Kartini, Visioner Pembangkang

11 minute read

Dari tahun ke tahun, perayaan Hari Kartini seakan kehilangan maknanya. Bahkan status kepahlawanan Kartini pun masih banyak yang mempertanyakan. Seperti apa sosok Kartini sebenarnya?


PinterPolitik.com

“Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.”

Menjelang Hari Kartini, hampir seluruh perempuan Indonesia sepertinya berlomba-lomba mengenakan pakaian tradisional mereka. Tak lupa pula berbagai adu ketangkasan pun digelar. Dari mulai lomba memasak, lomba berbusana terbaik, hingga lomba merias wajah.

Seakan, Hari Kartini  adalah hari di mana para perempuan merayakan peran domestiknya. Di hari itu, perempuan harus tampil cantik, chick, dan pandai meracik. Sebab sejak zaman Orde Baru dulu, citra Kartini memang dipatri sebagai perlambang perempuan ayu, lemah lembut, dan penurut. Apakah benar sosok Raden Ajeng Kartini seperti itu?

Sungguh, tak ada yang salah dengan menjadi cantik. Bukan pula sesuatu yang salah bila kita pandai memasak. Pakaian tradisional Indonesia pun, memang harus kita banggakan dan lestarikan. Tapi apakah kegiatan-kegiatan itu menjadi esensi dari perayaan Hari Kartini? Ataukah kita hanya sekedar merayakan, tanpa peduli dengan apa sebenarnya yang diperjuangkan Kartini berabad lalu?

 

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengakui kalau gagasan pemikiran Kartini sebenarnya lebih dari sekedar identifikasi yang selama ini dibudayakan, yaitu perempuan berpakaian kebaya, rambut dikonde, dan mendirikan sekolah. “Kita sempat terbangun image kalau Hari Kartini itu artinya pakai kebaya dari anak PAUD sampai dewasa, dan di kantor-kantor pakai kebaya,” katanya di Jakarta, Selasa, 11 April lalu.

Tapi, kita semua sebetulnya teredukasi dari buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Frasa ‘gelap’ dan ‘terang’ pada buku terbitan Balai Pustaka yang diterjemahkan oleh Armijn Pane itu, menurut Khofifah, mesti dipahami lagi lebih dalam. Dari surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada sahabat penanya di Belanda, dia menangkap kedalaman pengetahuan, pemikiran, dan keingintahuan Kartini tentang dunia luas.

Kartini, Sang Putri Priyayi

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun, lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orangtua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (25 Mei 1899).

Setiap orang Indonesia pasti sudah tahu, siapa Kartini. Perempuan Jawa kelahiran 21 April 1879 ini, berasal dari keluarga ningrat. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, menjabat sebagai Bupati Jepara dan sangat menyayangi putri kelima dari sebelas putra putrinya ini.

Sebagai seorang priyayi, RM Adipati Ario tergolong moderat karena memperbolehkan Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun. Pendidikan yang diperoleh pun tak tanggung-tanggung, yaitu di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus untuk kaum ningrat dan keluarga kolonial Belanda. Jadi tak heran, bila Kartini sangat fasih berbahasa Belanda.

Kedekatan Kartini dengan sang ayah, juga tak lepas dari kegemaran mereka berkeliling desa. Ayahnya bahkan tak segan-segan mengajak Kartini untuk ikut berdialog dengan rakyat jelata. Sehingga bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan kepercayaan warga, ketika mengajak anak-anak desa ikut belajar membaca dan menulis.

Bagi Kartini, meneruskan sekolah adalah hal yang paling ia idam-idamkan. Bahkan ketika usianya menginjak 12,5 tahun, ia pernah menangis memohon pada sang ayah agar diizinkan untuk ikut meneruskan sekolah ke HBS di Semarang, bersama kakak-kakaknya yang laki-laki. Kala itu, Kartini berjanji  belajar sekuat tenaga, agar tidak mengecewakan mereka.

Tapi sesayang dan semoderat apapun ayahnya, sebagai seorang Bupati, ia juga tak mampu mendobrak tradisi yang telah mengakar kuat di tanah Jawa. Dengan penuh kasih, sang ayah terpaksa menolak keinginan putrinya tersebut. Namun, ia tetap memberikan sedikit kelonggaran bagi buah hatinya. Walau statusnya dipingit, namun Kartini masih boleh ‘berkeliaran’ di luar rumah hingga usianya menginjak 16 tahun.

Kesedihan Kartini, pernah ia ungkapkan pada Stella.

“Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”

Sahabat Pena Pembuka Wawasan

“Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang ‘gadis modern’ yang berani, mandiri, menarik hati saya sepenuhnya. Yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang, dan gembira, penuh semangat dan keceriaan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kebahagiaan dirinya saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.”

