Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi?

Ma’ruf Amin Cawapres Jokowi?
Istimewa
7 minute read

Usianya sudah memasuki 75 tahun, namun pengaruh yang dimiliki KH Ma’ruf Amin terhadap umat Islam sangatlah dibutuhkan Jokowi.


PinterPolitik.com

“Kunci dari suksesnya kepemimpinan adalah pengaruh, bukan kekuasaan.” ~  Ken Blanchard

Deretan papan bunga memenuhi muka Gedung Muamalat, Senin (12/3) lalu, salah satunya tertera dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Malam itu, KH. Ma’ruf Amin memang tengah menyelenggarakan acara peluncuran buku biografi dirinya sekaligus peringatan hari kelahirannya yang ke 75 tahun, pada 11 Maret, di gedung tersebut.

Sosok kiai sepuh ini tidak asing lagi bagi masyarakat, terutama warga Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan namanya sempat menjadi perbincangan, saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berseteru dengannya. Secara mantap, ulama kelahiran 1943 ini, datang ke pengadilan sebagai saksi ahli dan menyatakan Ahok telah menyakiti hati umat Islam.

Ketika itu, KH Ma’ruf Amin menjadi saksi ahli di pengadilan kasus penodaan agama Ahok. Sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), beliau harus mempertanggungjawabkan fatwa yang dikeluarkan organisasi tertinggi para ulama ini, terkait tudingan penodaan agama mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Adanya fatwa MUI yang menyatakan Ahok tak hanya menghina Alquran tapi juga ulama ini, tentu menjadi keabsahan bagi umat Islam untuk meminta mantan Bupati Belitung Timur itu dibawa ke meja hijau. Bahkan setelah fatwa itu keluar, nyaris tujuh juta umat Muslim turun ke jalan dalam aksi fenomenal bertajuk Aksi Bela Islam 212.

Namun pengaruh Ma’ruf Amin baru benar-benar terlihat, ketika Ahok secara emosi mengeluarkan kata-kata yang tak pantas pada Rais Aam Syuriah NU ini. Sontak, tindakan Ahok semakin menjadi blunder bagi dirinya. Bahkan pihak PBNU yang awalnya sempat memihak Ahok, seperti KH Said Aqil Siradj, pun mengecam perbuatan tersebut.

Dari fakta di atas, terlihat kalau kiai kelahiran Banten ini memiliki pengaruh yang cukup besar. Bukan hanya dari kalangan NU, sebagai organisasi Islam terbesar di negeri ini, tapi juga umat Islam lainnya. Jadi tak heran bila Ketua Umum PPP Rommahurmuziy (Romi) menyatakan kalau sebenarnya cawapres yang dibutuhkan Jokowi adalah Ma’ruf Amin.

Hanya saja, mampukah pengaruh Ma’ruf Amin di sisi Jokowi mampu mendongkrak elektabilitasnya? Lalu mungkinkah mantan dewan pertimbangan presiden (Watimpres) di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, bisa mendampingi Jokowi di Pilpres 2019 nanti? Terutama karena beberapa tokoh NU lainnya pun masuk dalam daftar cawapres Jokowi.

Baca juga :  Ali Mochtar Ngabalin, Dari Lawan Jadi Kawan

Penerus Ulama Besar

“Pikir baik-baik sebelum bicara, karena kata-kata dan pengaruhmu akan menghasilkan kesuksesan maupun kegagalan dalam pikiran orang lain.” ~ Napoleon Hill

Sepanjang karir politiknya, nama Ma’ruf Amin memang seakan tenggelam dibanding ulama besar NU lainnya, seperti Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Namun sebenarnya, dari segi silsilah, Ma’ruf memiliki pendahulu yang bahkan jauh lebih berpengaruh di bidang tafsir Islam.

Sebagai putra dari KH. Mohammad Amin, ulama besar yang terkenal di wilayah Barat Tangerang, Ma’ruf lebih banyak menghabiskan pendidikannya di madrasah dan pesantren, yaitu Pesantren Citangkil Cilegon, Banten, dan Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur.

Keluarga Ma’ruf memiliki latar belakang NU yang kuat, sehingga orangtua Ma’ruf sempat melarang putranya nyantri ke Pondok Pesantren Modern Gontor, Jawa Tengah. Alasan utamanya karena pesantren Tebu Ireng lebih beraliran salafiah dan didirikan oleh KH. Hasyim As’ari, sang pendiri NU.

Alasan lainnya, kakek Gus Dur tersebut juga merupakan murid dari Syekh Nawawi Al-Bantani (1730-1813), ulama terkemuka asal Banten yang menghabiskan waktunya belajar di Mekkah. Secara tak langsung, Ma’ruf memang masih memiliki ikatan darah dengan ulama yang pernah menjabat sebagai Imam Masjidil Haram ini.

