Jokowi-Prabowo Rebutan Alumni SMA PL?

Jokowi-Prabowo Rebutan Alumni SMA PL?
Dukungan alumni SMA PL diperebutkan? (Foto: istimewa)
8 minute read

Deklarasi dukungan sebagian alumni SMA Katolik Pangudi Luhur (PL) Jakarta kepada Jokowi beberapa waktu lalu masih menjadi topik yang hangat dipergunjingkan. Pasalnya, SMA PL adalah almamater Sandiaga Uno yang kini jadi lawan Jokowi. Dengan banyaknya alumni sekolah khusus laki-laki ini yang menduduki beragam jabatan penting, serta kuatnya ikatan brotherhood yang terbangun di antaranya, membuat fenomena tersebut tidak bisa dianggap remeh. Akankah deklarasi yang dihadiri langsung oleh Jokowi itu berdampak pada hasil Pilpres nanti?


PinterPolitik.com

“Politics is not a game. It is an earnest business”.

:: Winston Churchill (1874-1965), mantan Perdana Menteri Inggris ::

Jika sebuah entitas atau identitas tertentu menjadi hal yang dipergunjingkan dan bahkan mempengaruhi sebuah fenomena yang lebih besar, maka orang-orang umumnya akan mengambil kesimpulan: “There should be something special”.

Mungkin hal itulah yang bisa dilihat dalam tajuk pemberitaan beberapa hari terakhir tentang identitas yang melekat pada sebuah sekolah menengah atas, SMA Pangudi Luhur 1 Jakarta atau yang kerap disingkat sebagai SMA PL.

Perbincangannya pun bukan lagi sekedar ada pada tataran prestasi akademis atau profil anak-anak didik sekolah khusus laki-laki yang umumnya dicirikan dengan rambut gondrong itu saja, namun sudah sampai pada level konteks pergantian kekuasaan di level nasional pada Pilpres 2019.

Beberapa alumni SMA PL menyebut konteks deklarasi dukungan terhadap Jokowi itu tidak bisa dimaknai sebagai dukungan alumni secara keseluruhan. Pasalnya, banyak juga alumni yang ada di belakang Sandi. Click To Tweet

Adalah deklarasi dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh sebagian alumni SMA PL itu yang jadi fokus perbincangannya. Pasalnya, sekitar 800-an alumni sekolah itu yang tergabung dalam Forum Pangudi Luhur (FPL) mendeklarasikan dukungan politiknya kepada Jokowi dengan tajuk “Berbeda Tapi Bersatu” dan mendukung sang presiden untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Konteks pernyataan dukungan ini menjadi menarik karena dihadiri langsung oleh Jokowi yang ditemani oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Erick Thohir. Selain itu, dukungan ini punya makna besar karena Sandiaga Uno yang menjadi cawapres Prabowo Subianto adalah alumni SMA PL.

Terkait deklarasi dukungan tersebut, Ikatan Alumni SMA Pangudi Luhur (IKAPL) yang merupakan organisasi ikatan alumni sekolah tersebut dalam keterangan resminya menegaskan bahwa secara institusi tidak mendukung Jokowi maupun Prabowo.

Ketua Umum IKA SMA PL, Arief Satria Kurniagung menyebutkan bahwa sebagai institusi, organisasi tersebut bersikap netral pada Pilpres kali ini. Anggotanya memang dibebaskan untuk mendukung calon yang sesuai dengan pilihan mereka, namun dilarang menggunakan nama, logo dan atribut yang mengatasnamakan organisasi tersebut.

Atas aksi deklarasi ini, Sandi yang menjadi alumni sekolah tersebut tidak mempermasalahkannya. Namun, ia meminta pihak-pihak tersebut tidak gagah-gagahan dan fokus pada sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat.

Faktanya jika melihat daftar alumni yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah Katolik ini, SMA PL tidak bisa dianggap remeh. Selain Sandi, masih banyak alumni sekolah ini yang menduduki jabatan-jabatan penting di republik ini, mulai yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI), menteri, pengusaha dan pebisnis besar, hingga figur publik.

