Ma’ruf dan Mistisisme dalam Pilpres

Ma'ruf Amin, Prabu Siliwangi
Ma'ruf Amin membuat klaim sebagai keturunan Prabu Siliwangi. (Foto: Istimewa)
7 minute read

Ma’ruf Amin mengklaim bahwa dirinya adalah keturunan Prabu Siliwangi, hal tersebut tentu kontroversial sebab afiliasi dan sosok Prabu Siliwangi terasa sumir, dia dimitoskan, dan hari ini mitos digandakan demi asosiasi dengan sang cawapres. Soal klaim DNA unggul ini sudah menjadi lagu lama dalam berpolitik, dan Ma’ruf memainkannya demi tentu saja mendulang satu efek yang daya magisnya mampu melontarkannya ke posisi top job di negeri ini


Pinterpolitik.com

Jawa Barat menjadi arena tarung paling sengit antara Jokowi dan Prabowo di pemilihan presiden kali ini, tak ayal berbagai taktik dilakukan demi menyemai dukungan mayor. Kubu petahana mafhum bahwa suaranya masih minor dibandingkan penantangnya yang memiliki basis kuat di Tanah Pasundan. Hal ini penting, sebab Jawa Barat sendiri menggendong 33 juta suara, 17 persen suara nasional.

Di sanalah peran Maruf Amin bekerja, dia harap dihadirkan tidak hanya menjawab suara kalangan islamis, juga mampu menggondol kemenangan dari Jawa Barat. Beberapa kali Ma’ruf menggelontorkan amunisi paket paket program kerja, tak berhenti di sana, dia mulai menempatkan dirinya sebagai anak Banten asli.

Di detik detik terakhir, Tim Suksesnya boleh jadi mulai merasa bahwa nampaknya harus bermain dengan pola yang berbeda, tentu dengan pertimbangan suara pemilih Jokowi semakin melorot. Tercatat beberapa waktu lalu Ma’ruf Amin mengaku bahwa dirinya adalah keturunan Prabu Siliwangi. Alih-alih menjernihkannya melalui basis genetis, hal tersebut bisa dilihat sebagai sebuah strategi politik demi kemenangan di 17 April nanti.

Tarung pilpres tentu tidak hanya soal kekuatan lebih kuat bagi bagi sembako antar kedua kubu, namun juga bagaimana permainan wacana mengoyak pahatan pengetahuan masyarakat.


Sebab basis legitimasi pengetahuan adalah jalan manusia hidup. Kepercayaanlah yang menjadikan manusia mampu menentukan pilihan 01 atau 02, itu pula alasan mengapa hoaks tumbuh subur, dia menyasar hal paling dasar dari manusia, soal pembuatan keputusan.

Tak hanya Ma’ruf Amin, mencari legitimasi dari perkara keturunan ini sebenarnya lazim terjadi di negeri ini.

Kubu oposisi misalnya, juga mengemukakan wacana genetisme politik semacam ini. Prabowo selain memang memiliki keturunan elite bangsa, dia dikabarkan adalah keturunan dari Sultan Agung Mataram, dan pasangannya Sandiaga Uno diretas memiliki darah keturunan dari Sultan Botutihe.

Tak hanya soal keturunan, politik Indonesia juga sempat diwarnai dengan hal-hal supranatural dalam hal lain. Genderuwo misalnya muncul di permukaan entah sebagai bentuk sindiran dari Joko Widodo, ataukah ini adalah maksud lateral. Tak kalah, beberapa hari lalu Amin Rais melontarkan kritik soal banyaknya jin di hotel Borobudur, sehingga tak layak untuk dijadikan tempat perhitungan suara hasil pemilihan umum 2019.

Justru yang menjadi pertanyaan adalah mengapa dalam asumsi demokrasi yang serba rasional, di mana per hari ini semua menggembar-gemborkan soal akal sehat justru diwarnai dengan isu isu yang sifatnya irasional semacam ini? Kondisi ini boleh jadi bisa dikuak melalui pernyataan Ma’ruf Amin.

Efek Magis DNA Ma’ruf Amin

Mistisisme dalam politik Indonesia tentu sudah bukan barang baru, Indonesia sendiri lahir dari kesuburan cerita cerita mistis yang tak pernah luput dari nuansa kebangsaan kita. Cerita mistis ini bisa berupa tokoh nyata namun dengan kekuatan melebihi manusia biasa, atau bahkan cerita dengan kadar supranaturalisme ganda, tokoh dan jalan ceritanya nampaknya tidak hadir di dunia kita, namun di paralel lain.

Selain diisukan adalah keturunan Hamengkubuwono, Soekarno juga dikabarkan sering bertapa di Alas Purwo, bahkan berdasarkan cerita yang beredar Soekarno memiliki hubungan spesial dengan Nyi Roro Kidul.

Tak hanya Soekarno, Soeharto pun sama, bahkan Soeharto sendiri mengklaim bahwa dia adalah raja jawa. Soeharto memimpin Indonesia sebab dia merasa dialah titisan yang mengharuskannya sebagai raja jawa.

Meski tidak pernah mau diasosiasikan dengan tokoh mana pun, dan justru selalu menghadirkan diri sebagai seorang anak petani yang menjadi presiden, paradoks muncul tatkala Soeharto sendiri mengklaim melalui logika siklus orang hebat yang akan hadir dari masa ke masa, ditambah bahwa ada keyakinan dalam diri Soeharto dialah titisan raja jawa melalui kelahiran kembali sosok dengan ruh raja jawa pendahulu.

