Jokowi Melirik Generasi Netflix

generasi Netflix
Jokowi kerap menggunakan referensi populer khas anak muda. (Foto: Reuters)
6 minute read

Konon, generasi milenial lebih suka menonton Netflix ketimbang melirik dunia politik.


Pinterpolitik.com

Netflix and chill. Kata-kata ini tengah amat gandrung di berbagai media sosial. Kebiasaan menonton film dan serial dari platform ini memang dapat menjadi candu bagi kebanyakan orang. Orang-orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton tayangan-tayangan kesayangan yang dihadirkan Netflix. Konon, hal ini terutama berlaku pada generasi milenial.

Ungkapan kesukaan generasi milenial akan Netflix ini bahkan terpantau oleh tokoh politik negeri ini. Sandiaga Uno misalnya, menyebut bahwa generasi ini lebih suka menonton Netflix ketimbang menengok isu-isu politik. Dari pernyataan tersebut, Bloomberg kemudian menggunakan istilah Netflix generation atau generasi Netflix di dalam artikel mereka.

Meski dianggap cenderung apolitis, usaha untuk menarik perhatian generasi ini tetap dilakukan banyak politisi. Salah satu tokoh yang kerap dianggap sebagai politisi yang dekat dengan generasi tersebut adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut terkenal kerap menyentuh isu-isu yang dekat dengan generasi Netflix tersebut. Tak jarang, berbagai tren yang lekat dengan generasi tersebut juga ia ikuti.

Kini, dengan Pilpres yang sudah di depan mata, Jokowi jelas harus mempertahankan citranya sebagai presiden yang dekat dengan generasi milenial. Pertanyaannya kemudian adalah, bisakah ia melakukannya?

Merapatkan Generasi Netflix

Selama ini, Jokowi memang tergolong serius menggarap pemilih dari generasi Netflix. Berbagai referensi-referensi budaya populer kerap muncul dalam beragam langkah politiknya. Kepiawaiannya membawa hal-hal yang dekat dengan generasi ini membuat ia seolah menjadi idola bagi anak muda.

Salah satu referensi yang paling dekat generasi yang gemar menonton itu adalah pidato Jokowi yang menyinggung soal Game of Thrones, salah satu serial yang amat populer di kalangan anak muda. Pidato tersebut terlontar tak lama setelah ia menggunakan referensi budaya populer yang lain, yaitu film Avengers Infinity War.

Hal itu masih ditambah dengan kegemarannya untuk memakai pakaian-pakaian khas anak muda. Jaket hingga sepatu sneakers kerap ditambahkan sebagai atribut baginya saat muncul di hadapan publik. Seperti belum cukup, ia juga menyentuh kegemaran anak muda yang lain, yaitu dengan mengendarai sepeda motor.

Jelang Pilpres 2019, jika survei yang menjadi rujukannya, pesona Jokowi di hadapan generasi itu tampaknya belum sepenuhnya pudar. Berdasarkan survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, pasangan Jokowi-Ma’ruf masih unggul dari Prabowo-Sandiaga dengan marjin yang cukup jauh.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf tampak unggul dengan perolehan 50,8 persen dari responden kelompok umur milenial. Sementara itu, Prabowo-Sandi tertinggal dengan perolehan 31,8 persen. Di atas kertas, Jokowi bisa berlega hati melihat hasil surveinya cukup moncer.

Meski masih terlihat unggul, laju Jokowi tersebut bukannya tanpa saingan. Cawapres penantangnya, Sandiaga juga tergolong aktif berusaha merebut suara generasi Netflix tersebut. Berdasarkan pengakuannya, merujuk pada survei internal Prabowo-Sandi, pasangan tersebut kini diklaim sudah unggul dari Jokowi.

Menjaga Antusiasme

Milenial dan politik memang belakangan menjadi suatu hal yang dapat dikatakan overused atau digunakan berulang-ulang. Meski membosankan bagi beberapa orang, bertemunya generasi milenial dengan perkara politik sebenarnya bukan tanpa alasan.

Seiring dengan berkembangnya  zaman, generasi yang memiliki peran dalam masyarakat juga mengalami pergantian. Jika sebelumnya generasi baby boomer yang mendominasi, secara perlahan generasi milenial mulai mengambil peran tersebut, termasuk dalam urusan politik.

Salah satu tokoh dunia yang melirik peran generasi tersebut adalah Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Presiden kulit hitam pertama AS tersebut dianggap mampu menarik perhatian generasi muda yang tergolong mayoritas kelompok milenial itu. Hal ini terutama berlaku pada ikhtiar pertamanya pada Pilpres 2008. Obama nyatanya mendapatkan voter turnout cukup besar dari golongan ini.

