Koruptor Metal, PDIP Mental

Koruptor Metal, PDIP Mental
Koruptor metal? (Foto: istimewa)
3 minute read

“Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi, tapi yang selingkuh.” – Goenawan Mohamad


PinterPolitik.com

Lagi asyik-asyiknya nonton TV, eh Abdul malah dikagetkan dengan berita operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK.

Gilak, ini koruptor yang ketangkep kok ga ada habisnya?

Padahal sekarang lagi bulan puasa, tapi korupsinya nggak berhenti. Menariknya lagi, yang ketangkep ini kan Bupati Purbalingga yang namanya Koperdi – eh maksudnya Tasdi, kalau Koper mah dijinjing ya? Hahaha.

Saat digiring di gedung KPK, eh si Tasdi ini malah tanpa rasa bersalah mengacungkan salam metal. Itu loh salam yang dulu terkenal pas zaman Pak Jokowi nyalon di Pilkada DKI Jakarta 2012 lalu.


Metal brooh!

Lha, ini metal kok korupsi!

Tapi, pada tau nggak sih asal muasal simbol yang kalau ditulis biasanya menggunakan huruf “m” dengan dua garis menyilang alias “\m/” ini?

Setelah Abdul telusuri, ternyata simbol itu sudah dipakai sejak zaman Hindu kuno. Sebutannya “apana yogic mudra”, dalam istilah klasik India artinya ‘singa’. Sidharta Gautama juga kerap menggunakan simbol tersebut ketika bermeditasi untuk membendung serangan roh-roh jahat.

Dalam musik, gestur sign of the horns ini pertama kali digunakan oleh Ronnie James Dio, vocalis band Black Sabbath yang menggantikan Ozzy Osbourne. Sejak saat itulah gestur yang di beberapa negara Mediterania dan Latin dianggap ofensif ini menjadi identik dengan musik rock dan metal.

Pakde Jokowi disebut sebagai “Presiden metal” juga gara-gara gestur itu, selain karena beliau memang suka musik cadas tersebut.

Di politik, gestur ini anehnya sering digunakan sebagai simbol nomor 3. Tentu saja dengan ibu jari yang ditonjolkan keluar, biar pas 3 jumlahnya dengan telunjuk dan kelingking. Biasanya sih digunakan untuk menunjukkan nomor urut partai atau pasangan calon yang bertarung di Pilkada atau Pemilu.

Ternyata eh ternyata, untuk Pemilu 2019 nanti, nomor urut 3 adalah kepunyaan si banteng PDIP. Ternyata eh ternyatanya lagi, Bupati Purbalingga si Tasdi itu adalah juga kader PDIP.

Jadi, maksudnya gimana nih? Korupsi, lalu kasih simbol nomor 3 biar sekalian kampanye gitu?

Lha, bukannya nanti orang-orang pada nggak mau pilih PDIP ya karena dianggap sebagai partai korup?

Menurut Abdul sih lucu juga ya. Ini kayak kampanye model baru. Tapi, apa nggak takut hasilnya nanti bakal negatif bagi citra PDIP?

Bro, citra anak metal juga ternodai lah. Jangan biacara partai mulu!

Iya juga sih. Ini mah pelecehan buat citra anak metal. Lama-lama bakal ada “Aksi Bela Metal” gara-gara si Tasdi ini.

Sementara buat PDIP, citra partai bakal mental nanti di Pemilu gara-gara korupsi. Apalagi, 4 dari 10 OTT yang terjadi di 2018 menimpa kader atau tokoh yang diusung partai banteng.

Hmm, ini kampanye atau apa sih? Abdul bingung. (S13)