Massa Jokowi, Militan atau Intimidatif?

sambutan pendukung Jokowi
Foto: Istimewa
6 minute read

Kampanye Prabowo-Sandi kerap disambut oleh teriakan ala militer para pendukung Jokowi.


Pinterpolitik.com

Kehadiran kandidat presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto di Surabaya boleh jadi tak berjalan semulus yang diharapkan. Alih-alih disambut murni oleh sorak-sorai dan yel-yel pendukungnya  sendiri, Ketua Umum Partai Gerindra itu justru malah disambut oleh pendukung lawannya, Joko Widodo (Jokowi) dengan berbagai atribut dan yel-yelnya. “Jokowi wae”, menjadi kata-kata yang harus didengar mantan Danjen Kopassus itu saat tiba di ibu kota provinsi Jawa Timur (Jatim) tersebut.

Meski sambutan yang diterima tak sesuai ekspektasi, tampaknya the show must go on bagi Prabowo, kegiatan kampanyenya tetap berlanjut seperti yang direncanakan. Memang, aksi para pendukung itu tak berwujud pengadangan ataupun boikot, sehingga Prabowo masih sempat melanjutkan agendanya.

Walaupun tak diwarnai boikot, pengadangan, atau bahkan kekerasan, aksi pendukung Jokowi itu tetap mengundang pertanyaan. Pasalnya, kasus seperti itu bukanlah yang pertama kali terjadi. Cawapres Prabowo, Sandiaga Uno misalnya, berkali-kali harus menerima sambutan dari massa Jokowi di kegiatan kampanyenya.

Lalu mengapa para pendukung Jokowi bisa terus-terus bersikap demikian kala kota mereka disambangi Prabowo atau Sandi? Apakah ini menggambarkan militansi mereka, ataukah ada hal lain di dalamnya?

Sambutan Massa Jokowi

Peristiwa di Surabaya ini bukanlah yang terjadi pertama kali bagi pasangan Prabowo-Sandi. Sebelumnya, Sandiaga juga pernah berkali-kali berhadapan dengan massa pro-Jokowi saat menjalankan aktivitas kampanye.

Sandiaga misalnya pernah disambut oleh barisan pendukung Jokowi saat mengunjungi Bojonogero. Pengalaman serupa ia alami ketika ia pergi ke Bondowoso. Kemudian, di Banyuwangi, spanduk bernada dukungan kepada Jokowi sudah lebih dahulu terpampang sebelum Sandi tiba di kota tersebut.

Ada hal menarik dari fakta-fakta aktivitas sambutan pendukung Jokowi kepada Prabowo-Sandi tersebut. Di antara kejadian-kejadian tersebut, sebagian besar terjadi di Jatim. Selain itu, menurut Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, kejadian semacam itu juga terjadi di Jawa Tengah (Jateng).

Jika hitungan Pemilu terdahulu jadi patokannya, wilayah-wilayah  tersebut memang tergolong lebih ramah kepada Jokowi ketimbang kepada Prabowo. Di Jatim, Jokowi mendapatkan 53,71 persen suara pada Pilpres 2014. Angka lebih besar diperoleh di Jateng dengan raihan 66,65 persen.

Kejadian ini kemudian ditanggapi oleh tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Bagi mereka, sambutan pendukung Jokowi kepada Prabowo dan Sandi adalah hal yang wajar. Hal itu bagi mereka menunjukkan militansi para pendukung Jokowi, terutama di wilayah Jatim.

Di kubu pendukung Prabowo, klaim militansi itu coba dimentahkan. BPN misalnya menganggap bahwa sikap pendukung Jokowi itu tergolong ke dalam intimidasi. Sementara itu, para pendukung lainnya menggulirkan opini bahwa massa yang dihadirkan adalah kelompok bayaran.

Dipicu Irasionalitas

Dalam kadar tertentu, sambutan pendukung Jokowi kepada Prabowo dan Sandi ini dapat dianggap sebagai mob mentality atau mentalitas massa. Istilah ini merujuk pada bagaimana orang-orang dapat terpengaruh orang di sekitarnya untuk melakukan tindakan tertentu dengan dasar emosi, alih-alih rasionalitas.

Istilah ini kerap digunakan pada perubahan sikap individu ketika berada di dalam sebuah kelompok. Meski begitu, terminologi ini juga dapat digunakan untuk hal lain terutama yang berkaitan dengan tindakan kelompok dan irasionalitas.

Bukan satu kali saja kampanye Prabowo-Sandi harus berhadapan dengan pendukung Jokowi Click To Tweet

Jika diperhatikan, memang ada dua unsur utama dari aktivitas pendukung Jokowi dalam mengekspresikan diri di hadapan Prabowo atau Sandiaga. Pertama, mereka tampil dalam bentuk massa dan yang kedua, mereka tak menggunakan alasan rasio saat menyambut Prabowo atau Sandiaga. Oleh karena itu, istilah mob mentality bisa digunakan untuk menggambarkan aktivitas tersebut.

