Jokowi vs Politik Genderuwo

politik genderuwo
Jokowi mengungkap ada politik genderuwo di negeri ini. (Foto: Getty Images)
6 minute read

“The only thing we have to fear is fear itself,” Franklin D. Roosevelt


PinterPolitik.com

Genderuwo. Mendengar namanya saja mungkin sudah membuat sebagian orang bergidik ngeri. Bagaimana tidak, mahluk tersebut boleh jadi adalah salah satu sosok misterius yang menghantui hari-hari masyarakat negeri ini. Tak jarang, sosok tersebut digunakan sebagai kisah untuk menakut-nakuti anak-anak.

Nyatanya, sosok genderuwo dianggap tidak hanya hadir dalam mimpi-mimpi buruk saja. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat ini tengah ada genderuwo yang menghantui politik Indonesia. Sebagaimana pada umumnya, genderuwo yang berpolitik juga hadir untuk menakut-nakuti masyarakat.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut bahwa cara berpolitik yang menimbulkan kekhawatiran dan keraguan ala genderuwo adalah sesuatu yang harus dihentikan. Menurutnya, cara seperti ini adalah sesuatu yang tidak beretika karena membuat masyarakat merasa ketakutan.

Meski tidak menyebut secara langsung siapa yang bermain politik genderuwo, banyak yang menganggap bahwa sang presiden tengah menyindir kubu penantangnya, Prabowo Subianto. Prabowo dianggap sebagai sosok yang jarang membawa harapan dan lebih banyak membawa ketakutan. Lalu, jika benar Prabowo yang dimaksud, efektifkah cara Jokowi seperti ini?

Politik Ketakutan

Secara umum, banyak yang menuding bahwa Prabowo adalah sosok politisi yang menggunakan politik ketakutan atau politics of fear. Langkah seperti ini sering kali disebut juga sebagai fearmongering. Selama ini ia memang terindikasi melakukan strategi tersebut. Berdasarkan kondisi tersebut, wajar jika Jokowi merasa gerah dengan politik genderuwo ala  Prabowo ini.

Meski bisa membuat gerah, memainkan rasa takut masyarakat sebagai calon pemilih merupakan hal yang lazim terjadi. HL Mencken misalnya menyebut bahwa memainkan rasa takut atau fearmongering adalah hal yang wajar dilakukan oleh semua presiden di Amerika Serikat (AS).

Salah satu contoh kampanye dengan rasa takut paling terkenal mungkin adalah iklan milik Lyndon B. Johnson pada tahun 1964. Iklan berjuluk Daisy Girl itu menggambarkan ketakutan yang terjadi jika masyarakat tidak memilih figur yang disingkat LBJ tersebut.

Dalam iklan tersebut digambarkan bagaimana bahayanya jika masyarakat AS tidak memilih Johnson. Ancaman nuklir akan hadir dan merenggut nyawa anak kecil jika masyarakat AS salah memilih. Ledakan nuklir menjadi elemen ketakutan yang dihadirkan politisi Partai Demokrat tersebut. Meski dianggap kontroversial, iklan ini nyatanya dianggap sebagai salah satu faktor yang memberikan kemenangan bagi Johnson.

Kini, strategi fearmongering ini juga masih marak digunakan. Presiden AS Donald Trump misalnya dapat dianggap sebagai sosok yang kerap memainkan rasa takut untuk mendapatkan perhatian masyarakat. Terkadang, pilihan kata yang digunakan Trump tergolong hiperbolik, sehingga kerap menimbulkan polemik.

Strategi ini memang tergolong menarik karena bisa memainkan emosi masyarakat. Dalam kadar tertentu, para pembuat kebijakan yang memainkan rasa takut bisa mendapatkan persetujuan dari masyarakat agar suatu kebijakan dapat berjalan.

Oleh karena itu, wajar jika politik genderuwo semacam ini mengkhawatirkan Jokowi. Apalagi, penantangnya, Prabowo, cenderung sering bermain-main dengan rasa takut masyarakat. Gambaran di AS dengan Johnson atau Trump tentu berbahaya bagi Jokowi yang tengah berupaya kembali duduk di kursi RI-1.

Tak Terhindarkan

Rasa takut boleh jadi adalah perasaan yang tidak terhindarkan dalam masyarakat. Masyarakat saat ini misalnya dilanda ketakutan terkait dengan kondisi ekonomi, keamanan, atau kesehatan mereka. Boleh jadi, rasa takut adalah perasaan yang mayoritas masyarakat rasakangan belakangan ini.

