Jempol Media Sosial SBY-Jokowi

Jempol Media Sosial SBY-Jokowi
Foto: Shutterstock
6 minute read

Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat dibuat heboh dengan kiriman dari akun Twitter SBY dan Jokowi. Memangnya sepenting apa media sosial bagi politikus?


PinterPolitik.com

Tentu saya bisa jelaskan.” Lama tak tampil di pemberitaan media massa, presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), membuat heboh media sosial melalui cuitannya soal subsidi BBM. Sebagai pemilik akun twitter dengan 9 juta pengikut, sangat mudah baginya untuk membuat percakapan di media sosial.

Tidak berapa lama, giliran Presiden Jokowi yang mengambil sorotan tersebut melalui cuitannya. Sayang, cuitan tersebut bukan asli dari pemikirannya. Seorang pengelola akun twitter-nya teledor menggunakan akun milik presiden untuk urusan pribadinya. Meski mengandung unsur kekeliruan, tetap saja cuitan tersebut membuat heboh masyarakat karena berasal dari akun seorang kepala negara.

Terlihat bahwa para politikus belakangan semakin rajin menggunakan media sosial. SBY dan Jokowi merupakan dua contoh figur politik tersohor yang memiliki pengikut paling banyak. Mereka menjadi bukti bahwa aktif di media ala anak muda memiliki keuntungan untuk citra diri dan komunikasi.

Akan tetapi, bukan tidak mungkin aktor-aktor politik tersebut justru melakukan blunder dengan jarinya. Alih-alih memunculkan citra baik, kiriman mereka di media sosial justru menurunkan citra atau bahkan menuai kecaman. Lantas, bagaimana sebaiknya politikus memanfaatkan komunikasi di dunia maya tersebut?

Cara Baru Pencitraan dan Komunikasi

Tidak ada yang bisa memungkiri kekuatan media sosial di era saat ini. Perkembangan teknologi telah menyebabkan cara dan sarana komunikasi mulai bergeser. Disrupsi – istilah untuk sesuatu yang tercabut dari akar – teknologi  memunculkan media baru atau new media. Media konvensional boleh jadi masih eksis, tetapi media sosial muncul sebagai media baru yang banyak digemari masyarakat.

Menurut Terry Flew, media baru berfokus pada konten yang mengombinasi dan mengintegrasikan data, teks, suara, dan gambar, lalu disimpan dalam format digital, dan didistribusikan secara luas melalui jejaring. Media sosial jelas memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.

Disrupsi teknologi ini berpengaruh besar bagi generasi muda yang kini kerap disebut generasi milenial. Generasi ini kerap diidentikkan dengan penggunaan media sosial secara masif. Oleh karena itu, jika para politikus memilih untuk aktif di dunia maya, maka mereka dapat mengambil untung dengan menarik pasar generasi tersebut.

Dalam kadar tertentu, impresi di media, apalagi di media sosial, cenderung lebih penting ketimbang hal-hal yang berbau ideologis. Menurut Maria E. Grabe dan Eric P. Bucy, orang-orang cenderung lebih lama mengingat kesan seorang politisi di media ketimbang kata-kata yang ia ungkapkan. Hal ini membuat media sosial memiliki andil yang baik bagi pencitraan seorang politikus.

Baca juga :  Mau Nyapres Izin Dulu..

Selain alat pencitraan, media sosial juga dapat menjadi alat komunikasi yang efektif. Menurut Kire Sharlamanov dan Aleksandar Jovanoski, memperpendek waktu saat seorang politikus menyampaikan pesan kepada masyarakat adalah hal yang penting.

Dalam konteks ini, media sosial menjadi medium untuk memperpendek waktu penyampaian pesan tersebut. Para politikus tidak lagi perlu menanti medium-medium formal – seperti pidato atau yang sejenisnya – untuk menyampaikan sikap atau kebijakannya. Selain itu, media sosial juga bersifat pribadi dan dapat digunakan kapan saja. Hal ini berbeda dengan media massa seperti televisi yang dimiliki pihak lain sehingga diperlukan persetujuan pihak tersebut jika ingin menggunakannya.

Membentuk Jenama di Media Sosial

Kondisi-kondisi tersebut membuat tokoh-tokoh politik tanah air berlomba menggunakan media sosial. Kini, nyaris semua aktor-aktor politik tanah air memiliki akun media sosial dengan pengikut yang tidak sedikit.

Di antara akun-akun tersebut, tidak setiap kiriman para tokoh tersebut murni berasal dari jempolnya sendiri. Banyak tokoh yang memiliki tim khusus yang mengelola akun-akun media sosial mereka, sekalipun tidak sedikit pula yang mengelola sendiri akun pribadi mereka.