Dalam politik, rasionalitas memang kerap kali dikesampingkan oleh masyarakat. Eyal Winter, profesor dari University of Leicester bahkan menyebutkan bahwa memilih adalah sesuatu yang tidak rasional dan emosi selalu dimenangkan dalam proses tersebut.

Winter menyebutkan bahwa perilaku masyarakat yang terus-menerus berdebat dan tidak bisa saling setuju, menggambarkan bahwa ada hal yang lebih dari sekadar rasionalitas. Hal ini menurutnya adalah hal yang bersifat subyektif dan terkait dengan emosi.

Secara spesifik, Pervez Hoodbhoy menggambarkan bahwa ada unsur blind faith atau keyakinan buta dalam mob mentality dalam politik di Pakistan. Pada titik ini, unsur keyakinan buta itu menjadi hal irasional yang memicu mob mentality.

Merujuk pada hal-hal tersebut, sikap yang ditunjukkan dalam sambutan pendukung Jokowi sejalan dengan yang dikatakan oleh Winter. Para pendukung tersebut tampak tak bisa setuju dengan kehadiran Prabowo atau Sandiaga sebagai lawan Jokowi. Memang, hal itu tidak diekspresikan dalam bentuk kekerasan, tetapi tetap saja menggambarkan sikap emosional ketimbang rasional.

Sikap yang tak bisa setuju ini juga sebenarnya dapat terkait dengan unsur blind faith. Boleh jadi, ada unsur keyakinan buta dari para pendukung tersebut kepada Jokowi, sehingga tokoh yang berlawanan akan sulit diterima oleh mereka.

Mengancam Demokrasi

Di satu sisi, sambutan pendukung Jokowi ini boleh jadi menggambarkan militansi mereka kepada kandidat yang didukung. Akan tetapi, sebenarnya jika dibiarkan terjadi terus-menerus, ada potensi jangka panjang yang berbahaya.

Sebagaimana disebut sebelumnya, ada unsur irasional yang terkait dengan keyakinan buta dalam aktivitas tersebut. Jika hal ini terjadi secara berlarut-larut, masyarakat bisa saja menjadi tidak mudah menerima perbedaan karena hanya menghendaki satu kandidat saja yang disukai.

Jika diteruskan berlarut-larut, demokrasi yang ada di negeri ini dapat berada dalam ancaman. Banyak ahli yang menyebutkan ada bahaya mob mentality bagi demokrasi. Dalam kadar tertentu, hal ini bisa memicu mobokrasi atau kerap juga disetarakan dengan oklokrasi.

Istilah oklokrasi disebut-sebut berasal dari Polybius sebelum kemudian diberi istilah informal yaitu mobokrasi. Sistem ini merujuk pada pemerintahan yang dijalankan oleh mob atau massa orang-orang. Dalam tradisi pemikiran Yunani, istilah itu digunakan untuk menggambarkan sebagai sisi buruk dari demokrasi atau pemburukan makna untuk mayoritarianisme.

Sikap para pendukung Jokowi yang irasional terhadap kehadiran Prabowo dan Sandiaga bisa berujung pada hal ini. Sebagai massa, mereka seperti mengatur-atur kandidat mana yang paling berhak untuk hadir di wilayah mereka.

Sekali lagi, memang tak ada boikot atau pengadangan, tetapi sikap mereka yang begitu ekspresif kepada Prabowo dan Sandi terkadang diartikan publik sebagai hal yang intimidatif. Apalagi, ada istilah seperti “Jokowi wae” yang seperti menggambarkan kesulitan untuk menerima perbedaan.

Di luar itu, sambutan pendukung Jokowi ini juga tergolong ironi bagi seorang pemimpin seperti Jokowi. Mantan Wali Kota Solo tersebut terlanjur dikenal dengan persona politik yang ramah dan santun. Selain itu, sebagai pemimpin sipil yang terpilih melalui proses demokrasi, Jokowi dianggap sebagai harapan bagi demokrasi di negeri ini.

Sikap para pendukung tersebut tergolong berkebalikan dengan persona politik Jokowi tersebut. Tak hanya itu, seperti disebut di atas, sikap seperti ini mengancam demokrasi, sehingga harapan demokrasi di bawah Jokowi dirusak oleh pendukungnya sendiri. Hal ini akan tambah fatal jika ternyata benar massa yang hadir adalah kelompok bayaran.

Pada akhirnya, dalam demokrasi, menerima perbedaan adalah hal yang penting. Dalam konteks tersebut sikap irasional para pendukung Jokowi sulit untuk dapat dikatakan demikian. Idealnya, hal ini bisa dikikis agar demokrasi Indonesia yang dianggap menurun bisa kembali membaik. (H33)

Facebook Comments

Baca juga :
Rizal Ramli Menyeret TNI ke Pilpres?