Bahkan pada tahun 2001, Ma`ruf Amin mendirikan Pesantren untuk melanjutkan perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani. Nama pesantren itu Pesantren An-Nawawi yang berlokasi di Desa Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten, dan merupakan tempat kelahiran dari Syekh bergelar “Bapak Kitab Kuning Indonesia” tersebut.

Syekh Nawawi sendiri, konon juga memiliki nasab (keturunan) dengan salah satu anggota Wali Songo – penyebar agama Islam pertama di Pulau Jawa, yaitu Syarif Hidayatullah (Sayyid Al-Kamil) atau Sunan Gunung Jati. Walau berasal dari Banten, namun Sunan Gunung Jati lebih terkenal di Cirebon, tempat beliau dimakamkan.

Seperti juga para leluhurnya, Ma’ruf dikenal sebagai ulama yang mumpuni di bidang agama. Beliau terkenal sangat fasih dalam ilmu fiqih (hukum agama Islam). Bahkan Katib Syuriah PBNU Asrorun Niam Sholeh menyebutnya sebagai top of the top pimpinan ulama dan panutan mayoritas umat Islam.

Pria lulusan Universitas Ibnu Khaldun ini bahkan menjadi orang pertama yang menggagas terbentuknya bank syariah pertama di Indonesia, sehingga mendapatkan anugerah Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) untuk bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga sebagai Guru Besar di bidang Mu’amalah Syar’iah di Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Cawapres Terhalang Usia?

“Jika Anda berada diposisi yang dapat mempengaruhi orang lain, maka Anda adalah seorang pemimpin.” ~ Sheri L. Dew

Dari segi agama, sosok Ma’ruf Amin dihadapan umat Islam memang memiliki kharisma tersendiri. Selain latar keluarganya yang tersohor dan pendidikan agamanya tinggi, beliau saat ini juga menduduki dua posisi strategis, yaitu menjadi Rais Aam Syuriah NU dan Ketua Umum MUI. Kedua posisi ini, tentu memberinya tak hanya pengaruh besar tapi juga kekuasaan dalam menggalang massa.

Baca juga :  Mungkinkah Ibu Kota Pindah?

Pengalaman politik Ma’ruf Amin pun, tak sedikit. Beliau punya pengalaman di parlemen, baik anggota DPRD, DPR, maupun MPR. Walau awalnya bergabung di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), namun bersama Gus Dur, beliau ikut melahirkan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro pertama.

Bahkan dari sisi pemerintahan, Ma’ruf Amin terpilih sebagai anggota Watimpres dalam dua periode kepemimpinan SBY. Pengalamannya sepuluh tahun ikut membantu presiden mengelola negara, tentu menjadi nilai tambah tersendiri bagi Ma’ruf Amin bila dicalonkan sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Pengaruh Ma’ruf Amin yang disegani umat Muslim, kemampuan perekonomian perbankannya yang mumpuni, dan pengalamannya sebagai watimpres, memang memenuhi semua kriteria wapres yang diharapkan Jokowi. Seperti yang dikatakan Romi, dengan menggaet Ma’ruf Amin, Jokowi akan dengan mudah merangkul massa Islam, bahkan alumni 212 sekalipun.

Namun, ada satu kendala yang mungkin akan membebani Jokowi, yaitu usia Ma’ruf yang sudah cukup senja. Walau Wapres Jusuf Kalla pun saat ini berusia 75 tahun, namun Jokowi sendiri berharap pendampingnya nanti bisa ikut merangkul generasi Milenial yang kemungkinan akan berjumlah 52 persen atau setara dengan 100 juta orang dari jumlah pemilih.

Sejauh ini, Ma’ruf Amin sendiri belum banyak berkomentar tentang pernyataan Romi tersebut. Namun bagi warga NU, dimasukkannya nama beliau menjadi harapan tersendiri. Bahkan beberapa nama lainnya, seperti Ketua PBNU Said Aqil Siradj dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD pun ikut digadang menjadi cawapres.

Untuk menggaet umat Islam, para petinggi NU memang menjadi salah satu alternatif bagi Jokowi untuk dipertimbangkan. Bahkan Ma’ruf sendiri sudah menyindir niatan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) untuk bisa dipilih Jokowi. Ketua Umum PKB tersebut, menurut Romi, kelihatan resah saat nama Ma’ruf Amin ia ajukan ke Jokowi.

Sebagai sosok ulama besar, Ma’ruf Amin memang sepertinya memiliki posisi penting bagi Jokowi. Tak heran bila belakangan Presiden ketujuh tersebut, kerap terlihat bergandeng mesra dengan Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) ini. Namun apakah Jokowi akan memilihnya menjadi cawapresnya di pertarungan tahun depan? Sepertinya kecil kemungkinan. (R24)

Share On