Koalisi Tiga Partai Pecah?

Koalisi Tiga Partai Pecah?
2 minute read

Pilgub Jatim pada akhirnya mengerucut ke dua pasangan saja. Sementara koalisi Gerindra, PKS, dan PAN yang awalnya ingin mengusung poros baru, pada akhirnya pecah.


PinterPolitik.com

“Bubar sih tidak, tapi menghormati pilihan masing-masing.”

Itulah alasan yang disampaikan Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno, mengenai keputusan partainya untuk memihak ke pasangan yang berbeda dengan Gerindra dan PKS. Bagaimana pun juga, PAN tentu akan memihak kubu di mana partai besannya (baca: Demokrat) berada, yaitu pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak.

Berpisahnya PAN dari Gerindra dan PKS yang telah resmi memilih bergabung dengan Gus Ipul, merupakan pertanda bahwa poros emas yang awalnya hendak dibangun ketiga partai tersebut telah gagal. Apalagi strategi menjegal PDI Perjuangan agar bercerai dengan PKB pun gatot alias gagal total.

Kesetiaan PKB pada PDI Perjuangan dengan tetap mengharapkan pengganti wakil gubernur dari Partai Banteng Moncong Putih tersebut, tentu merupakan pukulan balik. Ini juga membuktikan kalau hubungan antara partai Hijau dengan Merah memang telah kuat, sehingga tidak retak hanya karena isu negatif tokohnya semata.

Walau tetap bersama di Jawa Timur, namun baik Gerindra maupun PKS hanya akan menjadi partai pengikut, karena datangnya belakangan. Keduanya tidak memiliki daya tawar politis yang cukup besar, mengingat PKB maupun PDI Perjuangan telah mampu menguasai wilayah Jatim walau tanpa kehadiran keduanya.

Di sisi lain, keputusan Gerindra dan PKS pada akhirnya hanyalah merupakan keputusan pragmatis demi kemenangan semata. Daripada nantinya tidak memiliki bangku di DPRD sama sekali, lebih baik bergabung dengan kubu terkuat yang ada. Sebab kalau mengusung calon baru pun, presentase keberhasilannya sangat kecil untuk dapat mengungguli dua pasang kandidat yang diyakini sama-sama kuat ini.

Baca juga :
"Dendam" Thomas dan Unicorn Singapura?

Kedua pasangan – baik Gus Ipul dan Khofifah, masing-masing memiliki dukungan yang sangat besar dari para Kiai di Jawa Timur. Jadi kalau memaksakan masuk ke arena tanding pun, Gerindra, PKS, dan PAN berarti akan bertarung melawan para pemuka agama di Jatim. Kondisi ini tentu berlawanan dengan slogan pro Islamis yang kerap dijual di Pilkada DKI lalu dan mungkin di Pilpres nanti.

Jadi, selamat untuk masyarakat Jatim yang tetap tenang dan tidak reaktif terhadap isu-isu miring demi menjatuhkan pihak tertentu. Semoga tetap aman dan tenang hingga masa Pilkada berlangsung nanti. (R24)