Jebakan Elektabilitas Pilpres 2019

Jebakan Elektabilitas Pilpres 2019
Foto : Liputan6.com
7 minute read

Baik kubu Jokowi maupun Prabowo sebaiknya waspada terhadap naik turunnya elektabilitas kedua capres


PinterPolitik.com

Survei elektabilitas menjadi sebuah indikator penting dalam setiap gelaran pesta demokrasi lima tahunan alias pemilu.

Menjelang Pilpres 2019 di Indonesia, memasuki 2 bulan masa kampanye, hasil perolehan elektabilitas dari kedua kubu yang akan bertarung, menunjukkan angka yang stagnan.

Hal ini diungkap oleh hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia Denny JA (LSI) di bulan November 2018 yang menyebut bahwa elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf stagnan berada pada angka 53,2 persen dan Prabowo-Sandiaga sebesar 31,2 persen. Sementara responden yang masih belum menentukan pilihan sebesar 15,6 persen.

Sedangkan menurut Indikator Politik Indonesia, tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf mengalami penurunan berdasarkan hasil survei Februari hingga September 2018.

Pada Februari 2018, elektabilitas Jokowi mencapai 61,8 persen. Sebulan kemudian, angkanya turun menjadi 60,6 persen. Elektabilitas Jokowi kembali melemah pada Juli 2018 sebesar 59,9 persen dan turun lagi menjadi 57 persen pada survei September lalu.

Di kubu penantang, tren elektabilitas Prabowo cenderung naik dan turun selama periode yang sama. Survei Indikator pada Februari 2018 menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo sebesar 29,4 persen.

Kepastian kemenangan dalam Pilpres 2019 masih menjadi misteri dan akan membuat kedua kubu semakin kesulitan memaksimalkan suara Click To Tweet

Perolehan suara Prabowo pada Maret 2018 turun menjadi 29 persen dan meningkat pada Juli 2018 menjadi 32,1 persen. Namun kemudian turun sebesar 0,8 persen pada survei September ini.

Naik turun perolehan survei ini menjadi persoalan serius bagi kubu yang akan bertarung mengingat bahwa kepastian pemilih adalah jaminan penting bagi kemenangan salah satu kandidat.

Dinamika naik turunnya elektabilitas kedua kandidat tersebut bisa jadi menjadi jebakan serius. Lalu bagaimana sebenarnya bentuk jebakan tersebut? Mungkinkah survei elektabilitas masih memiliki dampak signifikan secara politik?

Jebakan Elektabilitas Pilpres 2019

Masih Berharap Efek Bandwagon

Di saat lembaga survei memprediksikan stagnansi dan fluktuasi keterpilihan kedua pasangan calon, menariknya tim pemenangan kedua kubu kini saling mengklaim bahwa kandidat yang diusungnya memiliki potensi elektabilitas yang cenderung naik.

Hal ini diungkap oleh Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga yang mengklaim elektabilitas keduanya hampir menyamai lawannya. Bahkan jarak elektabilitas capres Prabowo-Sandi hanya terpaut 6 persen lebih kecil dari capres Jokowi-Maruf Amin.

Sementara itu, politikus PDIP Pramono Anung juga tak sepakat jika ada pihak yang menyebut elektabilitas pasangan petahana menurun dan mengklaim juga memiliki data internal dan tidak dipublikasikan yang menunjukkan secara keseluruhan elektabilitasnya itu menjadi lebih kuat.

Dengan saling mengklaim kemenangan, apa yang sebenarnya ingin dimaksimalkan oleh kedua kubu?

Dalam sebuah pemilihan umum, menunjukkan bahwa pasangan kandidat yang didukung memperoleh suara mayoritas adalah sebuah keharusan. Dalam teori pemilu, hal ini disebut sebagai efek bandwagon.

Bandwagon effect adalah efek ikut-ikutan yang muncul dari sebuah fenomena popular. Fenomena ini ditandai dengan adanya kecenderungan seseorang misalnya untuk mengikuti apa yang orang lain pakai karena jumlah orang yang menggunakan hal tersebut semakin banyak.

Dalam kaitan dengan survei politik, sering kali hasil survei mempengaruhi psikologi pemilih yang akan memberikan suaranya pada saat pemilu.

Dengan demikian, untuk mengejar bandwagon effect ini, menampilkan bahwa kandidat capres mengalami peningkatan elektabilitas menjadi penting bagi kedua kubu.

Dengan klaim keunggulan suara satu pasangan tertentu, kedua tim sukses dapat dikatakan sedang berlomba untuk mengkonstruksi popularitas kedua calon dan berharap masyarakat akan mendapat gambaran bahwa orang tersebutlah yang akan menjadi pilihan mayoritas dan bisa ikut didukung.

Dalam konteks efektifitas bandwagon effect ini berdampak cukup signifikan khususnya jika masyarakat mudah berubah pilihan politiknya akan mengikuti pilihan yang dipilih banyak orang dan itu adalah pilihan yang terbaik. Namun pertanyaannya adalah, seberapa berhasil efek bandwagon ini menjelang Pilpres 2019?

Paradoks Efek Bandwagon

Jika dilihat dari ukuran keberhasilan, efek jenis ini memang masih kontroversial. Namun setidaknya, jika dibandingkan dengan beberapa pemilu sebelumnya, efek ini dapat dikatakan cukup bekerja.