Kutipan di atas, dipetik dari buku “Surat-surat Kartini. Renungan tentang dan untuk Bangsanya”, tahun 1979. Ajakan berkenalan sebagai sahabat pena ini, termuat di surat kabar Belanda, De Hollandshce Lelie. Pada masa-masa dipingit, Kartini memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku, majalah, dan surat kabar berbahasa Belanda.

Marie Ovink-Soer, istri pegawai administrasi kolonial Hindia Belanda di Jawa Tengah, mengenalkan Kartini kepada pergerakan feminisme di Belanda, termasuk jurnal De Hollandshce Lelie. Jurnal tempat Kartini mencari sahabat pena di Belanda untuk bertukar pikiran. Dari sinilah, Kartini mendapat tanggapan dari pegawai pos bernama Estella Zeehandelar.

Estella atau yang kerap disapa Stella, sebenarnya adalah salah satu pendiri Partai Buruh Sosial Demokrat atau Social-Democratische Arbeiders Partij  (SDAP). Sosoknya yang penuh semangat dan pola pikir Stella yang juga menganut paham feminis revolusioner, memberikan pengaruh cukup besar bagi pemikiran-pemikiran Kartini di masa datang. Bisa dibilang, Stella memberi ruang bagi Kartini untuk bermimpi meraih cita-citanya.

Kartini yang belum pernah pergi keluar Jawa, bahkan dilarang keluar dari pekarangan rumahnya sendiri, tentu saja iri dengan kemajuan perempuan Eropa yang saat itu telah dapat menentukan nasibnya sendiri. Namun, Kartini juga bukan seorang yang naif dan mengunyah apa yang terjadi di dunia luar begitu saja.

Tidak dapat disangkal bahwa segala kemajuan yang terjadi telah memberikannya pandangan kritis terhadap sistem feodal yang ada dalam kehidupan sekitarnya. Tetapi Kartini juga menyadari, bahwa di bawah kekuasaan Belanda, ada sebuah relasi kekuasaan timpang yang menjadi belenggu kehidupan masyarakatnya, yaitu sistem kolonialisme itu sendiri. Salah satu kutipan dalam suratnya kepada Stella mengungkapkan pandangan itu.

“Dengan duka cita, banyak orang Eropa di sini melihat orang-orang Jawa, bawahan mereka, perlahan-lahan maju. Dengan cara yang halus sekali mereka membuat kami merasakan hal itu. ‘Saya orang Eropah, kamu orang Jawa’ atau dengan kata lain ‘Saya memerintah, kamu saya perintah’. Oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan orang Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya.” (12 Januari 1900)

Kartini Visioner Pembangkang

Pendidikan Awal Kebebasan

“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata ‘Emansipasi’ belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” (Suratnya kepada Stella, 25 Mei 1899)

Walau terpasung pingitan, semangat dalam pemikiran Kartini sebenarnya masih terus menggelora. Wawasannya tentang dunia yang lebih bebas dan merdeka bagi siapa saja, selalu menguasai pemikirannya. Dari semua pengetahuan dan berdasarkan kenyataan di masyarakat, akhirnya Kartini pun menyimpulkan bahwa ia harus bergerak. Bertindak dengan cara memperluas pendidikan membaca dan menulis bagi rakyat jelata.

Dengan memperluas pendidikan, ia berharap cita-citanya akan sistem masyarakat yang lebih liberal bisa terbuka, suatu saat nanti.

“Bagi saya, pendidikan itu merupakan pembentukan budi dan jiwa. Dan saya bertanya kepada diri saya sendiri: dapatkan kiranya saya menjalankan tugas itu? Saya, saya masih perlu juga lagi dididik ini? Kerapkali saya mendengar orang mengatakan, bahwa dari yang satu dengan sendirinya akan timbul yang lain. Oleh perkembangan akal dengan sendirinya budi itu akan menjadi halus, luhur.” (Kartini, 2014: 120-121)

Tradisi yang Mengekang Ambisi

“Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…”

Pada Juni 1903, Kartini akhirnya berhasil mendirikan sekolah gadis di kota kelahirannya. Namun baru sebulan sebagai guru, ia lagi-lagi harus terpuruk karena mendapat surat lamaran dari Bupati Rembang, R.M. Adipati Joyoadiningrat. Padahal saat itu, Kartini pun sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk bersekolah di Batavia – berkat beasiswa yang diperjuangkan oleh sahabatnya, Rossa Abendanon.

Pernikahan adalah kata yang efeknya hampir sama dengan kiamat bagi Kartini. Ia tak hanya harus membatalkan kesempatan bersekolah lebih tinggi, namun juga kebebasan hidupnya sebagai perempuan merdeka. Simak saja kata-katanya yang sungguh telengas ini:

“Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas!”