Meski berhasil merebut suara generasi tersebut di tahun 2008, disebutkan bahwa Obama tidak sepenuhnya berhasil jelang ikhtiar keduanya di Pilpres 2012. Katrina Jorgensen dalam sebuah artikel di The Guardian menyebut bahwa ada enthusiasm gap di mana generasi tersebut tidak lagi terlalu antusias dengan Obama ketika maju untuk kedua kali. Hal ini terkait dengan berbagai harapan yang muncul di 2008 nyatanya banyak tidak terealisasi.

Dalam artikel yang ditulis oleh Krystie Yandoli, Obama di tahun di 2008 membawa banyak harapan akan perubahan. Obama ketika itu membawa retorika yang baru seperti hak-hak LGBT atau kesetaraan rasial. Selain itu, mantan senator dari Illinois ini juga dianggap sebagai sosok yang berada di kutub yang berbeda dengan presiden sebelumnya, George W. Bush, sosok yang dikenal melalui berbagai perang terutama di Timur Tengah.

Saat menjabat, harapan itu ternyata memudar. Obama memang memenuhi beberapa hal simbolis terkait dengan kesetaraan hak. Akan tetapi, untuk perkara perang, hampir tidak ada perbedaan mencolok antara Obama dan Bush. Selain itu, ia juga dianggap tidak memiliki agenda reformasi di bidang imigrasi.

Generasi milenial kemudian melihat idealisme Obama yang ditawarkan di 2008 memudar. Hal itu membuat Obama terlihat seperti politisi pada umumnya. Memang, generasi itu tidak sepenuhnya pergi karena penantangnya dianggap tidak lebih baik. Meski begitu, dapat dikatakan generasi tersebut tidak lagi memiliki antusiasme serupa jika dibandingkan pada tahun 2008.

Harapan Memudar

Merujuk pada kondisi tersebut, meski Jokowi masih kerap menggunakan referensi yang dekat dengan generasi Netflix, bukan berarti posisi mantan Wali Kota Solo tersebut benar-benar aman. Jika Obama saja tidak imun dari enthusiasm gap, Jokowi bisa saja memiliki nasib yang serupa.

Berkurangnya antusiasme ini dapat dikatakan sebagai bad reputation effect seperti yang disebutkan oleh Navin Kartik dan Richard VanWeelden. Menurut mereka, bad reputation effect ini dapat menjadi kerugian bagi sosok petahana.

Generasi Netflix yang memilih Jokowi di 2014 lalu bisa saja memendam kekecewaan pada presiden petahana tersebut. Hal ini terutama sosok Jokowi yang muncul di tahun tersebut bisa dikatakan sudah berbeda dengan Jokowi yang sekarang. Jokowi yang digambarkan sebagai sosok reformis di tahun tersebut kini tampak tak ada bedanya dengan politisi pada umumnya.

Jelang Pemilu di 2014 tersebut, Jokowi memang terlihat seperti sosok yang tergolong progresif. Berbagai isu perubahan muncul dari alumnus Universitas Gajah Mada tersebut. Berbagai isu yang tak pernah dibahas seperti HAM, muncul dalam kampanyenya. Tak hanya itu, ia juga amat lekat dengan nuansa pluralis-toleran, alih-alih konservatif seperti banyak tokoh pada umumnya.

Sosok yang mendekati progresif itu cenderung memiliki pesona tersendiri di mata generasi milenial. Dalam studi yang dilakukan oleh John Halpin dan Karl Agne, generasi tersebut cenderung memberi penilaian tinggi pada gagasan progresif. Sementara itu, konservatisme justru dianggap di ambang kehancuran di mata generasi milenial.

Jelang Pemilu 2019, unsur progresif Jokowi seperti tidak nampak lagi. Berbagai janji, terutama dalam kasus HAM gagal dipenuhi selama lima tahun menjabat. Gambaran Jokowi sebagai sosok pluralis-toleran juga perlahan pudar seiring lirikannya pada kelompok-kelompok Islam konservatif. Puncaknya terjadi pada saat ia memilih sosok Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya dalam mengarungi pesta demokrasi 2019.

Generasi Netflix bisa saja kehilangan antusiasmenya kepada Jokowi Click To Tweet

Boleh jadi, hal-hal tersebut membuat antusiasme generasi Netflix pada sosok Jokowi tidak akan sebesar di tahun 2014. Berbagai harapan yang ia tawarkan di tahun tersebut nyatanya urung terlaksana dengan berbagai alasan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Jokowi boleh jadi tidak bisa berleha-leha dengan posisinya saat ini. Memang, ia masih tampak memukau dengan kepiawaiannya menggunakan simbol yang dekat dengan generasi milenial. Akan tetapi, sosoknya yang berbeda jika dibandingkan dengan Pilpres 2014 bisa saja membuat generasi itu kehilangan antusiasmenya. Pada akhirnya, bisa saja generasi Netflix ini kembali ke serial favoritnya dan meninggalkan Jokowi. (H33)