Rangkul Pemuda Pancasila, Jokowi Orbais?

Joko Widodo dalam acara HUT Pemuda Pancasila (foto: istimewa)
6 minute read

Pemuda Pancasila adalah organisasi warisan Orde Baru (Orbais). Apakah kelompok ini akan dirangkul oleh Jokowi di Pilpres 2019?


PinterPolitik.com

Istana kedatangan tamu. Kediaman presiden itu kini didatangi oleh organisasi masyarakat (ormas) Pemuda Pancasila. Kedatangan ormas berideologi Pancasila tersebut langsung disambut oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta jajaran pemerintah, mulai dari Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo hingga Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Tampak sang Ketua Umum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno dan Wakil Ketua Umum Yorrys Raweyai hadir dalam kunjungan tersebut. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Ketua DPR Bambang Soetatyo yang juga merupakan Wakil Koordinator Bidang Organisasi dan Kaderisasi Pemuda Pancasila. Menurut beberapa kabar, pentolan Golkar itulah yang membawa petinggi Pemuda Pancasila bertemu dengan Jokowi.

Seiring semakin dekatnya momentum Pilpres 2019, pertemuan itu tentu mendapatkan sorotan dari berbagai pihak. Tokoh-tokoh Pemuda Pancasila sendiri mengaku bahwa mereka memang berbicara tentang Pilpres dengan Jokowi. Tetapi, bukan berarti mereka memberi dukungan kepada capres nomor urut 01 tersebut. Mereka menyebut lebih banyak membahas mengenai kondisi bangsa yang terpecah-belah jelang Pilpres 2019. Benarkah begitu?

Ada sebuah adagium yang menyebutkan bahwa tak ada yang kebetulan dalam dunia politik. Hal itu bermakna bahwa segala sesuatu di dalam politik memang sudah direncakan untuk terjadi. Lantas, apakah pertemuan Jokowi dengan Pemuda Pancasila hanya karena kebetulan saja? Ataukah ada kepentingan lain yang ingin dicari Jokowi?

Jokowi Rangkul Pemuda Pancasila?

Pilpres 2019 akan menghadirkan pertarungan yang berbeda dengan Pilpres 2014. Jika empat tahun lalu Jokowi terlihat seperti anak kelinci di hadapan Prabowo Subianto,kini sang presiden sudah berhasil menguasai berbagai kekuatan penting untuk menandingi Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Terkait Pilpres mendatang, Denny JA, pendiri Lembaga Survei Indonesia (LSI) pernah mengatakan, setidaknya ada 3 faktoryang akan menyulitkan langkah Prabowo untuk melaju ke Istana. Tiga faktor itu ia sebut sebagai 3M, yang merupakan singkatan dari momentum, media dan money (uang).

Namun, pendapat itu ditanggapi oleh Zeng Wei Jan, seorang aktivis Komunitas Tionghoa Anti-Korupsi. Menurut Zeng, justru Prabowo memiliki M ke-4, yaitu moral force atau kekuatan moral – bisa juga disebut sebagai massa. (Baca: Quantum Heisenberg, Prabowo Kalahkan Jokowi)

Belakangan, kekuatan massa dari Prabowo memang semakin membesar, katakanlah dalam wujud gerakan emak-emak atau dalam Aksi Bela Tauhid. Selain itu, gerakan tagar #2019GantiPresiden – yang diinisiasi oleh kelompok oposisi –dalam beberapa bulan terakhir juga tampak telah mempengaruhi sebagian besar masyarakat.

Hal sebaliknya justru dirasakan oleh Jokowi. Di beberapa daerah gerakan tagar #JokowiDuaPeriode atau #2019TetapJokowi tampak sepi dari kehadiran massa.

Marcus Mietzner, dalam tulisannya berjudul How Jokowi Won and Democracy Survived mengatakan bahwa kemenangan Jokowi di tahun 2014 dipengaruhi oleh besarnya dukungan relawan akar rumput.

Mietzner menerangkan gelombang massa ini mampu mengalahkan mesin oligarki politik dari kubu Prabowo, yakni kekuatan mesin partai dari Golkar, PKS dan Gerindra dan kekuatan dana dari konglomerat seperti Aburizal Bakrie dan Hashim Djojohadikusumo.

Maka tentu saja kehilangan dukungan massa akar rumput menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Jokowi. Bukan tidak mungkin, pertemuan dengan Pemuda Pancasila di Istana tersebut adalah indikasi bahwa Jokowi ingin merangkul ormas di bawah asuhan Japto Soerjosoemarno itu untuk menghadapi Prabowo di Pilpres 2019.

Menurut beberapa sumber, Pemuda Pancasila memiliki anggota hingga 10.000 orang. Dengan jumlah sebesar itu, bisa saja Jokowi memang memperhitungkan kekuatan ormas tersebut. Dukungan ormas berideologi Pancasila itu tentu mampu membantu Jokowi mengembalikan kekuatan massa yang selama ini kian memudar.

