Kenapa Prabowo Alergi Media?

prabowo marah ke media
Prabowo Subianto. (Foto: Beritacenter.com)
2 minute read

“Media hanyalah kata yang berarti jurnalisme buruk.” ~Graham Greene


PinterPolitik.com

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto nampaknya sedang ngambek berat sama media. Sampai nggak mau diwawancara segala. Weleh-weleh, kalau Prabowo anti media, terus mau ngasih tahu program kerja ke masyarakat luas lewat mana dong? Disamperin satu-satu? Hehehe.

Tapi kalian tahu nggak sih kenapa doi kesal banget sama media? Ternyata karena media tidak menyabut kalau peserta reuni 212 itu berjumlah 11 juta orang. Dan yang lebih bikin dia bete, media-media nasional kita pada nggak memberitakan aksi tersebut secara masif.

Hmm, kalau dicari-cari media mana yang menjadikan reuni aksi 212 menjadi headline? Waktu acara berlangsung, kebanyakan media lebih memilih menayangkan acara kartun, gosip, dan hiburan lain. Secara hari Minggu gitu kan?

Sejujurnya, aku juga lebih suka nonton kartun sih dibanding harus melihat gerombolan orang teriak-teriak ganti presiden dan mengharam-haramkan sikap politik orang lain. Edededeh…

Prabowo akan baik kalau wartawannya juga baik... Click To Tweet

Terus ya, soal jumlah peserta yang disebut amat fantastis itu, berapa? 11 juta. Wow, itu udah hampir nyamain jumlah penduduk Jakarta. Sedangkan acaranya hanya berpusat di sekitaran Monas. Yang kalau diukur-ukur paling muat berapa orang sih? Hayooo berapa? Ah yaudah kalau Bapak maunya tetap 11 juta. Hehehe.

Lagi pula, bukan salah wartawan juga jika menyebutkan peserta reuni hanya puluhan ribu atau ratusan ribu. Wong juru bicara kepolisian Argo Yuwono saja bilang kepada AFP kalau jumlah peserta aksi reuni 212 sekitar 100.000. Sedangkan aparat keamanan yang diterjunkan sekitar 23.000.

Ya, kalau menurut Pak Prabowo kabar yang diberitakan tidak sesuai kenyataan, kan ada hak jawab, bisa meminta koreksi, atau kalau perlu bisa ngadu ke Dewan Pers. Jadi, nggak perlu sampai meremehkan profesi jurnalis. Apalagi sampai bilang wartawan adalah antek-antek orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia.

Waduh ngeri kali. Padahal wartawan itu bagian integral dari bangsa Indonesia, loh. Terus kalau nggak ada wartawan piye? Rakyat tahu kondisi negara dari mana?

Media juga nih harusnya netral dong ah. Jangan berpihak pada kubu mana pun. Kasihan nih yang nggak didukung ketua partai yang juga pemilik media. Ededededeh

Lagi pula, di luar negeri sana sudah banyak contoh media-media yang akhirnya gulung tikar karena tampak terlalu berpihak pada elite politik tertentu. Rakyat tuh nggak suka. Beneran deh, aku tahu sendiri… (E36)