Jumlah Konsumen Belanja Online di Indonesia Terus Meningkat Pesat

    2 minute read

    Sejalan dengan antusiasme konsumen, para pengelola situs belanja dan pedagang online semakin bersemangat menyambut berkah Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Untuk melayani pelanggan, sejak lebaran Idul Fitri, beberapa perusahaan e-commerce menambah jumlah agen customer service menjadi empat kali lebih banyak dari sebelumnya. Tim verifikasi bank transfer juga ditambah lima kali lipat dan bekerja 24 jam selama seminggu.

    Segala persiapan itu diharapkan akan berbuah manis. Seperti persiapan di sisi pelayanan konsumen dan aksi jorjoran memangkas harga produk alias Diskon, diharapkan akan sebanding dengan volume kenaikan penjualan yang signifikan. Selain itu bukan cuma lonjakan di sisi nilai dan volume transaksi, aliran kunjungan (Traffic) dari pembeli juga diharapkan meningkat tajam.


    Fakta dan Proyeksi Ekonomi Intenet Indonesia.

    • Indonesia adalah pasar Internet yang pertumbuhannya paling cepat di dunia.

    Pada tahun 2015, pengguna internet di Indonesia baru 92 juta orang. Tahun 2025 diperkirakan pengguna internet akan mencapai 215 juta. Artinya, rata-rata pertumbuhan dalam 10 tahun mencapai 19%.

    • Pasar e-commerce Indonesia terbesar  di  Asia Tenggara.

    Pada tahun 2015 kontribusi Indonesia terhadap pasar e-commerce di Asia Tenggar baru 31%. Dalam satu dekade kemudian, kontribusinya diprediksi bisa mencapai 52%.

    • Indonesia penguasa di bisnis penjualan tiket hotel dan maskapai secara daring.

    Tahun lalu pasarnya sebesar US$ 5 miliar, atau 26% dari total pasar Asia Tenggara yang mencapai US$ 19,2 miliar. Pada tahun 2025, kontribusinya akan naik menjadi 32%, setara US$ 24,5 miliar.

    • Pasar iklan online terbesar di Asia Tenggara ada di Indonesia.

    Tahun lalu pasar iklan online Indonesia cuma US$ 0,3 miliar. Tapi dalam 10 tahun nilainya akan membengkak menjadi US$ 2,7 miliar.

    Baca juga :  Indonesia Curangi AS?

    Tantangan Besar yang Harus Diatasi Indonesia.

    • Jumlah pengembang start-up dan talenta yang memiliki kempemimpinan yang kuat masih terbatas.
    • Kebanyakan pendanaan masih fokus pada investasi di tahap pendirian start-up
    • Sekitar 63,7% orang yang berusia di atas 25 tahun belum memiliki rekening di bank sendiri
    • Penetrasi internet masih rendah karena penduduk Indonesia tersebar sekaligus di ribuan pulau menjadikan logistik masalah besar.
    • Tingkat penipuan dan kejahatan secara cyber masih sangat tinggi di Indeonesia. Fraud index di Indoenesia -1.276, atau 12 kali lebih tinggi dari rata-rata global

     

    Share On