Ketika benar-benar merapat ke kubu Jokowi, Pemuda Pancasila mungkin akan berguna sebagai partisan politik Jokowi. Misalnya, para anggota ormas akan berpartisipasi secara aktif dalam upaya pemenangan Jokowi.

Kehadiran Pemuda Pancasila juga bisa membantu Jokowi menepis isu komunisme yang selama ini ditujukan kepada mantan Gubernur DKI tersebut. Pemuda Pancasila adalah ormas anti-komunis dan kerap terlibat dalam pembubaran-pembubaran acara berbau kiri.

Artinya, ketika isu komunisme kembali dimainkan oleh kelompok lawan, para anggota ormas tersebut bisa dengan cepat meng-counterisu miring itu di akar rumput. Dukungan politik ini tentu saja akan sangat membantu sang presiden dalam kampanye politik, sekaligus juga menjadi tameng isu-isu politik lainnya.

Mungkinkah karena alasan-alasan itu Jokowi terlihat semakin mendekat ke ormas asuhan Japto Soerjosoemarno tersebut?

Bukan Prabowo, Justru Jokowi Neo-Orbaisme?

Pemuda Pancasila didirikan oleh Ahmad Yani, Gatot Subroto, dan Ahmad H. Nasution pada 28 Oktober 1959. Ormas tersebut sengaja dibentuk untuk memberantas paham komunis dan mempertahankan ideologi Pancasila. Namun, seiring berjalannya waktu Pemuda Pancasila lebih identik dengan pemerintahan Orde Baru – karena kedekatan ormas tersebut terhadap rezim tersebut pasca Soekarno jatuh.

Menurut Gunawan Rudy dalam buku Premanisme Politik, kedekatan Pemuda Pancasila dengan Orde Baru juga bisa dilihat dari fenomena sebagian anggota DPR pada yang saat itu berasal dari Pemuda Pancasila. Sebagai timbal balik,Pemuda Pancasilasaat itu berperan dalam mengamankan rezim Orde Baru dari kelompok-kelompok penentang.

Selain itu, George Junus Aditjondro pernah menulis bahwa Japto Soerjosoemarno – Ketum Pemuda Pancasila saat ini – memiliki kedekatan khusus dengan keluarga Soeharto. Hal itu tidak mengherankan, mengingat majalah Gatra menyebutIbu Tien Soeharto adalah sepupu dari ayah Japto yang masih trah Mangkunegaraan.

Maka bisa disimpulkan, Pemuda Pancasila merupakan organisasi yang sangat Orbais dan menjadi warisan dari rezim tersebut yang eksis hingga saat ini. Mungkin karena alasan itulah pada tahun 2014 Pemuda Pancasila lebih memilih mendukung Prabowo – yang juga sempat menjadi menantu Soeharto – dibanding mendukung Jokowi.

Lantas, jika sudah tahu bahwa ormas berideologi Pancasila itu adalah warisan Orba, mengapa Jokowi masih merangkul mereka? Bukankah selama ini kubu Jokowi kerap melempar isu Orba untuk menyerangPrabowo?Tim kampanye Jokowi seperti Budiman Sudjatmiko dan Adian Napitupulu beberapa kali mengait-ngaitkan Prabowo dengan kebangkitan Orba.

Politisi Partai Hanura,Inas Nasrullah Zubir juga pernahmenyebutPrabowo membawa paham baru bernama “Neo-Orbanazisme” sebagai gabungan Orde Baru dan Nazisme. Ia mengatakan bahwa ada kemungkinan keluarga Soeharto akan kembali menguasai pemerintahan melalui Prabowo. (Baca: Neo-Orbanazisme, Jokowi Takut Kalah)

Hal tersebut tentu kontras dengan pertemuan Jokowi dan Pemuda Pancasila di Istana. Ini justru mengindikasikan bahwa kubu Jokowi pun menggunakan “perangkat-perangkat” warisan Orba untuk menggalang kekuatan di Pilpres kali ini.Selain merangkul ormas Orbais, Jokowi juga sudah lebih dulu didukung tokoh-tokoh Orba, katakanlahseperti Wiranto.

Pada titik inilah bisa dikatakan bahwaisu Orba hanya digunakan sebagai komoditas politik. Tujuan besar dari tersebarnya isu tersebut adalah untuk mendiskreditkan Prabowo demi mendulang suara. Bisa disimpulkan bahwa Jokowi dan Prabowo tidak berbeda, alias sama saja.

Anggapan bahwa Jokowi adalah anak kandung reformasi dengan indikasi tak memiliki kaitan dengan Orba sedikit banyak mulai diragukanseiring manuver politik merangkul Pemuda Pancasila ke barisan pendukung. Lantas, mungkinkah ada perangkat Orba lain yang akan digunakan oleh Jokowi untuk menghadapi Pilpres tahun depan? Menarik untuk ditunggu. (D38)