiliki kesetiaan pada “elit-elit tua PKS”.

Konsep kroni-kaderisasi mungkin cukup bisa menjelaskan posisi Fahri dan Anis saat ini. Fahri dan Anis mungkin adalah kader dari kroni politik yang lebih besar dari yang kita lihat saat ini. Kroni dakwah Ustadz Hilmi—bila memang sudah “ditendang” dari PKS—hingga kroni besar Orde Baru yang orang-orangnya sudah disebut beberapa kali dalam tulisan ini.

Tapi bagaimanapun, konflik di internal PKS sepertinya tetap tak bisa memecah partai dakwah ini. Mungkin masih ada sosok kuat di belakang PKS yang melindungi faksi-faksi yang bertentangan, sehingga PKS masih kokoh di tengah guncangan.

Atau, mungkinkah kesetiaan setiap kader kepada PKS lahir secara organik, sehingga kokohnya PKS dari perpecahan adalah kesadaran dari lubuk hati para kadernya, termasuk Fahri? Menarik untuk disimak. (R17)

Share On