Jokowi Kok Takut OSO?

Jokowi Kok Takut OSO?
Lha kok presiden malah minta KPU biar nama OSO ada di surat suara? (Foto: istimewa)
3 minute read

“Sejak aku meninggalkanmu, aku terus-menerus mengalami depresi. Kebahagiaanku adalah berada di dekatmu”. – Surat cinta Napoleon Bonaparte untuk Josephine


PinterPolitik.com

Bicara tentang surat cinta memang cocoknya untuk mereka-mereka dari generasi zaman old. Lha, kalau generasi zaman now, pasti pada bilang nggak butuh nulis surat cinta nggak jelas. Tinggal kirim aja pesan lewat WhatsApp atau Line atau DM di Instagram:

“Yang, aku kangen. Kamu kangen ora? Makan bareng yuk, mumpung malam Sabtu nih. Besok kan libur. Kalau kangen, berarti centang biru dua. Kalau pengen makan, berarti dibales”.

Beres kan? Walau agak-agak bucin alias butuh cinta, dan cewek yang jadi incaran bakal balas 36 jam kemudian dengan ngirim foto bapaknya yang tentara disertai fotokopian poster iklan produk minuman dengan jargon “laki, fearless” – tahu kan lambangnya kayak gimana – setidaknya kita udah mencoba. Hadeh.

Catatan tertua tentang surat cinta berasal dari sekitar 5000 tahun lalu. Surat itu ada di Bhagawatapurana yang merupakan salah satu kitab umat Hindu dan ditulis oleh Rukmini untuk Dewa Krisna. Click To Tweet

Tapi, surat cinta itu memang sakti loh. Catatan tertua tentang surat cinta berasal dari sekitar 5000 tahun lalu. Surat itu ada di Bhagawatapurana yang merupakan salah satu kitab umat Hindu dan ditulis oleh Rukmini untuk Dewa Krisna.


Seiring perjalanan waktu, surat cinta memang tidak hanya murni ungkapan hati pada orang-orang yang dicintai, tetapi juga menjadi salah satu bagian dari kesusasteraan. Oscar Wilde – salah satu sastrawan terkenal asal Irlandia – menuliskan salah satu surat cinta paling terkenal dalam drama berjudul Salome.

Terus, gimana jadinya kalau surat cinta itu ada juga di dunia politik ya?

Hmm, mungkin itu yang kini tengah dirasakan sama KPU. Soalnya mereka dikirimin surat cinta sama Pak Jokowi. Lha, kok bisa?

Iya, katanya Pakde ngirim surat agar KPU ngelolosin Ketum Partai Hanura, Oesman Sapta Odang alias OSO sebagai calon anggota DPD. Wih, bukannya ini abuse of power alias kesewenang-wenangan kekuasaan?

Soalnya kan KPU sebelumnya ngelarang OSO buat maju jadi anggota DPD karena doi ketua parpol. Terus OSO ngajuin gugatan ke pengadilan dan doi menang.

Sayangnya, KPU nggak bergeming. “Ogah, emang gua cewek apaan”, gitu kira-kira kata komisioner KPU.

Akhirnya, PTUN ngirim surat cinta ke presiden buat minta KPU masukin nama OSO di surat suara. Surat itu diteruskan oleh Mensesneg Pratikno dengan surat cinta lain ke KPU. Eh, terus jadi ramai deh semuanya ngebahas surat itu. Apalagi sekarang kan musim Pilpres.

KPU tetap aja pada pendiriannya dan bilang ogah ke OSO sekalipun dah dapat surat cinta dari Jokowi.

Hmm, bisa ribut nih ini. Apalagi kan OSO itu salah satu ketum parpol koalisinya Jokowi. Hadeh.

Ah, kok jadi rumit sih cinta segi empat antara OSO, Jokowi, KPU dan PTUN nih? Masih pada zaman old sih orang-orangnya.

Bapak-bapak, kalau mau ngutarain maksud hati dan tujuan, ya tinggal ngirim pesan WhatsApp aja kali pak. Gitu aja kok repot.

Asal keamanan hapenya diperhatikan, biar nggak dibajak orang. Kan jadi rame lihat orang nggak pake baju terus nyanyi lagu perjuangan. Uppss.

Dasar kau, Napoleon! (S13)