Jokowi, “Mimpi” Budaya Baru

Jokowi, “Mimpi” Budaya Baru
Foto : Istimewa
2 minute read

“Bermimpilah dalam hidup, jangan hidup dalam mimpi.” ~ Andrea Hirata


PinterPolitik.com

Ajang kumpul keluarga terakbar di Indonesia telah berakhir. Mereka yang pulang ke kampung halaman kembali pada rutinitasnya masing-masing.

“Cari uang dan ayo kita kerjo, kerjo, kerjo!” Begitu jargon Pak Wiwi, sang Ketua RW 02, Pasar Binggo, daerah tempat aku tinggal.

Lingkungan RW ini memang mengalami banyak perubahan yang signifikan, terutama dari segi infrastruktur. Banyak jembatan kayu yang dibuat oleh pengurus RW.

Langkah ini bertujuan untuk mempermudah anak-anak pergi ke sekolah. Maklum gengs, lingkungan RW kami memiliki banyak sungai yang lebar dengan air yang mengalir deras.


Saat ini kami memiliki budaya baru. Kami tidak harus membeli atau menyewa perahu. Meski harga perahu terbilang murah dan sangat terjangkau, kami lebih memilih berjalan kaki daripada naik perahu.

Meski warga kami sudah merasa nyaman dan terbantu oleh fasilitas ini, kami memiliki pertanyaan dan kegelisahan berjamaah.

Pertanyaan itu ditujukan kepada para penyewa perahu online. “Bagaimana ya nasib mereka? Apa mereka dapat melunasi cicilan perahu?”

Sepinya pelanggan merubah raut wajah ojek perahu online di RW kami. Lihat saja dari kejauhan, wajahnya memelas seperti belum makan dan tidur berhari-hari. Hmmm kasihan ya mereka.

Tetapi mereka tidak sendiri. Warga kami pun mengalami nasib yang sama, meski masih banyak warga belum menyadarinya. Mahalnya ongkos pembangunan memaksa pengurus RW berhutang kepada Bank Cinta Town.

Hmmm, sebenarnya kami tidak khawatir dengan cicilan pokoknya. Yang kami khawatirkan ialah bunganya dan hutang RW kami sebelumnya. Waduh jadi pusing kalo mikirin hutang hehehe.

Apa boleh buat gengs yang terpenting sekarang warga Pak Wiwi bangga punya jargon baru: “Jangan berhutang untuk membeli kendaraan pribadi karena nyicilnya sendiri-sendiri. Lebih baik berhutang demi kepentingan umum, jadi nyicilnya bersama-sama.”

Ada-ada saja memang warga RW 02, Pasar Binggo. Seandainya Pak Wiwi belajar dari Pak Jokowi. keberhasilannya membangun LRT, MRT, dan Tol melahirkan budaya baru yang positif, misalnya budaya tepat waktu dan antre.

Ya kalo RW Pasar Binggo apa atuh? Bisanya cuman ngutang. Tapi tetep bangga lah sama Pak Wiwi. Soalnya budaya antre masih dipertahankan sejak dulu sampai jembatan diresmikan. Bedanya, dulu ngantre di sungai yang dipadati perahu, sekarang antrenya di jembatan hehehe.

Pak Wiwi, makanya belajar sama Pak Jokowi. Ingat apa yang dibilang Konfusius filsuf asal Tiongkok: “Belajar tanpa berpikir sia-sia, berpikir tanpa belajar berbahaya.” (G11)