Kompetisi Antar Saudari Ala Rachmawati

7 minute read

Tak hanya menempati gerbong kelompok oposisi pemerintah Jokowi, Rachmawati juga ‘memecah’ hubungan antar saudari trah Soekarno.


PinterPolitik.com

Nama Rachmawati Soekarnoputri barangkali akan sulit dilepaskan dari sosok dua saudari lainnya, yakni Megawati dan Sukmawati Soekarnoputri. Bagaimana tidak, dua saudari tersebut tak luput dari sasaran ‘tembak-nya’.

‘Tembakan’ yang dimaksud tentu saja kritik dan komentar pedas yang keluar dari mulut putri ketiga Soekarno ini. Jika tembakannya kepada Megawati sudah sering terdengar, kini Rachmawati turut ‘menembak’ Sukmawati Soekarno, adiknya.

Dalam acara Haul Bung Karno ke-48 di Universitas Bung Karno yang jatuh pada Kamis (18/06) lalu, Rachmawati berkata jika penodaan agama yang dilakukan adiknya lebih parah daripada Ahok. Hal itu dinilainya dari keberadaan puisi berjudul Ibu Indonesia, yang otentik dan sah, bisa digunakan sebagai landasan polisi meningkatkan kasus ke tahap penyidikan.

Tapi apa daya, penyidikan terhadap kasus penodaan agama Sukmawati, resmi dihentikan karena penerbitan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Dari sini, bukan hal yang mengejutkan bila selanjutnya Rachmawati berkomentar bahwa kemunculan SP3 dalam kasus Sukma merupakan bentuk politisasi.  

Komentar yang dikeluarkan Rachmawati terhadap Sukmawati — yang dilakukannya sembari menerima penghargaan Pejuang Kebangsaan dari Neno Warisman — makin menambah panjang daftar konflik yang terjadi antar saudari dari trah Soekarno dan Fatmawati.

Bukanlah rahasia bila tiga puteri Soekarno, yakni Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati, dikabarkan tak akur satu sama lain. Bukti paling kentara memang bisa dilihat melalui sepak terjang politik ketiganya. Apapun yang dilakukan Megawati, sudah tentu mengundang kritik dan komentar pedas dari Rachmawati. Hal sama berlaku pula pada Sukmawati.

Menariknya, dibandingkan dengan Rachmawati, baik Megawati dan Sukmawati, jarang, atau bahkan tak pernah terlihat sama sekali membalas tembakan kritik dan komentar pedas Rachmawati. Pemandangan paling kontras juga bisa dilihat dari ‘adem ayemnya’ Guntur dan Guruh di dalam perseteruan ketiga saudara perempuannya.

Persaingan antar saudari ini, mengingatkan pada pernyataan Sigmund Freud seputar sibling rivalry (persaingan antar saudara kandung). Pernyataan Freud, yang menjadi dasar teori Oedipus Complex yang populer tersebut, memang kerap disepelekan secara saintifik karena dianggap berdasar asumsi dan terlalu menggeneralisir. Namun, Freud menangkap adanya kesamaan pola perilaku dan hubungan antar saudara kandung yang ditemuinya.

Freud berkata bahwa saudara kandung cenderung memperlakukan saudara kandung lainnya dengan buruk. Biasanya, anak tertua kerap berbohong bahkan merebut mainan anak yang lebih muda, sementara yang muda ini akan terisi kemarahan tak terkontrol, iri hati, sekaligus ketakutan. Freud berteori jika saudara kandung ini berlomba-lomba mendapatkan perhatian dan cinta orang tua.

Apa yang digariskan oleh Freud, dilengkapi oleh Shawn D. Whiteman, Susan M. McHale, dan Anna Soli dalam Theoritical Perspective on Sibling Relationships, bila pola tersebut juga dipengaruhi oleh elemen pembelajaran sosial tiap individu, psikologi sosial, dan juga perspektif sistem ekologi keluarga.

