Jokowi Aman Karena Pengalaman?

pengalaman Jokowi
Joko Widodo (Foto: Getty Images via Foxsports)
6 minute read

Kandidat petahana Joko Widodo menilai bahwa negara sebesar Indonesia sebaiknya tidak dipimpin oleh sosok yang kurang pengalaman.


Pinterpolitik.com

Indonesia perlu dipimipin oleh orang berpengalaman. Begitu kata kandidat petahana Pilpres 2019, Joko Widodo (Jokowi) di hadapan para pendukungnya. Secara spesifik, Jokowi bahkan menyebut bahwa jangan sampai negara sebesar Indonesia dipimpin oleh sosok yang kurang memiliki pengalaman.

Jokowi menyebut bahwa ia memiliki pengalaman di bidang pemerintahan pada level yang terkecil. Menurutnya, pengalaman itu menjadi hal yang memotivasi dan memudahkannya untuk memimpin pada level yang lebih besar yaitu menjadi Presiden Republik Indonesia.

Orang nomor satu Republik ini bukan hanya satu kali menyoroti perkara pengalaman ini dalam berbagai rangkaian kampanyenya. Dari panggung Alumni Universitas Indonesia, hingga gelaran Jabar Ngahiji tak luput dari narasi seperti ini. Tampak bahwa pengalaman seperti menjadi salah satu jualan utama kandidat presiden nomor urut  01 tersebut.

Pengalaman memimpin jelas dapat menjadi keunggulan satu kandidat jika dibandingkan dengan kandidat lainnya. Lalu, bagaimana dengan langkah Jokowi dan keunggulan pengalamannya ini? Apakah jualan pengalaman seperti ini akan efektif memberinya jalan untuk kembali merengkuh kursi RI-1?


Memperkuat Rekam Jejak

Pengalaman kerap menjadi salah satu hal yang dianggap penting dalam menentukan kandidat mana yang lebih pantas untuk menduduki sebuah jabatan publik. Perkara rekam jejak memerintah sering kali menjadi faktor bagi pemilih untuk menentukan pilihan mereka.

Bagi negara sekelas Amerika Serikat (AS) misalnya, sebagian besar presidennya memiliki pengalaman cukup panjang sebagai politisi. Mereka memulai karier politik mulai dari senat, anggota house of representatives, atau gubernur negara  bagian sebelum mendaratkan jabatan sebagai presiden.

Pengalaman atau karier berjenjang ini juga sebenarnya ditunjukkan oleh Jokowi. Sebelum mengamankan kursi Istana Negara, Jokowi memulai karier politiknya di level yang kecil, yaitu dengan menjadi Wali Kota Solo.

Pengalaman Jokowi dalam dunia pemerintahan tidak berhenti sampai di situ. Berpasangan dengan Basuki Tjahaja Purnama, Jokowi menambah kredensial baru dalam rekam jejak jabatan publiknya dengan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Hal itu tentu masih perlu ditambah dengan pengalamannya sebagai presiden. Selama lima tahun menjabat, sang petahana jelas menambah banyak jam terbang dalam mengelola dan mengatur negara sebesar dan sepadat Indonesia. Hal ini dapat menjadi pertimbangan keunggulan Jokowi saat berikhtiar mengejar kursi presiden untuk kali kedua.

Dalam banyak kasus, pengalaman di bidang pemerintah ini dapat memiliki pengaruh pada kepiawaian seorang presiden dalam memimpin sebuah negara. Presiden AS Herbert Hoover kerap menjadi contoh bagaimana kepala pemerintahan dengan pengalaman minim ternyata tak memberi cukup banyak kontribusi bagi negaranya.

Di era Hoover memimpin, terjadi bencana ekonomi besar dalam bentuk Great Depression. Memang, penyebab dari krisis ini kerap menjadi topik perdebatan. Akan tetapi,  ia dianggap tidak bekerja cukup keras untuk menghadapi krisis tersebut. Hal ini membuatnya hanya memimpin satu periode karena dikalahkan oleh Franklin D. Roosevelt.

Meski ada kasus seperti Hoover, sebenarnya ada pula nama Dwight D. Eisenhower yang tak punya latar belakang politik, tetapi sering mendapatkan suara cukup baik dalam survei sejarawan dan ahli politik Negeri Paman Sam.

Sebagian besar karier Eisenhower dihabiskan dalam dunia militer alih-alih pemerintahan. Akan tetapi, hal tersebut nyatanya tak banyak berpengaruh di mata beberapa sejarawan dan ahli politik AS.

Tren Anti Kemapanan

Meski pengalaman adalah hal yang penting, dalam beberapa waktu belakangan, di dunia muncul fenomena menarik. Beberapa kandidat yang minim pengalaman di bidang pemerintahan ternyata berhasil keluar sebagai kampiun dalam suatu pemilihan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi salah satu gambaran nyata dari fenomena ini. Meski sempat menjadi Menteri Ekonomi, Industri dan Urusan Digital selama dua  tahun, karier Macron lebih banyak dihabiskan dengan menjadi bankir investasi. Tengok pula bagaimana Pemilu Sela di AS beberapa waktu lalu yang menghasilkan sosok-sosok baru untuk legislatif AS.

