Jokowi Marah, Emang Berani Lawan?

Jokowi Marah, Emang Berani Lawan?
Foto: istimewa
3 minute read

“Sebab, bahaya yang sesungguhnya bukan pada orang yang marah-marah, tapi pada orang yang diam. Orang marah dapat diukur hatinya, orang diam tak mudah ditakar akalnya.” – Remy Sylado, dalam Hotel Pro Deo


PinterPolitik.com

Kemarahan memang selalu jadi bagian dari ekspresi kehidupan manusia. Senggolan sama abang-abang ojek online di jalan aja bisa bikin orang marah-marah, terus berantem, bacok-bacokan, ujung-ujunganya tawuran antar kampung.

Kalau dilihat-lihat, memang marah itu lebih banyak mudaratnya – sekalipun juga kadang diperlukan untuk menunjukkan sikap tegas.

Faktanya, kejeniusan seseorang juga bisa diukur dari kemarahan. Seperti kata Aristoteles, marah itu mudah bagi semua orang. Yang sulit itu adalah marah pada orang yang tepat, pada saat yang tepat, dan dengan kadar yang tepat pula.

Mungkin hal itulah yang ingin ditunjukkan oleh Presiden Jokowi dalam salah satu pidatonya di Yogyakarta beberapa hari lalu. Kala itu, ia menyinggung soal serangan hoaks yang sudah menerpa dirinya selama 4 tahun lebih berkuasa.


“Empat setengah tahun saya difitnah, saya diam. Dijelek-jelekkin, saya diam. Dicela direndah-rendahkan, saya diam. Tetapi hari ini di Jogja, saya sampaikan saya akan lawan!” demikian kata Jokowi yang disambut gemuruh sorakan para pendukungnya.

Emang berani lawan kalau Pakde udah berubah jadi super saiyan? Awas bernasib sama kayak yang nyanyi lagu “Neng Neng Nong Neng”. Click To Tweet

Nada seruannya pun cenderung meninggi ketika menyebut kata-kata “saya akan lawan”.

Sontak hal tersebut mengundang reaksi, salah satunya dari Wakil Ketua DPR, Fadli Zon. Bang Fadli bilang bahwa justru yang diserang banyak hoaks adalah kubu oposisi. Doi juga bilang gestur Jokowi saat marah-marah itu lucu.

Lha, Bang Fadli emang nggak takut ngomong gitu ya?

Lagian, marah itu nggak selalu negatif loh, bang. Psikolog Karen Habib pernah bilang dalam salah satu tulisannya bahwa kemarahan bisa menjadi hal yang positif dan memberikan energi positif.

Dalam konteks Jokowi yang lagi pidato di depan pendukungnya, kemarahan itu bisa bakar semangat dan militansi mereka. Jadi mereka bisa berjuang makin keras untuk menangin dirinya, apalagi kan survei Litbang Kompas beberapa hari lalu bilang elektabilitas Jokowi lagi nyungsep di bawah 50 persen.

Dengan marah-marah gitu, Pakde jadi bisa kasih semangat agar relawannya bisa kampanye lebih militan lagi.

Makanya, justru Bang Fadli dan kawan-kawan lah yang harus hati-hati. Son Goku di serial Dragon Ball aja kalau udah marah bisa jadi manusia super saiyan yang kekuatannya bisa setara dewa loh. Luffy di serial One Piece pun demikian, pas marah bisa jadi sangat kuat.

Justru yang bahaya itu adalah kalau orang nggak pernah marah. Psikoterapis John Rifkin bahkan bilang bahwa kemarahan bisa menyembuhkan seseorang dari emotional injuries atau luka-luka emosional.

Sakti nggak tuh?

Jadi mending nggak usah ribut-ribut deh soal marah-marah itu. Nanti malah Bang Fadli yang rugi kalau pendukungnya Pakde jadi tambah militan semua. Emang berani lawan kalau Pakde udah berubah jadi super saiyan? Awas bernasib sama kayak yang nyanyi lagu “Neng Neng Nong Neng”. Uppsss. (S13)