Menilik masyarakat Indonesia yang dalam analisis materialis hidup di ring fire, ada kecenderungan dan pola yang sama dengan yang terjadi di Jepang, di mana masyarakatnya sangat kental dengan budaya mistis, serba spiritual. Sebelum pengetahuan modern kukuh sebagai alat eksplanasi terhadap realitas, mitos digunakan masyarakat sebagai piranti penjelas realitas.

Apa apa yang nampak irrasional bagi masyarakat akan dikaitkan dengan hal-hal yang di luar jangkauan manusia. Di Jepang hal tersebut paling mudah tergambarkan dari manifestasi legenda berupa Godzilla, dimana dia adalah jelmaan dari banyaknya gunung berapi di Jepang, sebaliknya Mothra adalah sang pelindung pulau pulau Jepang.

Di Indonesia sendiri hal tersebut masih sangat lazim kita dengar, semacam Gunung Merapi meletus sebab Petruk sedang mengamuk, juga legenda legenda yang marak ditemukan di sekeliling kita.

Ma'ruf Amin Menggondol DNA Prabu Siliwangi, Mistisisme dalam Pilpres 2019 Click To Tweet

Hal ini tergambar dari sejarah bangsa Indonesia dimana masyarakat berjibaku dengan aliran animisme-dinamisme. Tatkala Hindu Buddha datang, seluruh kepercayaan ini terangkut ke dalamnya. Dengan mayoritas beragama monoteis, yang merevolusi cara manusia bertuhan sebagai antitesa terhadap agama agama dunia, Islam dan Kristen menghadirkan diri sebagai logos, yang rasional, yang menggugat ketidakwarasan dalam beragama.

Kasus Indonesia menjadi yang menarik, sebab Islam masuk lewat akulturasi, sehingga yang terjadi adalah tidak bersihnya sisa kepercayaan masa lalu dengan kepercayaan yang hari ini dianut, yaitu agama samawi, muncullah hari ini disebut sebagai Islam kultural, basisnya jelas mereka yang berada di barisan NU, dan barisan inilah yang menjadi salah satu kekuatan besar di politik Indonesia, dengan total suara yang diperebutkan sekitar 80-90 juta suara, atau hampir setengah dari suara Pilpres nasional 2019.

Maka jelas apa yang coba disasar Maruf tidak hanya orang Islam Sunda, namun orang Jawa seutuhnya, mereka yang jawa dan sekaligus NU, tak heran jika di kesempatan sebelumnya dia membeberkan klaim memiliki silsilah dari kalangan Kyai Madura.

Penebaran wacana semacam ini tentu lebih mudah diterima oleh kalangan bawah, sebab investasi mereka soal Pilpres adalah investasi akhirat, mereka tidak bisa berinvestasi kekuatan ekonomi politik seperti para elite. Wacana ini menjadi penting dan alat transaksi utama di kalangan bawah.

Ma'ruf Amin, Prabu Siliwangi

Refleksi

Kemagisan semacam ini yang coba dipertontonkan oleh Ma’ruf. Tentu perilaku magis ini bukan barang baru. Sekurang-kurangya seorang filsuf sekaligus penyeru demokrasi antagonis seperti Ernesto Laclau sudah pernah membahasnya.

Dalam pandangan Laclau, dia melihat ada obsesi manusia modern terhadap logos, namun nampaknya hal tersebut adalah pseudo-logos, bukan rasio yang murni. Dia mencontohkan bagaimana manusia modern justru memunculkan mistisismenya sendiri.

Laclau menuduh bahwa merek adalah jimat yang mistis hari ini. Sebab antara jimat dengan merek memiliki cara kerja yang sama. Padahal jimat adalah barang barang biasa yang ketika diberikan ritual tertentu dia seakan akan menjadi magis, menjadi serba sakti mandraguna.

Merek juga demikian, nyatanya harga pokok dari pembuatan suatu barang jauh lebih murah dibanding harga jualnya, kedua ada satu daya magis tertentu yang menjadikan entah mengapa pemakai akan merasa bangga tatkala menggunakan barang barang branded. Artinya antara jimat dan merek memiliki nilai magis tertentu, sebab ada mistisisme di belakangnya, soal label keren, soal label pembawa keberuntungan, dan lain sebagainya.

Ma’ruf Amin menggunakan hal yang sama, dia menaruh label dalam dirinya, yang mistis. Bahkan tokohnya pun masih diperdebatkan hingga hari ini, untuk mendapatkan satu daya magis, daya yang akan menghantarkannya menuju puncak tertinggi kekuasaan di negeri ini.

Mistisisme dalam politik hanya menjadi pengerasan atas politik yang berbasis pada identitas, tertutup pada mereka yang berdarah biru semata, serta bercorak feodal, yang kesemuanya adalah lawan dari demokrasi. Dan di sanalah letak pernyataan Ma’ruf Amin. Ma’ruf Amin adalah Kiai yang menjadi jimat di milenium ini.

Lalu, pertanyaannya adalah, apakah label keturunan Prabu Siliwangi ala Ma’ruf ini akan jadi jimat yang ampuh untuk memberikan kemenangan? Jawabannya boleh jadi baru akan terjawab setelah 17 April nanti. (N45)

Facebook Comments