Kisah Sedih Pendemo Istana

penghadangan mobil jokowi
Korban luka saat penghadangan mobil dinas Presiden Jokowi. (Foto: RMOL)
2 minute read

“Orang marah dapat diukur hatinya, orang diam tak mudah ditakar akalnya.” ~Remy Sylado


PinterPolitik.com

Sebagai sosok yang terkenal, presiden jelas jadi figur yang ingin ditemui banyak orang. Ada yang hanya sekadar ingin berfoto, ada pula yang ingin curhat terkait persoalan yang dihadapinya. Berat memang jadi pemimpin, harus dengar keluh kesah banyak orang dari seluruh penjuru. Namun, namanya juga risiko pekerjaan, permintaan curhat itu harus tetap dilayani dengan ramah.

Namun sepertinya, keramahan tersebut tidak sepenuhnya bisa diterapkan Paspampres. Kadang masyarakat sempat terlihat dimarahi kalau hendak ingin memeluk presiden. Bahkan, Paspampres selalu siap siaga memegangi tangan warga yang sedang berselfie ria dengan presiden. Macam pacar posesif aja ya? Hehehe.

Tapi bagaimanapun, ketegasan dan kesangaran Paspampres itu merupakan bentuk upaya untuk melindungi presiden kita. Biar tidak ternodai, baik fisik maupun citranya. Jadi kelakuan Paspampres yang macam begitu wajar-wajar saja. Tapi sampai sejauh mana batas wajarnya?

Segala perilaku harus dibatasi hak orang lain agar tak jadi semena-mena bukan? Click To Tweet

Hatiku tersayat-sayat ketika mendengar lima orang pendemo dari Serikat Pekerja Awak Mobil Tangki (SP-AMT) Pertamina pingsan akibat bentrok dengan Paspampres, tiga di antaranya adalah perempuan. Keterlaluan nggak sih? Atau masih bisa dibilang wajar?

Bapak-bapak Paspampres nggak kasihan? Mereka ini sudah menginap berhari-hari di depan istana loh… Mereka hanya ingin bertemu Presiden, meminta kejelasan nasib atas ketidakadilan yang mereka rasakan. Wong, presiden sendiri santai-santai saja. Beliau bahkan menyempatkan diri untuk berbicara dengan seorang istri pendemo yang beruntung dapat lolos dari sergapan Paspampres kala itu.

Para istri ini sampai bela-belain ikut berdemo, ikut kelaparan, bahkan anak-anaknya pun tak masuk sekolah. Tentu mereka melakukan pengorbanan tersebut tak berniat untuk berkonfrontasi dengan Paspampres.

Bapak-bapak Paspampres yang budiman. Para pendemo kemarin hanya ingin curhat langsung kepada presiden. Mereka tak seberuntung Bapak-Bapak Paspampres yang bisa setiap hari berjumpa dengan presiden. Mereka sudah kapok bicara lewat perantara, mereka kapok dimodusi dan dikibuli. Andai saja  ada cara lebih mudah bagi mereka untuk menyampaikan pesan, mungkin mereka juga tidak akan nekat.

Mereka ini hanya ingin menyampaikan keluhan kepada seorang pelayan negara untuk dilayani. Lagi pula, mereka datang juga tidak dengan membawa poster atau spanduk 2019gantipresiden apa lagi foto pasangan calon nomor 02. Jadi, kalau sampai ada korban sih miris juga. Akhirnya, publik masih akan bertanya-tanya, apakah tindakan Paspampres itu berlebihan? (E36)