Seorang ahli filsafat AS, Martha Nussbaumm, mengungkapkan bahwa waktu yang dihadapi saat ini sangatlah berbahaya. Ia menyebut bahwa rasa takut yang ada bersifat rasional dan memberi perhatian pada rasa takut dapat memberikan keuntungan tersendiri.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Thomas Meyer menyebut bahwa cara untuk melawan orang yang melakukan fearmongering adalah dengan menganggap serius rasa takut tersebut. Menurutnya, pemerintah tidak perlu lagi membantah atau menekan rasa cemas masyarakat dengan berusaha menutupinya.

Menurut Meyer, pemerintah idealnya harus mampu menghadapi rasa takut tersebut secara terbuka. Secara khusus, ia juga menyebut pemerintah harus menghadapi hal tersebut dengan rasa tanggung jawab.

Meyer menyebutkan beberapa langkah untuk menghadapi rasa takut tersebut. Langkah krusial pertama menurutnya adalah dengan mengakui adanya rasa cemas yang ada. Langkah kedua adalah dengan menelusuri penyebab konkret dari persoalan tersebut.

Presiden AS Fraklin D. Roosevelt disebut sebagai sosok yang mampu mengendalikan rasa takut tersebut. Roosevelt berbicara di hadapan masyarakat dengan menyebut bahwa ia tahu rasa takut bangsanya dan ia tahu bahwa mereka bisa menaklukkannya bersama-sama. Tidak hanya itu, Roosevelt juga melibatkan semua orang untuk mencari solusi terbaik dari rasa takut yang dihadapi.

Jokowi pantas gerah dengan politik genderuwo karena tergolong ke dalam fearmongering. Click To Tweet

Dari pernyataan tersebut kemudian muncul program yang terangkum dalam New Deal untuk menghadapi periode krisis. Rangkaian kebijakan itu ternyata mampu bekerja dengan baik untuk melawan rasa takut. Tidak hanya itu, program itu juga bisa diterima oleh masyarakat secara luas.

Berdasarkan kondisi tersebut, terlihat bahwa cara untuk melawan rasa takut adalah dengan menghadapinya dengan serius, alih-alih menutupinya. Cara ini boleh jadi bisa berhasil tidak hanya untuk rasa takut yang muncul secara alamiah, tetapi juga dari sosok yang kerap melakukan politik ketakutan.

Melawan Rasa Takut

Terlihat bahwa untuk menghentikan fearmongering kubu lawannya, Jokowi berusaha untuk melakukan serangan balik. Ia secara langsung berbicara di mata publik tentang politik yang menakuti-nakuti dan menyebutnya dengan istilah menyeramkan, yaitu politik genderuwo.

Meski begitu, jika pernyataan Meyer yang menjadi acuannya, boleh jadi serangan balik Jokowi dengan politik genderuwo itu tidak sepenuhnya tepat. Hal ini terjadi karena bagaimanapun, rasa takut merupakan hal alamiah yang terdapat di dalam masyarakat.

Terlepas dari soal data dan fakta, ada beberapa hal yang tetap akan menjadi bagian dari rasa takut masyarakat. Perkara ekonomi misalnya menjadi salah satu hal yang paling dikhawatirkan oleh masyarakat.

Memang, kritik kubu oposisi dengan memainkan rasa takut masyarakat terkadang cenderung hiperbolik. Pernyataan seperti Indonesia miskin selamanya atau tempe setipis ATM mungkin tidak selalu sesuai dengan data-data statistik milik pemerintah. Akan tetapi, hal-hal ini tergolong amat dekat dengan masyarakat karena menyangkut ekonomi mereka.

Alih-alih menyerang praktik politik genderuwo, idealnya Jokowi melakukan langkah-langkah yang disebutkan oleh Meyer. Memang, Jokowi tidak perlu mengakui secara penuh bahwa tengah terjadi masalah yang menjadi sumber ketakutan masyarakat. Akan tetapi, pemerintahan Jokowi perlu terlihat bertanggung jawab dan akan mencarikan solusi dari rasa takut tersebut. Mencari akar masalah dari berbagai ketakutan yang dialami masyarakat boleh jadi akan lebih bermanfaat ketimbang menyerang politik genderuwo.

Roosevelt boleh jadi adalah contoh yang baik bagi Jokowi untuk mengalahkan sosok genderuwo yang ada dalam politik Indonesia. Ia berhasil meyakinkan masyarakat AS bahwa mereka akan mampu menaklukkan ketakutan dan keluar dari periode krisis. Secara khusus, kemampuan Roosevelt menghadirkan rangkaian program New Deal bisa ditiru untuk menghadapi politik genderuwo atau politik ketakutan dari kubu manapun.

Dengan begitu, boleh jadi Jokowi memiliki kesempatan besar untuk mengalahkan fearmongering ala politik genderuwo dengan sesuatu yang lebih programatik. Berbagai program yang ia siapkan akan mampu menjawab sendiri politik genderuwo yang merongrong pemerintahannya. (H33)