Selain itu, fenomena bagaimana kandidat minim pengalaman memerintah berhasil menjadi pemenang Pemilu dapat pula dilihat pada kasus  kemenangan Donald Trump atas Hillary Clinton pada Pilpres AS tahun 2016. Trump, meski aktif berpolitik, tak punya riwayat menduduki jabatan publik.

Hal tersebut berbeda dengan Hillary. Hillary tergolong kenyang pengalaman dalam dunia politik. Ia tidak hanya dikenal sebagai Ibu Negara di era Bill Clinton, tetapi juga seorang senator untuk periode yang cukup panjang. Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi Menteri Luar Negeri di masa pemerintahan Barack Obama.

Minimnya  pengalaman Trump ini menjadi salah satu sorotan Hillary saat berkampanye. Dalam beberapa kesempatan, Hillary menganggap rendah minimnya pengalaman ini sambil menunjukkan curriculum vitae-nya di bidang pemerintahan.

Di lain pihak, Trump justru tidak menampik bahwa ia memang minim jam terbang dalam hal pemerintahan. Alih-alih menghindari sepenuhnya, ia justru menghadirkan persona Washington outsider di mana ia justru ingin memperbaiki Washington D.C. dengan cara pandangnya sebagai orang luar yang tak berpengalaman.

Meski unggul pengalaman, nyatanya Hillary harus gigit jari dari Trump yang lebih hijau dalam mengoperasikan pemerintahan. Banyak yang menilai kekalahan Hillary terjadi karena masyarakat mulai geram dengan politisi karier dan menginginkan hal yang baru. Hal itu dapat menjadi gambaran bagaimana menjual pengalaman memerintah tidak sepenuhnya memberikan tuah bagi kemenangan.

Pasti Aman?

Ada alasan mengapa kandidat-kandidat yang minim pengalaman ternyata berhasil memenangkan hati para pemillih. Perasaan tidak puas terhadap politisi yang lebih dulu memimpin kerap menjadi alasan utama dari hal ini. Menurut Lorenzo Mosca misalnya, dalam kondisi politik yang dipenuhi oleh korupsi, minimnya pengalaman politik justru dianggap sebagai keunggulan ketimbang kelemahan.

Selain itu, Christian Dustmann dan kawan-kawan juga menyoroti hal serupa, di mana menurunnya kepercayaan kepada politisi dan institusi yang ada menimbulkan gerakan populis yang kebanyakan diisi sosok baru dan tidak berpengalaman.

Merujuk pada hal-hal tersebut, meski pengalaman Jokowi dalam pemerintahan adalah poin plus, hal tersebut bukanlah satu-satunya kunci kemenangan. Jokowi boleh saja berkeliling Indonesia dan menunjukkan capaian pengalamannya, tetapi bertumpu pada hal itu sebenarnya belum tentu berbuah kursi Istana Negara.

Langkah Jokowi menjual pengalamannya bisa jadi masalah jika masyarakat mengalami frustrasi dengan status quo. Click To Tweet

Berdasarkan pandangan Mosca atau Dustmann, bertumpu pada pengalaman di saat masyarakat tengah frustrasi justru bisa menjadi kerugian. Kandidat yang menggunakan pengalaman seperti Jokowi bisa saja dianggap sebagai kekuatan mapan atau status quo, sementara lawannya bisa dicitrakan sebagai protest candidate yang ingin melawan kemapanan tersebut dan memperbaiki keadaan.

Dalam konteks tersebut, Prabowo yang minim pengalaman bisa saja justru tercitrakan sebagai protest candidate itu. Apalagi, belakangan ia tengah getol mengritik elite-elite Jakarta sebagaimana Trump hadir dengan persona Washington outsider-nya.

Di luar itu, kampanye pengalaman Jokowi ini sedikit mengandung aroma merendahkan, layaknya Hillary merendahkan Trump. Ada kesan bahwa orang yang tidak memiliki pengalaman memerintah tidak berhak untuk menjadi presiden. Hal ini terlihat dari pernyatannya bahwa jangan sampai Indonesia dipimpin oleh orang yang tidak berpengalaman.

Mengenai apakah sosok berpengalaman akan lebih berhasil atau tidak, hal tersebut juga masih bisa diperdebatkan. Sebagaimana disebut di atas, Eisenhower meski lebih banyak menghabiskan karier dalam dunia militer, tetap dianggap para sejarawan sebagai salah satu presiden terbaik negeri Paman Sam. Secara khusus, AS sendiri bukanlah sebuah negara yang kecil untuk dipimpin.

Berdasarkan kondisi tersebut, pengalaman Jokowi di dunia pemerintahan idealnya bukan menjadi satu-satunya amunisinya untuk kembali ke Istana Negara. Hal ini terutama jika keunggulan pengalaman itu banyak digunakan untuk menyerang pihak lain.

Idealnya, Jokowi bisa menyadari ada fenomena anti-kemapanan di dunia yang memberi karpet merah kepada kandidat minim pengalaman. Jika terlalu banyak menjual pengalaman tanpa menyadari rasa frustrasi masyarakat kepada status quo, boleh jadi pengalaman Jokowi tak sepenuhnya memberikan keamanan baginya. (H33)

Baca juga :
Budi Gunawan Makin Mulus di Senayan?