Jokowi dan Terpaan Maskulinitas Politik

Maskulinitas Jokowi dan Perusakan Baliho
Presiden Joko Widodo saat beraktivitas di Istana. (Sumber: Istimewa)
7 minute read

Alat peraga kampanye Jokowi dihina dengan dilabeli sebagai banci. Menimbulkan riak 7 hari menjelang pemilihan presiden. Dia hadir di kandang Prabowo, sebagai rivalnya yang dianggap sangat maskulin. Maskulinitas selalu menjadi penanda dalam alam politik, maskulinitas bahkan menjadi tarung gagah-gagahan siapa yang paling pantas. Di sanalah kata banci keluar, dia dimaksudkan mendelegitimasi posisi politik sang petahana.


Pinterpolitik.com

Perusakan alat peraga kampanye nampaknya semakin marak, kali ini calon presiden nomor urut 01, Joko Widodo juga mendapatkan perlakukan yang sama. Beberapa baliho kubu petahana dirobek dan dicoret dengan tulisan “PKI” juga “banci”. Tuduhan PKI sudah lama kita dengar, namun dengan dipergunakannya istilah banci tentu adalah sesuatu yang baru.

Insiden tersebut terjadi di Brebes, kota yang menjadi salah satu calon basis terkuat Prabowo. Brebes adalah kota kelahiran Sudirman Said, dan bahkan sudah terbukti dengan mampu mengantarkan pasangan Sudirman-Ida meraup 41% suara dari yang diramalkan oleh lembaga survei sekelas LSI Denny JA seminggu sebelum hari pencoblosan hanya 13% suara saja.

Penghinaan kepada Presiden Jokowi banci memang terbilang baru, namun tidak sekali ini saja. Sebelumnya, Bahar bin Smith dalam sebuah ceramahnya juga mengatakan demikian, bahkan mengejek Jokowi untuk berani membuka celananya, sehingga bisa diidentifikasi dia jantan atau tidak.

Sebaliknya, sebelum hal tersebut terjadi, capres nomor urut 02 dikritik sebab menggunakan diksi yang bagi para akademisi dianggap terlalu maskulin dan militeristik dengan menyebut ibu pertiwi sedang diperkosa.

Maskulinitas Dunia

Bukan hanya Indonesia, isu maskulinitas juga nampaknya dirawat di dunia lain. Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai contoh, gemar dikaitkan sebagai perwajahan simetris dari maskulinitas, mantan anggota kelompok militer elite Rusia, KGB. Tentu saja dengan berbagai senjata laras panjang yang dalam beberapa pose foto nampak di genggamannya.

Xi Jinping, Presiden Tiongkok bahkan sangat marah dengan penyamaan dirinya dengan Pooh. Semua bermula tatkala Presiden Xi di tahun 2013 berjalan bersama dengan Presiden Obama, yang di kemudian hari foto mereka berjalan bersama disandingkan dengan foto Pooh sedang berjalan. Sehingga pemerintah Tiongkok memblokir film Winnie The Pooh, juga HBO setelah John Oliver memparodikan tema Pooh dan Xi.

Baca juga :
Jawa Barat Pecah, Siapa Untung?

Pooh sebagai karakter fiksional memiliki gambaran yang lemah, tidak garang meskipun dia beruang, dan berhati lembut. Segala fitur karakter inilah yang bagi Xi tidak bisa ditolerir ketika harus disamakan dengan dirinya, terlebih Tiongkok adalah negara yang dianggap dan akan menjadi kekuatan besar dunia.

Trump juga melakukan hal yang sama, selain banyak sekali pernyataan dia yang cenderung seksis, di banyak kesempatan dia mengolok-olok lawan politiknya sebagai seseorang yang lemah, Joe Biden dan Jeb Bush dianggap lembek, dan bahkan Marco Rubio disamakan dengan botol air minuman kemasan.

Bahkan dengan sangat maskulin Presiden Trump juga mengatakan bahwa Tiongkok telah memperkosa ekonomi masyarakat Amerika Serikat. Dengan perdagangan bilateral mereka yang terus menunjukkan defisit ekspor bagi Amerika. Hingga akhirnya peradang dagang tak terhindarkan

Corak maskulinitas yang ditampilkan oleh Putin, Xi Jinping, dan Trump tentu bukan yang bersifat psikologis semata, namun ada basis material sebagai daya sokong kesemuanya. Dan ini bisa diukur dari seberapa besar kekuatan ekonomi dan keamanan masing masing negara.

Di antara negara-negara tersebut, Rusia memegang sekitar 6800 butir senjata nuklir, Amerika Serikat sebanyak 6500, dan Tiongkok 270. Terlebih Amerika Serikat mengucurkan sekitar USD 600 milyar (3,1% GDP) untuk pendanaan militernya, Tiongkok USD 220 milyar (1,9% GDP), dan Rusia sekitar USD 60 milyar (4,3% GDP).

Politik maskulin menghantui Jokowi. Click To Tweet

Negara Sebagai Sosok Maskulin

Negara sedari awal memang menampilkan dirinya sebagai sosok yang maskulin. Sebagai transformasi modernis bentuk kuasa dengan sistem negara bangsa, negara tumbuh dari sisa sisa sejarah kristianitas, dengan demikian figur Bapa adalah kuasa tertinggi dari seluruh jagad kehidupan. Negara hadir sebagai yang memenuhi definisi tersebut, dia serba tahu dan serba dimana-mana, disanalah mengapa negara kental dengan maskulinitas.