Nama-nama seperti Agus Martowardojo, Anindya Bakrie, Ricardo Gelael dan Ponco Sutowo merupakan beberapa contohnya. Sementara, beberapa di antaranya pun kini ada di kubu Jokowi, misalnya Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro dan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Roeslani. Nama terakhir adalah Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin.

Dengan konteks deklarasi dukungan ini, tentu pertanyaannya adalah seperti apa dampaknya terhadap hasil Pilpres nanti? Lalu, akankah hal ini mempengaruhi posisi politik Sandiaga Uno yang merupakan alumni sekolah tersebut?

SMA PL Jakarta, Mengapa Penting?

Pertanyaan yang berseliweran beberapa hari terakhir ini memang berkutat pada persoalan mengapa sebuah SMA bisa punya nilai politik yang besar. Seperti sudah disinggung sebelumnya, alumni SMA PL memang mengisi banyak posisi penting di hampir semua sektor.

Setahun lalu, nama SMA PL juga sempat mencuat ketika 3 dari 5 nama calon Gubernur BI yang masuk ke Presiden Jokowi berasal dari sekolah ini. Kala itu, nama Agus Martowardojo sebagai petahana, Bambang Brojonegoro, dan Deputi Senior Gubernur BI Mirza Adityaswara yang menjadi kandidat adalah alumni dari SMA PL – sekalipun pada akhirnya yang terpilih adalah Perry Warjiyo.

Tentu hal ini bukan sekedar sebuah kebetulan biasa karena dari sekitar 12 ribuan SMA di Indonesia, produk terbaik yang dihasilkan untuk posisi orang nomor satu di BI didominasi oleh satu sekolah.

Jika telusuri ke belakang, memang sejak didirikan pada tahun 1965 oleh Yayasan Pangudi Luhur, SMA PL telah menjadi sekolah yang disegani dalam hal akademis, demikian juga karena siswa-siswanya yang agak “bengal” dan berkarakter. Konteks akademis memang sempat membuat SMA PL menjadi salah satu sekolah favorit di Jakarta – meski kini secara akreditasi tidak menempati posisi teratas dalam daftar yang dikeluakan oleh Kemendikbud.

Sekalipun demikian, konteks tersebut tetap membuat lulusan sekolah ini mampu bersaing secara akademis dengan banyak sekolah papan atas. Ciri khas pendidikan Katolik memang terasa karena sekolah khusus laki-laki ini didirikan oleh para Bruder atau biarawan Katolik dari Kongregasi Santa Perawan Terkandung Tak Bernoda atau Fratrum Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis (FIC).

Meski berciri Katolik, sekolah ini terbuka untuk semua agama, bahkan tidak memandang agama sebagai hal yang esensial dalam pendidikan. Adapun sistem pendidikan yang ditanamkan oleh para bruder yang awalnya berasal dari Belanda itu memang membuat SMA PL memiliki ciri khas kurikulum tersendiri. Siswa SMA PL juga dikenal karena rambutnya yang boleh gondrong, gayanya yang terkesan urakan, namun tetap berkarakter dan berprestasi.

Selain karena ciri khasnya yang hanya menerima siswa laki-laki, hal yang membuat SMA PL unik adalah dari sisi brotherhood atau persaudaraan yang terbangun di antara semua yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini. Setidaknya hal itulah yang dirasakan dan diungkapkan oleh para alumni SMA PL. Bahkan, beberapa pihak menyebut ikatan alumni sekolah tersebut adalah salah satu yang paling kuat di Indonesia.

Kemudian, banyak alumni yang mengakui bahwa salah satu kelebihan SMA PL adalah situasi pendidikan yang memungkinkan siswanya untuk memandang semua orang secara sama, tidak peduli apa latar belakangnya, agamanya, suku, maupun status keluarganya.

Hal ini yang membuat lulusan SMA PL memandang politik identitas dengan lebih terbuka, bahkan menghilangkan sekat-sekat yang belakangan ini justru menjadi komoditas politik nasional dan semakin dipolitisasi oleh banyak pihak.