Misalnya, jika belajar dari pemilu sebelumnya di tahun 2014, efek bandwagon ini cukup bekerja dalam memenangkan sosok Jokowi. Banyak pengamat yang menyebut bahwa bandwagon effect ini bekerja karena sosok Jokowi yang populis dan merupakan fenomena baru dalam politik Indonesia sehingga memunculkan apa yang disebut sebagai Jokowi effect.

Bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menikmati efek bandwagon ini dari figur Jokowi. Di tengah elektabilitas dan tingkat kepuasan publik terhadap Jokowi yang terus meningkat, tingkat keterpilihan PDIP pun juga semakin meroket.

Namun demikian, dalam masyarakat sudah semakin melek dan sadar politik, bandwagon effect yang ingin di capai beresiko memunculkan paradoks.

Dalam konteks Pilpres 2019, tidak efektifnya efek bandwagon ini dapat terlihat dari polarisasi pemilih yang telah jelas berada di kedua kubu.

Selain itu, efek bandwagon ini juga sangat dipengaruhi oleh momentum politik yang diciptakan oleh kandidat yang akan bersaing. Namun,  kedua kandidat justru cenderung gagal dalam menciptakan momentum politik tersebut.

Hal ini diungkapkan oleh Neil Malhotra, seorang profesor ekonomi politik di Universitas Stanford yang menyebut bahwa momentum politik dan efek bandwagon memiliki korelasi dalam sebuah pemilu.

Dia mengatakan bahwa momentum politik dalam kadar tertentu akan mempengaruhi tingkat keberhasilan efek bandwagon, utamanya bagi pemilih yang belum menentukan pilihan.

Namun sayangnya, baik Jokowi maupun Prabowo belum cukup berhasil dalam menciptakan momentum poltik tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari survei LSI Denny JA yang menyebut bahwa kedua kandidat calon mengalami kegagalan dalam menciptakan efek elektoral dari beberapa isu yang berkembang di masyarakat dalam dua bulan terakhir ini.

Survei ini mencatat delapan dari 14 isu yang efek elektoralnya tidak terlalu signifikan karena tingkat pengenalan atau popularitas terhadap isu tersebut di bawah 50 persen.

Selain momentum politik, kedua calon juga tak berhasil melakukan kampanye secara maksimal di mana petahana dan tim masih terlihat ikut terlibat dalam percakapan yang penuh sensasi di masa awal kampanye.

Sementara, di pihak penantang belum ada satu pun program kerja yang terdengar masif di telinga publik selama periode awal kampanye.

Jika merujuk pada realitas tersebut, kedua calon sama-sama tak bisa mengandalkan efek bandwagon dalam pemilu kedepan.

Jika dilihat trennya, hal ini akan berpotensi menjadi jebakan karena stagnansi dan fluktuasi elektabilitas yang tidak signifikan.

Waspada Elektabilitas Stagnan

Kegagalan menciptakan momentum politik dan tidak bekerjanya efek bandwagon menjadi peringatan serius bagi kedua kubu.

Kini nampaknya voters behavior di Indonesia mengalami pergeseran. Hal ini terlihat dari indikasi stagnasi elektabilitas kedua calon dan angka golput serta pemilih yang masih belum menentukan pilihan meskpun hari pencoblosan semakin dekat.

Harapan kemenangan keduanya kini berada di tangan undecided voters dimana sebesar 15,6 persen pemilih belum menentukan pilihan.

Jika dalam sisa waktu yang kampanye kedua tim tak berhasil memperoleh kenaikan elektabilitas secara signifikan, bisa jadi mereka tengah berhadapan dengan jebakan silent majority.

Silent majority sendiri  adalah sekelompok besar orang atau kelompok yang tidak mengekspresikan pendapat atau pilihan politik mereka secara terbuka. Mereka adalah kelompok pemilih yang sulit dideteksi bahkan melalui survei pemetaan suara sekalipun.

Secara teoritis, jebakan tersebut dapat disebut sebagai Wilder effect yakni teori tentang ketidaksesuaian hasil antara jajak pendapat dalam sebuah pemilu dengan hasil pemilu.

Wilder effect tersebut terjadi di pemilu AS 2016 ketika silent majority ini memiliki efek yang signifikan dalam memenangkan presiden Donald Trump. Padahal, pada waktu itu Hillary Clinton memenangkan suara di beberapa survei elektabilitas.

Jika merujuk pada teori tersebut, kepastian kemenangan dalam Pilpres 2019 masih menjadi misteri dan akan membuat kedua kubu semakin kesulitan memaksimalkan suara.

Meski unggul, kubu Jokowi tak boleh bersenang hati, karena sebagai petahana, elektabilitasnya masih belum mencapai batas aman.

Sementara kubu oposisi, meskipun tertinggal secara elektabilitas, masih memiliki peluang untuk mengejar ketertinggalan.

Pada akhirnya, strategi selanjutnya yang digunakan oleh kedua kubu dalam waktu yang semakin sempit ini menjadi penting untuk dirumuskan secara matang. Jika tidak, tentu konstelasi politik menjelang Pilpres akan semakin suram dan tak terprediksi. (M39)