Kapolri ‘Bobol Rahasia’ Teroris

Kapolri ‘Bobol Rahasia’ Teroris
Kapolri, Jenderal Tito Karnavian. (Istimewa)
2 minute read

“Mereka ini terlatih, mereka mampu menghindari deteksi intelijen, mereka mampu menghindari komunikasi.” ~ Tito Karnavian


PinterPolitik.com

Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) jadi sasaran kritik pedas karena dinilai kecolongan, tak bisa mendeteksi secara dini pergerakan terorisme.

Bahkan, Surya Paloh Ketua Umum Partai NasDem yang biasanya cenderung mendukung Pemerintah kali ini justru mengkritik paling keras.

Surya Paloh menyatakan BIN dan BNPT itu bukan cuma kecolongan, tapi lalai melakukan upaya preventif menjegal tindakan kejahatan kemanusiaan, weleeeh weleeeh.

Hadeuuuh, tak mengapa lah wajar saja kalau kritik itu dilayangkan kepada lembaga negara yang seharusnya memiliki kinerja yang maksimal.

Tapi apakah benar intelijen kita lemah dan lalai? Ehmmm, perlu diuji deh, tapi kayaknya engga juga deh.

Lah kan itu kata Kapolri lho, para teroris itu mampu menghindari deteksi intelijen. Berarti intelijen kita kalah canggih dong kalau merujuk ke pernyataan Kapolri? Skeptis ah weleeeh weleeh.

Weeeiittss, tapi jangan cepat mengambil kesimpulan. Walaupun ada yang kritik BIN dan BNPT lemah, tapi bukan berarti lembaga yang dikritik itu sepenuhnya lemah kan? Nah loh? Bisa saja jadi komoditas politik, bisa aja kan?

Tapi pertanyaannya emang ada yang tahu gimana kerjanya intelijen? Weleeeh weleeeh, intelijen selalu bekerja dalam diam.

Jadi apa maknanya sewaktu Kapolri mengakui, dengan sikapnya yang merendah, kalau teroris mampu menghindari deteksi intelijen dan mampu menghindari komunikasi.

Baca juga :  ISIS Masuk Indonesia? Gebuk Saja!

Tapi kalau dilihat dari sudut pandang lain, sebenernya ada makna lain yang sedang dipamerkan oleh Kapolri. Ternyata BIN, BNPT, bersama Kepolisian lebih maju dibandingkan teroris.

Kalau teroris berhasil keluar dari deteksi intelijen, berarti tiga lembaga itu dinilai lebih sukses karena dengan mudah membaca pola baru pergerakan terorisme yang lain, ehmmm.

Waduh, kalau begitu Kapolri merendah untuk meninggi dong, ehmm, bisa jadi begitu. Masa iya lembaga negara atau badan khusus yang menangani terorisme itu kecolongan sama teroris? Ahh syudaahlah, ga mungkin banget.

Taktik Kapolri memang canggih ya, di sisi lain merendah untuk meninggi, tapi malah bikin teroris itu kecolongan sehingga pergerakannya terbaca. Makanya kalau kata Isaac Newton, Taktik adalah seni menambah poin tanpa menambah musuh.

Masih yakin kalau intelijen kita lemah? Ahhh masa sih? Weleeeh weleeh. (Z19)

Share On