Karena hal tersebut, beberapa pihak menyebut konteks ke-Indonesiaan justru sangat terlihat dalam model pendidikan di sekolah ini. Sekalipun berisi laki-laki semua – hal yang oleh Bramantyo Adi, salah satu alumni SMA PL, disebut “gersang” – namun, pandangan ke-Indonesiaan menjadi hal yang tetap sangat terasa.

Brotherhood untuk Sandi?

Kemudian, konteks brotherhood yang terbangun membuat jaringan antaralumni menjadi sangat kuat. Hal ini tentu saja punya dampak yang sangat besar, apalagi jika melihat nama-nama yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah ini.

Selain Sandiaga Uno, Agus Martowardojo – yang kini menjabat sebagai Komisaris Utama Tokopedia –  Bambang Brodjonegoro, Rosan Roeslani dan Mirza Adityaswara seperti sudah disinggung sebelumnya, ada pula sosok pengusaha macam Ricardo Gelael yang empunya PT Fast Food Indonesia – pemegang hak tunggal waralaba KFC sekaligus ayah pebalap Sean Gelael. Kemudian CEO PT Bakrie Global Ventura, Anindya Bakrie yang adalah putra politisi Golkar, Aburizal Bakrie pernah pula berseragam SMA PL.

Ketua Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI) Ponco Sutowo – putra dari Ibnu Sutowo, salah satu tokoh di balik berdirinya Pertamina – juga adalah alumni sekolah ini.

Banyak lulusan SMA PL yang telah tersebar di pemerintahan, dan menduduki jabatan-jabatan penting lainnya, misalnya politisi Gerindra Biem Benyamin yang adalah juga putra seniman Benyamin Sueb. Ada pula nama Ronald Waas yang kini menjadi salah satu Komisaris Gojek dan Alex Rusli – mantan CEO Indosat Ooredoo – sebagai bagian dari daftar tersebut.

Alumni SMA PL lain yang cukup terkenal adalah pemilik saham maskapai Air Asia dan deretan perkantoran di jalan Gatot Soebroto Jakarta, Muhammad Riza Chalid. Riza tercatat merupakan salah satu alumni dari SMA PL dan namanya sempat muncul ke pemberitaan beberapa tahun lalu.

Masih banyak lagi alumni SMA PL yang mempunyai posisi penting di berbagai sektor, mulai di bidang media massa, kepolisian, TNI – salah satunya Letjen (Purn) Suryo Prabowo – hingga di dunia hiburan. Figur publik macam Christian Sugiono, Imam Darto dan Gugun Gondrong merupakan beberapa di antaranya.

Tidak sedikit juga “tokoh-tokoh penting” dalam bisnis-bisnis tertentu yang oleh beberapa pihak dianggap “mempengaruhi negara” – walaupun untuk topik ini masih perlu kajian yang lebih mendalam lagi.

Konteks tersebut sudah lebih dari cukup untuk melihat posisi penting alumni SMA PL dalam konteks pergantian kekuasaan. Maka, tak heran jika Jokowi sampai hadir dalam deklarasi dukungan ini.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah konteks brotherhood itu justru seharusnya membuat alumni SMA PL mendukung Sandi?

Beberapa alumni SMA PL memang menyebut konteks deklarasi dukungan terhadap Jokowi itu tidak bisa dimaknai sebagai dukungan alumni secara keseluruhan. Pasalnya, banyak juga alumni yang ada di belakang Sandi dan mendukung pemenangannya.

Selain itu politik adalah tentang kepentingan. Seperti kata-kata Winston Churchill di awal tulisan ini, politik bukanlah permainan, tetapi bisnis. Artinya, sangat mungkin pilihan-pilihan politik yang dibuat punya pertalian kepentingan lain di belakangnya.

Yang jelas brotherhood tetap menjadi konsepsi yang kuat. Dan kalaupun pada akhirnya Sandi terpilih, tentu akan ada kebanggaan bagi para alumni sekolah ini – yang mungkin – hanya mereka yang mengetahuinya. (S13)