Jokowi Milenial Dan Intoleransi

Jokowi Milenial Dan Intoleransi
Foto : Istimewa
3 minute read

“Hidupku dibayangi zat abadi. Zat itu menganugerahiku sebuah imajinasi. Syukurku sampai hari ini imajinasi itulah yang setia membantu menafkahi hidup dan tubuhku pun merespon keunikan itu.” ~ GRDZM


PinterPolitik.com

Presiden Jokowi mengingatkan betapa bahayanya ancaman intoleransi yang rawan terjadi di Indonesia karena beragamnya akar budaya bangsa Indonesia. Hal itu disampaikan Jokowi saat bersilaturahmi dengan para peserta Kongres Indonesia Millenial Movement Tahun 2018 di Istana Bogor.

Jokowi memastikan dirinya akan terus mengingatkan bahayanya intoleransi karena seringnya masyarakat lupa masalah ini. Menurut Jokowi, karena kita lupa, menyebabkan kita ini kadang-kadang merasa tidak saudara. Padahal kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Hmmm, kalau Jokowi mengucap kata “kita sering lupa”, berarti Jokowi sendiri juga suka lupa dong? Kok bisa? Ya bisa lah, kan kata Jokowi “kita”, bukan “kalian”. Duh bahaya nih kalau Jokowi sebagai presiden sampai ikutan lupa, bisa jadi nasib eyke kayak HTI nih. Wkwkwk. Click To Tweet

Oh iya gengs, melalui pertemuan tersebut, para milenial Indonesia juga turut berkomitmen untuk mempromosikan perdamaian dan pencegahan ekstremisme serta kekerasan.  Deklarasi yang terdiri atas 6 butir sebagai hasil kongres dibacakan di hadapan Presiden Jokowi. Weleh-weleh, enggak sekalian aja nih promosiin Jokowi-Ma’ruf  dua periode? Oh iya, itu kan udah otomatis ya, jadi enggak perlu diungkapin. Wkwkwk.

Di hadapan para peserta kongres, Presiden juga sempat mengingatkan tentang beragamnya bangsa Indonesia.  Keragaman yang dimiliki Indonesia ini, menurutnya, sering sekali dilupakan oleh masyarakat yang menyebabkan masyarakat terkadang merasa tidak sebangsa dan setanah air.

Hal itu ditambah lagi dengan merebaknya tindakan-tindakan yang menjurus pada intoleransi hingga ekstremisme di kalangan masyarakat.  Namun, Jokowi berpendapat bahwa banyak tindakan intoleransi terjadi bukan karena didorong oleh keinginan sendiri, melainkan terpengaruh oleh peristiwa-peristiwa politik yang terjadi.

Jeilah pak, perasaan bapak aja kali kalau masyarakat suka amnesia. Atau mungkin bapak yang sebenarnya amnesia kalau rakyat Indonesia itu sejatinya memang sudah menyatu, cair, dan selalu merasa sedarah setanah air dari dulunya?

Intinya mah pak, daripada ingatkan masyarakat mengenai persatuan dan kebangsaan, mending bapak ingetin lagi deh tuh kader partai dan berembuk lagi sama elite politik oposisi mengenai ideologi kebangsaan dan persatuan! Siapa tahu kan mereka yang sedang amnesia.

Terus buat kalian gengs, percaya deh sama eyke, seandai-andainya saja para elite politik hari ini menunjukkan persatuan, pasti deh turunannya tidak seperti ini. Jadi ceramah yang menjadi sia-sia terjadi berulang kali ngomongin ideologi A, B, C, dan D bisa tidak terulang lagi. Betul apa betul? Intinya dari eyke buat elite politik, berhentilah bicara janji, terapkanlah Pancasila baru silat lidah! (G35)