Korupsi dan Rupa

Korupsi dan Rupa
Foto: istimewa
3 minute read

Cerita ini bagaikan episode sinetron yang tidak ada habisnya.


PinterPolitik.com

Ini bukan kisah tentang Leonarda Emilia – ‘Robin Hood’ perempuan dari Meksiko yang membagi-bagikan rampokannya untuk orang miskin, atau Prometheus, sang pencuri api dari dewa yang diberikan untuk manusia. Ini tentang mereka-mereka yang mengambil bagian yang bukan menjadi haknya untuk memperkaya dirinya sendiri.

Banyak yang bilang, prilaku korupsi yang dilakukan oleh politisi dan kepala daerah sangat berkaitan dengan gaya hidup. Semakin mewah gaya hidup seseorang, maka semakin tinggi kecenderungan untuk korupsi.

Gaya hidup selalu berkaitan dengan bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain. Ada gengsi dan ada kebanggaan berlebihan.


Dalam fisika, ada teori yang mengatakan bahwa semakin besar gaya, maka akan semakin besar pula tekanan yang terjadi. Teori ini juga terjadi dalam politik dan pemerintahan terutama dalam hubungan dengan prilaku korupsi.

Saya teringat kata-kata seorang driver ojek daring yang beberapa bulan lalu mengantarkan saya ke stasiun Pasar Senen.

“Pemimpin yang baik adalah mereka-mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”, demikian kata-katanya waktu itu ketika kami berdiskusi tentang situasi politik nasioal belakangan ini. Saya sempat lama memikirkan kata-kata itu.

Mungkin ini ya yang bikin banyak koruptor perempuan belakangan makin cantik-cantik saja! Eh, awas bias gender, Dul!

Lalu, saya sadar bahwa masyarakat saat ini memang semakin cerdas melihat pemimpinnya. Jika seorang pemimpin belum selesai dengan dirinya sendiri, maka ia masih akan terus berusaha untuk memperkaya diri, atau memperkuat kekuasaan, atau bahkan mempertampan dan mempercantik dirinya – seringkali tanpa mempedulikan kondisi masyarakat.

Faktanya, ketampanan dan kecantikan saat ini telah menjadi ‘komoditas perdagangan’ yang tidak murah loh. Tanyakan pada sales-sales produk kecantikan di mall-mall!

Untuk menjadi tampan – apalagi cantik – butuh biaya yang tidak sedikit, berikut embel-embel ketajiran, misal mobil mewah, kaca mata mahal, perhiasan, tas, dan lain sebagainya. Gengsi dan harga diri seolah jatuh jika sekelas pemimpin daerah menggunakan barang murah. Memang masyarakat kita adalah masyarakat korban iklan!

Lihat kasus First Travel. Uang ratusan miliar yang seharusnya digunakan untuk pembiayaan ibadah orang banyak, malah dipakai seenaknya untuk bermewah-mewah. Ini bukan korupsi tentunya, tetapi kasus ini membuktikan bahwa gaya hidup telah menjadi batu sandungan bagi banyak orang.

Yang disayangkan adalah jika uang rakyat dikorupsi untuk sekedar pemenuhan gaya hidup tersebut. Alamak, wajah cantik atau tampanmu tidak kau bawa mati, tapi perilaku dan tindak-tandukmu, itulah yang jadi bukti.

“Puitis kali kau, Dul. Kayak sastrawan-sastrawan pujangga baru – alias pujangga baru kemarin sore”.

Ah, mengapa tulisan ini akhirnya menjadi tidak lucu? Mungkin kau lelah, Dul, dan ini sudah weekend. Yang penting berdakwah. Merdeka! (S13)

 

Baca juga :
Budi Gunawan Makin Mulus di Senayan?

Related Posts

Facebook Comments