Jempol Media Sosial SBY-Jokowi

Perbedaan tersebut dapat memiliki pengaruh pada maksud dari penggunaan media sosial politikus. Pengelolaan oleh pribadi atau oleh tim dapat berpengaruh pada upaya pencitraan dan komunikasi politik para aktor.

Sebenarnya, melalui media sosial, seorang aktor politik dapat membentuk sendiri brand atau jenama terhadap dirinya. Mereka bahkan bisa menjadi jenama yang lebih besar ketimbang jenama-jenama lain yang berupa produk barang, baik busana, makanan, atau elektronik.

Menurut Nicholas Holt dalam Harvard Business Review, media sosial dapat membentuk komunitas besar di antara tokoh-tokoh karena mereka seperti berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Hal ini membuat mereka dapat menjadi jenama yang lebih unggul ketimbang jenama produk.

Di atas kertas, interaksi akan terasa lebih personal jika semua kiriman dikelola secara pribadi oleh politikus. Akan tetapi, dikarenakan politikus telah menjadi jenama sendiri melalui media sosial, sentuhan pribadi tersebut tetap ada meski akun dikelola oleh tim atau pihak lain.

Tidak ada masalah besar jika para politikus mendelegasikan pengelolaan akun-akun mereka kepada tim khusus. Jika dikelola dengan baik, tim ini justru dapat memberikan pencitraan dan cara komunikasi yang lebih baik ketimbang memaksakan semua dipegang oleh pribadi politikus.

Belajar dari Paman Sam

Para politikus tanah air bisa mencontah Presiden AS Barack Obama dalam penggunaan media sosial. Presiden kulit hitam pertama AS ini kerapkali dianggap sebagai presiden media sosial pertama di dunia karena aktivitasnya yang masif di dunia maya.

Baca juga :  Elit Politik Di Balik Partai Syariah 212

Obama tergolong serius mengelola kehadirannya di dunia maya. Ia memiliki tim yang terdiri dari 20 orang khusus untuk mengelola akun media sosial miliknya. Tidak tanggung-tanggung, 20 orang ini terdiri dari orang-orang dengan kemampuan khusus. Ada kehati-hatian dan keseriusan yang tinggi dari Obama dalam menggarap pasar dunia maya.

Obama bahkan membuat tim media sosialnya menjadi lebih formal. Di masa pemerintahannya, ia membentuk The White House Office of Digital untuk menjaga kehadirian sang presiden di dunia maya.

Gedung Putih era Obama memiliki mekanisme cukup ketat sebelum suatu kiriman muncul dari akun sang presiden. Ada beberapa saringan yang terlebih dahulu dilalui sebelum kiriman tersebut menyebar di dunia maya. Saringan terakhir adalah ahli hukum yang memastikan kiriman tidak bertentangan secara hukum di tingkat federal maupun negara bagian.

Sayang, upaya Obama dan The White House Office of Digital dirusak dalam waktu yang tergolong singkat. Saat kursi presiden AS beralih ke Donald Trump, jerih payah Obama untuk membangun tim digital Gedung Putih tersebut terasa sia-sia.

Pendekatan Trump pada media sosial cenderung berseberangan dengan Obama. Trump kerap dianggap lebih “ceroboh” dalam menggunakan media sosialnya. Beberapa orang bahkan menganggap Trump adalah sosok yang brutal dalam menggunakan akun-akun pribadinya.

Berbeda dengan Obama, Trump mengendalikan akun media sosialnya langsung dari jarinya sendiri. Hal ini membuat kiriman-kiriman dari akun Trump kerapkali terlihat emosional. Tidak jarang, akun tersebut mengirim sesuatu yang berbau reaktif terhadap berbagai isu yang menimpa Trump.

Kondisi tersebut tergolong berisiko. Absennya unsur kehati-hatian seperti saringan yang ada dalam tim Obama membuat sosial media membuahkan blunder bagi Trump. Alih-alih menjadi sarana pencitraan dan komunikasi yang baik, kehadiran Trump di dunia maya justru menjadi sasaran kecaman para warganet.

Jika ingin serius, maka langkah seperti Obama dapat dilakukan oleh para tokoh politik di negeri ini. Adanya saringan berlapis membuat risiko kiriman dikecam atau dijadikan bahan lelucon menjadi lebih rendah. Akhirnya, tujuan untuk membentuk citra dan komunikasi dapat tercapai dengan baik karena semua kiriman telah diatur dengan matang. (H33)

Share On