Nah, bila berangkat dari elemen di atas, lantas apa yang menyebabkan Rachmawati dianggap sebagai ‘pemicu konflik’ antar saudari? Apa kisah apa di belakangnya?

Persaingan dan Benci Antar Saudara

Dalam hubungan yang ideal antar saudara kandung, J. Dunn dalam Handbook of Socialization menggambarkan bahwa keberadaan saudara kandung merupakan titik sentral bagi seorang individu menemukan pertemanan (companions), orang kepercayaan (confidants), sekaligus panutan.

Tetapi, penggambaran ideal tersebut juga menemui kendala dan dinamika sehingga  melahirkan bentuk sibling rivalry. Uniknya, Department of Health dari Government of South Australia menyebut, salah satu pencetus ketidakharmonisan hubungan antar saudara kandung adalah jangka usia yang tak berbeda jauh. Elemen ini diikuti oleh perubahan kebutuhan, tingkat kecemasan, hingga peranan orangtua.

Lebih jauh lagi, Department of Health dari Government of South Australia menjelaskan jika saudara kandung yang mempunyai usia hampir sama akan lebih cenderung berkelahi dan berkompetisi lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang mempunyai jeda umur lebih jauh. Jika merasa diperlakukan tidak adil oleh orang tua, mereka akan langsung bersikap agresif terhadap saudara mereka.

Bila menakar hubungan antara Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati, faktor usia bisa dimasukan sebagai salah satu penyebab ketidakharmonisan yang terjadi. Tentu saja bila ini diukur melalui kacamata Government of South Australia. Perbedaan usia Megawati dengan Rachmawati hanya berjarak 3 tahun saja. Megawati lahir di tahun 1947 (71 tahun), Rachmawati lahir di tahun 1950 (67 tahun), dan Sukmawati lahir di tahun 1951 (66 tahun).

Namun bila menelusuri lebih mendalam, hubungan ketiganya saat ini juga tak bisa dilepaskan dari peranan orangtua. Selain elemen yang diteliti oleh Government of South Australia, sibling rivalry juga disponsori oleh kecenderungan orangtua yang cenderung masih mengunggulkan anak sulung mereka. Hal ini dijelaskan dalam Journal of Family Psychology pada tahun 2015. Mayoritas orangtua mengatakan bahwa anak sulung mereka lebih baik, terlepas dari kenyataan bahwa rata-rata, saudara yang lain melakukan hal yang sama.

Guntur Soekarnoputera (sumber: Detik)

Dibandingkan Guntur sebagai anak tertua, Soekarno memang lebih sering memuji dan memperhatikan Megawati. Hal ini bisa dipahami, mengingat Fatmawati memutuskan minggat dari istana dengan membawa Guntur, karena Soekarno memutuskan menikah lagi dengan Hartini. Fatmawati meninggalkan empat anak lainnya, yakni Megawati, Rachmawati dan Guruh bersama Soekarno di istana. Dengan keadaan demikian, Megawati otomatis menjadi anak tertua di istana.

Menilik apa yang dituliskan Angus McIntyre dalam The Indonesian Presidency: The Shift from Personal toward Constitutional Rule, diceritakan bagaimana Soekarno kerap membawa Megawati bekerja dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. McIntyre juga mencatat bagaimana Soekarno kerap berbincang soal karir yang ingin dijajaki oleh Megawati. Soekarno kerap berkata di hadapan koleganya jika Megawati adalah anak sejatinya karena cita-cita ‘luhur’ Megawati yang ingin menjadi ilmuwan pertanian. Tak hanya soal karir dan pendidikan, bahkan perhatian Soekarno kepada Megawati juga tercetak saat memilih calon suami.

Di sisi lain, McIntyre menangkap pula jika kehadiran Soekarno kepada tiga anak lainnya di istana tidak terlalu signifikan, karena kesibukannya sebagai abdi negara. Rachmawati, walau menjadi pemerhati ayahnya, perhatian kepada dirinya tak seintens yang didapatkan oleh Megawati. Saat memutuskan menikah pun, Soekarno tak meminta banyak syarat kepada calon suaminya untuk menikahi Rachmawati.