Ini pula yang menjadi alasan mengapa negara selalu digugat oleh masyarakatnya, sebab dia berlaku layaknya Bapak, dia adalah tiran yang harus ditumbangkan, persis seperti posisi psikologis hubungan antara anak dengan Bapaknya dalam keluarga.

Politik sendiri nyatanya sangat kental dengan nuansa maskulin, kontrak sosial sebagai teori yang menjadi landasan dari bernegara bahkan mengandaikan adanya satu leviathan, sesosok kekuatan besar menurut Thomas Hobbes.

Baca juga :
Kuasai Informasi, Kursi Menkominfo Seksi?

Sosok besar ini digambarkan berkomposisi maskulin, dia laki laki. Dengan demikian dia bisa mengamankan seluruh masyarakat dengan mengambil alih seluruh persenjataan.

Mereka yang mampu mengamankan adalah mereka yang mampu mempergunakan, dan tentu saja kapasitas semacam ini adalah spesifikasi maskulin, senjata adalah selalu soal maskulinitas.

Perkara mengelola negara juga selalu disama dan sebangunkan dengan mengelola rumah tangga. Kepala negara dianalogikan sebagai kepala rumah tangga besar bangsa. Kepala rumah tangga di masyarakat selalu adalah laki laki, bapak-bapak, hanya mereka yang maskulin yang mampu menjaga dan mengelola rumah tangga.

Soal penjagaan ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk pertahanan dalam skema besar bernegara. Sistem pertahanan yang kuat artinya mampu menjaga seluruh bangsa dari bentuk kekerasan luar.

Tentu saja sistem pertahanan tidak bisa tidak harus berwajah garang, dengan menampilkan seluruh kekuatan yang mampu mengoyak pertahanan lawan. Jelas ini adalah maskulinitas pada puncak tertingginya.

Tak hanya menjaga, namun seorang kepala rumah tangga adalah yang bisa mengelola ekonomi dengan baik. Secara terminologis, ekonomi berasal dari kata oikos yang artinya keluarga dan nomos yang berarti aturan.

Itulah mengapa ekonomi secara rumpun kebahasaan dan kosmologi pikiran bercampur degan rumah tangga, sebab mereka sejatinya sama. Kembali bahwa kepala rumah tangga, mereka yang mampu mengatur ekonomi dan rumah tangga secara simultan adalah maskulinitas.

Dari sini kita mampu memeriksa asumsi yang melatarbelakangi label banci pada Presiden Jokowi, sebab dia dianggap lemah, presiden sipil yang tidak memberikan porsi besar terhadap pertahanan. Kedua Jokowi juga dituduh gagal mengelola ekonomi dengan melambungnya hutang negara. Dua alasan tersebut menjadikan dia tidak pantas menjadi kepala negara, sebab tidak bisa mengelola rumah tangga bersama.

Semu Maskulinitas

 Maskulinitas ditampilkan sebagai yang aktif, yang mencari nafkah, yang mampu membawa kemakmuran sebab dia adalah energi yang menggerakkan, sehingga yang dimaksud dengan ekonomi adalah selalu soal pembangunan. Namun tentu energi maskulin harus berimbang dengan feminitas, sebab justru rezim pembangunan yang sering kebablasan dan merusak masyarakat.

Feminitas justru dibutuhkan demi mendengar seluruh rakyat, feminitas adalah upaya untuk mengerem seluruh kebuasan maskulinitas, feminitas adalah energi yang mampu merangkum seluruh pengalaman masyarakat, dia memahami, dan turut merasakan, tidak terjebak dalam logika utilitarianisme dangkal dalam bernegara.

Menurut Judith Butler tidak pernah ada esensi baik pada maskulinitas maupun feminitas, keduanya adalah hanya sebatas performativitas semata. Tindakan yang berulang ulang dilakukan lalu diasosiasikan dengan konsep maskulin maupun feminin.

Manusia hanya memainkan perannya semata, tidak bisa disebut sebagai maskulin maupun feminin, Judith Butler mengandaikannya seperti teater di satu pertunjukan terbuka, setelah semua selesai, peran hanya menjadi peran.

Maskulinitas sendiri tidak pernah saklek, standar maskulinitas terus berubah sepanjang waktu, apa yang dulu dianggap feminin, dia bisa menjadi maskulin suatu saat nanti. Warna pink contohnya baru diasosiasikan dengan perempuan baru di abad 20 an.

Ada asumsi bahwa maskulinitas lebih tinggi derajatnya dibanding feminitas, tentu hal tersebut terbit dari pikiran masyarakat kita yang masih berbudaya patriarkis. Stratifikasi semacam inilah yang menjadikan merebaknya seksisme, misoginisme terhadap feminitas. Kita nampak alergi dengan segala yang berbau feminin.

Coretan kata banci tersebut tentu dipergunakan untuk merendahkan derajat sang capres. Dalam alam patriarkis semacam ini, istilah banci adalah sebuah ejekan pada mereka yang lemah, mereka yang tidak memiliki maskulinitas yang utuh.

Maka sejatinya sedari awal kita sudah menghentikan segala atribut kosa kata kasar pada asosiasi gender, termasuk dalam politik. Istilah banci adalah kegagalan kita memahami realitas bahwa politik tidak hanya miliki laki laki, dan dunia yang indah tidak disesaki oleh maskulinitas semata. (N45)