Pemerintah Kalang Kabut, DPR Husnuzan

Jokowi gempa sulteng
Presiden Joko Widodo. (Foto: Bisnis.com)
2 minute read

“Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu.” ~Soe Hok Gie


PinterPolitik.com

Gempa dan tsunama di Sulawesi Tengah tak lekang dari politisasi. Kubu petahana dan kubu oposisi saling serang. Saling salah-salahan. Makin pusing dah tuh para korban bencana. Ckckck

Gubernur Sulteng yang juga merupakan politisi Gerindra, Longki Djanggo dianggap bersikap pasif, sedangkan pemerintah pusat dianggap tidak becus dalam menangani bencana, malah yang terlihat aksi pencitraan Presiden Joko Widodo yang selalu datang ke daerah bencana bersama para media.

Ya, kalau dilihat-lihat, penangan bencana gempa dan tsunami di Sulteng masih terkesan berantakan banget. Ditambah terjadinya penjarahan di mana-mana. Belum lagi urusan penanggulangan gempa Lombok yang tak kunjung rampung. Piye tho Pakde?

Dari berbagai kritikan pedas beberapa golongan, Komisi VIII DPR mengatakan masih ingin berprasangka baik pada penanganan pasca bencana yang dilakukan oleh pemerintah.

Ketua Komisi VIII, DPR M. Ali Taher menuturkan alasannya tetap berhusnuzan karena memandang pemerintah sudah maksimal dalam melakukan tugasnya.

Politisi dari partai PAN ini juga merasa lumrah jika terjadi beberapa kekurangan, karena tuntutan kepada pemerintah juga banyak, seperti belum dibayarkan biaya jaminan hidup kepada korban gempa Lombok misalnya.

Pemerintah kalang kabut urus korban bencana, oposisi nyinyir, DPR tetap optimis. Lemesin aja say~ Click To Tweet

Sejauh pengawasannya selama ini, Ali belum melihat ada dana yang diselewengkan oleh pemerintah. Ia melihat, anggaran Kementerian Sosial yang menjadi mitra Komisi VIII sebesar Rp 41 triliun namun peruntukan untuk bencana hanya sekitar Rp 200 miliar.

Jadi gaes, menurut keterangan Ali, untuk bencana Palu baru Rp 7,4 miliar. Sedangkan untuk Lombok yang dijanjian Rp 50 juta per keluarga itu entah kenapa belum disalurkan. Namun, menurut ketengan pemerintah dana itu akan disalurkan ketika mereka kembali ke rumah masing-masing.

Baca juga :
Luhut, Masih Kokoh atau Tergusur?

Nah, dalam keadaan darurat bencana macam ini, yang paling benar adalah saling percaya dan mendukung. Jangan malah main adu citra politik. Kasihan banget nggak sih para korban yang sedang kalut malah ikut diombang-ambing dengan kepentingan politik? Sikap demikian menggambarkan keadaan politik Indonesia yang kekanak-kanakan dan konyol.

Lagian bencana kok dipolitisasi. Apa kata dunia? Wkwkwk. (E36)