Rasa frustasi Kartini semakin bertambah, ketika tahu bahwa calon suaminya sebenarnya sudah memiliki tiga orang istri. Padahal poligami adalah hal yang paling dibenci Kartini, karena ia anggap sebagai penghinaan dan merendahkan martabat perempuan. Kartini tahu benar sakit dan perihnya poligami, karena ibundanya sendiri adalah korban poligami.

Ia yakin, tak ada satu pun perempuan yang mau disakiti dengan poligami. Inilah yang ia katakan dalam suratnya kepada Stella:

“Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?”

Namun lagi-lagi, Kartini hanya bisa merintih. Ambisinya, cita-citanya, terpasung zaman.

“Siapa yang melihat atau menduga dahsyatnya pergolakan yang menggelora dalam batin gadis remaja ini? Tidak ada seorangpun yang dapat menduganya. Ia menderita seorang diri. Tidak ada orangtua atau saudara yang menduga apa yang bergolak dalam hatinya, dan memberi simpatinya kepadanya. Di manakah ia akan dapat meletakkan kepalanya yang capek ini dan melepaskan tangis kesedihannya?”

Berjuang Hingga Akhir

“Memang suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka ayo maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekad, mendapat tiga perempat dari dunia!”

Tak mampu merombak tradisi, tak sampai hati menyakiti hati ayahnya yang ia sayangi. Akhirnya Kartini menikah pada 8 November 1903. Namun, bukan Kartini bila ia bisa mengalah begitu saja. Sebelum menikah, ia memberikan empat syarat pra nikah yang harus dipenuhi suaminya.

Pertama, ia ingin ibu kandungnya, M.A. Ngasirah mendapatkan kamar yang lebih layak. Kedua, ia menolak membasuh kaki suaminya, karena ia anggap sebagai perbudakan dan penghinaan. Ketiga, Kartini ingin menggunakan bahasa Belanda sehari-hari, karena perempuan harus berbicara menggunakan kromo inggil kepada suaminya, sedang suami cukup menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada istrinya. Keempat, Kartini meminta calon suaminya, menjunjung tinggi kesetiaan dengan tak memiliki wanita lain. Selain itu, Kartini juga meminta untuk dibuatkan sekolah agar bisa terus mengajar.

Awalnya, calon suami Kartini yang ternyata juga berpikiran moderat, menyetujui semua keinginannya. Namun setelah membuatkan sekolah keputrian yang diminta istrinya, Joyodiningrat ternyata tak mampu memenuhi empat syarat lain yang diminta Kartini. Inilah yang membuat Kartini semakin merasa frustasi.

Tapi perasaan frustasinya ini, tidak ia ungkapkan pada Stella. Ia malah terkesan berusaha menerima kenyataan yang harus dijalaninya tersebut.

“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”

Kalimat di atas, seakan ucapan selamat tinggal dari Kartini. Karena setelah melahirkan anaknya, RM Singgih Soesalit Djojoadhiningrat, pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, ia meninggal pada usia 25 tahun. Walau telah tiada, namun melalui surat-suratnya, Kartini mampu berbicara melintasi zaman.

 

Dalam sebuah pidato pertemuan De Indische Vereniging (kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia tempat para pemuda seperti Sjahrir dan Hatta menjadi bagian organisasi itu), 24 Desember 1911, ketua rapat menyampaikan pokok pikiran dalam pidato yang diberi judul ‘Gagasan-Gagasan Raden Ajeng Kartini sebagai pedoman bagi ‘De Indische Vereeniging…’ (Soeroto: 402).

Penerbitan surat-menyurat yang intensif antara Kartini dan sahabat penanya, kemudian diterbitkan menjadi buku serta menjadi salah satu karya tulis yang memberi inspirasi para pemimpin pergerakan nasionalisme Indonesia. Enam puluh tahun setelah kematian Kartini, tepatnya tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menganugerahi Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia dan peringatannya dirayakan setiap tahun sebagai Hari Kartini.

Berbagai pro dan kontra, serta tak jarang pertanyaan yang meragukan kepahlawanan Kartini, memang sangat banyak dilemparkan dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun bila kita lebih kritis dalam menyikapi pemikiran Kartini kala itu, kita mungkin akan lebih bisa menghargai dan memahami mengapa Kartini terpilih sebagai sosok yang harus dikenang setiap tahun. Karena perjuangan Kartini memang harus terus diingatkan setiap tahun, bahwa perjuangan memerdekakan hak dan derajat perempuan belum usai.

Bahkan hingga kini, berabad-abad kemudian, kesetaraan dan hak kemerdekaan diri belum juga sesuai. Jadi, marilah kita lebih bergiat lagi berjuang. Buktikan pada Kartini bahwa ambisinya bukan suatu utopi. Karena perempuan bisa mandiri, berdikari, dan memperjuangkan dirinya sendiri. Berikan pendapatmu.

(Berbagai sumber/R24)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here