Jokowi Seperti Raja Terakhir?

Jokowi Seperti Raja Terakhir?
Foto : Istimewa
2 minute read

“Kalau mau jadi raja, kita harus banyak berdoa. Tapi kalau mau dipimpin sama raja, gampang saja. Tinggal pilih nomor urut 0….”


PinterPolitik.com

Pemasangan alat peraga kampanye (APK) berupa poster “Raja Jokowi” yang belakangan menjadi polemik, dinilai tidak akan berdampak pada popularitasnya di Jawa Tengah (Jateng). Wakil Bendahara Tim Kampanye Nasional (TKN), Juliari P. Batubara meyakini, masyarakat di Jateng sudah mengetahui dan paham betul siapa dan seperti apa karakter Jokowi.

Juliari juga mengungkapkan, soal APK “Raja Jokowi” saat ini sudah ditindaklanjuti. Baik TKN maupun DPP PDIP sudah menginstruksikan agar APK tersebut harus dibersihkan dari tempat umum.

Termasuk di struktural partai yang ada di Jawa Tengah juga telah diinstruksikan untuk mencopot dan bahkan juga sudah dilaksanakan karena APK tersebut tidak sesuai dengan realitas. Wkwkwk.

Lagian ada-ada aja ya, masyarakat di negara lain mah pada mau jadi negara demokrasi kayak Indonesia. Eh ini orang-orang di daerah maunya punya negara yang bersistemkan monarki. Weleh-weleh, sudah se-frustrasi itu kah warga Indonesia sampai-sampai ingin punya pemimpin yang diktaktor? Click To Tweet

Tapi kalau mau punya pemimpin model kayak begitu, kenapa mereka lebih memilih kampanyekan Jokowi jadi presiden ya? Kenapa enggak kampanyekan Prabowo saja? Sepertinya doi lebih cocok tuh disebut dengan julukan raja terakhir!

Eh! Bukan raja terakhir yang punya tato sampai ke leher dan lagi akting dipukulin itu ya! Kalau itu mah najis mugaladoh! Kalian tahu kan siapa yang eyke maksud? Itu loh yang namanya Yong Yong Alek. Ahahaha.

Intinya mah gengs, ngapain sih kita pusing mikirin kampanye yang semakin hari semakin enggak jelas, mirip kayak kelakuannya Yong Alek. Dari pada kita pusing pikirin kelakuan kampanye yang semakin hari semakin bikin jiwa tak waras ini, mending kita pusing pikirin ungkapannya William Shakespeare. Kali aja kan setelah kita pikirin ungkapannya William, jiwa kita jadi waras dan enggak kayak elite politik, apalagi kayak Yong Alek. Ehehehe.

“Perangilah dunia untuk diriku. Bertarunglah melawan musuh-musuhmu. Arungi samudera, taklukkan binatang-binatang buas yang ada di lautan dan daratan. Kemudian datanglah kepadaku. Aku akan menjadi pendamping hidupmu hingga akhir hayatku.” (G35)