JK, Musuh Dalam Selimut Jokowi?

JK, Musuh Dalam Selimut Jokowi?
Foto : Istimewa
2 minute read

“Aku suka pada mereka yang masuk menemui malam. Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu.” ~ Chairil Anwar


PinterPolitik.om

Sudah empat tahun lamanya Wiwi menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Mahasiswa Rajin Menabung, kalau disingkat jadi YUMARI. Diketahui dalam empat tahun Wiwi menjabat menjadi ketua umum, dirinya dikenal sebagai sosok yang penyabar. Bahkan saking sabarnya, dirinya terima-terima saja dipanggil “anak katak” oleh teman dan anggotanya.

Kesabaran Wiwi juga dapat dikatakan berada di atas rata-rata. Hal itu pun sudah teruji saat dirinya menghadapi kampanye pemilihan ketua umum periode berikutnya, doi di-tackling oleh wakilnya sendiri.

Jadi, pada waktu Wiwi menjalani kepengurusannya, ia memiliki program membangun jembatan layang yang memiliki tujuan memudahkan anggota dan masyarakat sekitar saat menyeberangi sungai kecil di depan sekretariatannya. Namun, entah karena kebodohan atau karena kepolosan wakilnya itu, ia malah membuat semua menjadi blunder.

Wakil Wiwi, sebut saja namanya Kalap, dengan tidak berdosa pada masa kampanye sampat bilang akan mendukung tudingan oposisi terhadap dirinya seperti ini:


Kalap: “Itu kenapa lagi bisa bisanya bangun jembatan depan sekretariat yang sebenarnya enggak ada guna! Gimana enggak guna, wong itu kali udah enggak ada airnya, terus juga kalinya cuman berukuran lima jengkal. Weleh-weleh.”

Pernyataan itu pun dibalas oleh Wiwi seperti ini:

Wiwi: “Waduh, Kalap, kok kamu ngomong gitu sih. Kan saya jadi malu sama oposisi kalau kamu ngomong begitu! Wong, kemarin kan kita sudah sepakat jangan bongkar masalah jembatan.”

Kalap: “Uppss keceplosan Wi, lupa saya!” Click To Tweet

Wiwi: “Ya udah, besok jangan diulang ya. Lihat tuh sekarang oposisi jadi pada girang kan karena omongan kamu.”

Meskipun Wiwi seorang penyabar. Wiwi ternyata juga memiliki rasa kesal dan rasa menyesal yang pada akhirnya doi ngedumel seperti ini:

Wiwi: “Hmm, ini gimana sih Si Kalap, katanya dewan pengarah pemenangan kampanyenya saya. Tapi kok doi malah kampanyein oposisi ya! Sebenarnya Si Kalap ini dewan pengarah pemenangan siapa sih? Saya atau oposisi?”

***

Mungkin dari cerita fiksi di atas pelajaran yang bisa kita petik itu seperti apa yang diungkapkan oleh Toni Q. yang kataya begini:

“Tak ada musuh abadi, tak punya teman sejati. Yang ada hanya kepentingan. Ada yang menjadi hobi pakai cara tak terpuji. Waspadai politik adu domba yang akan merusak kita.” (G35)