Rachmawati makin tertampar saat melihat bagaimana ayahnya dilemahkan saat rezim Orde Baru bangkit. Dalam otobiografinya, Rachmawati akhirnya memahami alasan mengapa ayahnya bersikap ‘melawan’ (rebel) saat menghadapi kasus Wisma Yaso. Ia terlepas dari koneksi dunia luar, tak bisa berbuat apa-apa, hingga mengalami depresi. Penggambaran ini mengganggu Rachmawati dan masih menghantuinya hingga hari ini.

Dari sana, kata trauma menjadi penggambaran yang kerap dipakai Rachmawati saat mengingat sepak terjang politik ayahnya. Dari keadaan itu pula, sebuah konsensus dalam keluarga untuk menjauhi politik pun dibangun. Dari sini, kemarahan dan sikap agresifnya terhadap Megawati seakan dapat dipahami, sebab selain sudah melanggar kesepakatan, Megawati dianggap bergerak melenceng jauh dari ideologi Marhaenisme yang menjadi dasar ideologi berpolitik Soekarno.

Walau bukan menjadi anak yang ‘diidolakan’ ayah, Rachmawati awalnya kerap digadang sebagai anak yang paling dekat secara ideologis. Hal ini tertulis dalam Partai Politik pun Berguguran yang ditulis oleh Denny JA. Sikap ‘permusuhan’ yang memang berawal dari ideologi dan latar belakang psikologis tersebut, kini sudah mengalir lebih jauh ke arah perebutan kekuasaan politik.

Perselisihan di Ranah Politik

Seperti yang sudah disebutkan di awal, Rachmawati mantap memposisikan dirinya sebagai lawan dari Megawati dan juga Sukmawati – dari kasus puisi Ibu Indonesia. Dapat dikatakan, Rachmawati menempati gerbong kelompok oposisi pemerintah. Tentu saja posisi politiknya ini masih berhubungan dari perseteruan dengan sang kakak, sebagai pemimpin partai yang sedang mendominasi.

Persaingan antar saudari yang kentara ini, sebetulnya juga sudah berlangsung jauh sebelum polarisasi Jokowi VS Prabowo terbentuk. Di tahun 2000-an, Rachmawati berhasil mengambil suara pendukung PDI Perjuangan yang kecewa dengan membangun Partai Pelopor.

Rachmawati Soekarnoputri (sumber: Detik)

Tak tanggung-tanggung, partai ini didukung oleh tokoh-tokoh Islam seperti Habib Rizieq, Emha Ainun Najib, hingga Fuad Bawazier. Polarisasi secara kental terbentuk di daerah Sragen, Jawa Tengah, saat itu, dengan menyebut PDI Perjuangan sebagai partai ibu, dan Partai Pelopor, yang diinisiasinya, sebagai partai tante.

Mulai dari titik tersebut, langkah Rachmawati yang agresif terhadap Megawati, yang menurut McIntyre, terindikasi oleh keadaan psikologis, kini ‘membesar’ menjadi kompetisi mendapatkan kekuasaan. Pada akhirnya, dunia politik bagi Rachmawati, selain dipandang sebagai arena mengkonfrontasi Megawati dan Sukmawati yang berseberangan secara pandangan politik, juga ajang pertarungan memperoleh kekuasaan. Dengan demikian, kompetisi merebut kekuasaan menjadi biang konflik, seperti yang diistilahkan oleh Maurice Duverger, sosiolog asal AS, bagi hubungan tiga saudari Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati.

Keberadaan Rachmawati sebagai bagian dari polarisasi politik nasional sekaligus ‘pemecah’ dalam trah keluarga Soekarno, mengingatkan pada apa yang pernah disampaikan oleh Philip Meyer, penulis fiksi asal AS, persaingan antar saudara kandung memang kerap mengantarkan seseorang pada kompetisi paling pahit nan tak berujung. (A27)

Share On
Baca juga :  Suu Kyi - Mega, Serupa Tapi Tak Sama