Jawa Dikuasai PPP, JOIN Gagal?

Jawa Dikuasai PPP, JOIN Gagal?
Detik.com
6 minute read

Berdasarkan hasil hitung cepat Pilkada Serentak, PPP mampu melampaui peraihan suara PKB. Apakah kekalahan partai Cak Imin ini, bukti kegagalan kampanye JOIN?


PinterPolitik.com

“Biarkan rencanamu tetap tak terbaca dan terlihat, bagaikan malam. Tapi saat waktunya bergerak,  sambarlah layaknya halilintar.” ~ Sun Tzu, The Art of War

Ahli strategi perang Sun Tzu dari Tiongkok, sangat terkenal dengan berbagai siasat dan strategi jitunya untuk memenangi peperangan. Begitu juga bagi para politisi dan partai politik (parpol), Pilkada Serentak yang berlangsung Juni lalu merupakan salah satu “perang” yang tak hanya butuh persiapan, tapi juga taktik dan strategi yang tepat.

Sejak sebelum kampanye dan menjelang hari pencoblosan yang jatuh pada 27 Juni lalu, berbagai strategi telah dikerahkan sejumlah parpol demi mendapatkan suara. Salah satu yang mendapatkan suara di luar prediksi berbagai lembaga survei, adalah perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Partai pimpinan Romahurmuziy atau yang dikenal sebagai Rommy ini, secara mengejutkan mampu menang di tujuh pemilihan gubernur (Pilgub), serta dua kader internalnya sebagai wakil gubernur di Jawa Barat, yaitu Uu Ruzhanul Ulum (pasangan Ridwan Kamil) dan di Jawa Tengah, Taj Yasin (pasangan Ganjar Pranowo).

Peraihan PPP ini cukup mengejutkan, karena mampu melampaui hasil suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebagai sesama partai berbasis massa Nahdlatul Ulama (NU), PKB hanya mampu menang di enam provinsi dan menempatkan satu kadernya sebagai wagub Lampung, dan berbagi klaim kemenangan Uu di Jabar.

Padahal sebelumnya, berdasarkan survei partai politik yang dilakukan LSI Denny JA pada Mei lalu, PPP diprediksi tidak akan mendapatkan kursi di parlemen karena hanya mampu meraih suara 1,80 persen. Padahal ambang batas parlemen (parlementary threshold) yang ditetapkan sebesar empat persen.

Sehingga, kemenangan PPP ini membuat kekuatan PKB yang diprediksi akan bertahan sebagai partai menengah, menjadi dipertanyakan. Terlebih ketua umumnya, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) telah jauh-jauh hari melakukan sosialisasi Jokowi-Muhaimin (JOIN) guna mendongkrak suara partainya. Apakah ini berarti Kampanye JOIN gagal?

Agamis Tradisional Kuasai Jawa

“Berbagai hasil terbaik dapat dicapai dengan kekuatan-kekuatan kecil.”

Sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, basis kekuatan NU menyebar di sejumlah daerah, terutama Jawa. Sehingga keberhasilan PPP meraih suara pemilih di tiga provinsi yang dikenal sebagai lumbung suara nasional ini, memperlihatkan kalau figur calon pemimpin yang agamis masih sangat diminati oleh para pemilih.

Di Jabar, Uu yang menurut Ridwan Kamil mewakili figur tradisional, merupakan Bupati Tasikmalaya yang dikenal sebagai Kota Santri. Sementara Taj Yasin atau Gus Yasin adalah putra ulama terkenal di Jateng, yaitu KH. Maimoen Zubair. Sedangkan Khofifah Indar Parawansa telah mendapat restu dan dukungan penuh dari para Kyai Kampung di Jatim.

Baca juga :  Hantu Itu Bernama Esemka

Mengenai kriteria calon yang diusungnya, Rommy sendiri mengakui kalau ia memang menerapkan standar “4 Tas Plus 1” sebagai kekuatan-kekuatan kecil seperti yang dianjurkan Sun Tzu. Keempat ‘Tas’ itu antara lain integritas, kapasitas, akseptabilitas, elektabilitas, dan satu ‘Tas’ tambahan yang tak boleh ketinggalan, yaitu spiritualitas.

Faktor spiritualitas sebagai modal penarik suara pemilih, berdasarkan Teori Filsafat Politik dari Donald Eugene Smith memang dapat mempengaruhi, terutama di wilayah yang pemilihnya didominasi masyarakat tradisional seperti Jawa. Sebab secara psikologis, agama memang masih menjadi faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku politik pemilih.

Dalam bukunya, Agama dan Modernisasi Politik, Smith mengatakan kalau ada tiga faktor yang membentuk pandangan tersebut, yaitu akibat adanya dogma agama yang dipercaya mutlak oleh para pemilih, arahan para pemimpin agama atau kyai yang masih sangat dihormati di wilayah tersebut, serta lembaga atau institusi yang menaunginya.

Sehingga menarik bila dilihat dari Pilgub Jatim, di mana PKB mengusung Syaifullah Yusuf (Gus Ipul)  yang juga merupakan warga NU, mampu dikalahkan oleh Khofifah. Padahal, selain telah lebih dulu mendapat restu dari para Kyai Sepuh, sang petahana ini pun merupakan cicit dari pendiri NU, KH. Hasjim Asy’ari.

Merujuk dari tulisan Syaiful Muzani dan William Liddle dalam Leadership, Party, and Religion: Explaining Voting Behavior in Indonesia, bisa jadi karena model perilaku pemilih (voting behavior) masyarakat Indonesia – khususnya Jawa – yang masih dipengaruhi oleh loyalitas partisan atau rasa kedekatan pemilih dengan parpolnya.

Sebagai partai berbasis massa Islam, PPP memang jauh lebih mapan dari PKB, baik dari jaringan maupun basis loyalitas pemilihnya. Sementara di PKB, perseteruan Cak Imin dengan putri sang pendiri partai, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yaitu Yenny Wahid, disinyalir menjadi penyebab tergerusnya suara PKB di Jatim.

Mempertanyakan Kampanye JOIN

“Strategi tanpa sejumlah taktik adalah rute terlama untuk meraih kemenangan. Namun sejumlah taktik tanpa strategi, hanyalah gangguan sebelum dikalahkan.”

Sebagai partai berbasis massa NU yang berdiri pasca reformasi, usia PKB memang jauh lebih muda dibanding PPP yang telah ada sejak Orde Baru. Namun sebelumnya, pamor PKB sempat melampaui PPP ketika masih dipimpin oleh Gus Dur. Setelah diambilalih Cak Imin dan Yenny Wahid memutuskan keluar, suara PKB pun mulai melemah.

Baca juga :  Tantowi di 17 Dubes

Karena itulah untuk mendongkrak peraihan suara pemilih dan menaikkan citra dirinya, Cak Imin menggalang Kampanye Jokowi-Muhaimin (JOIN) jauh-jauh hari sebelum kampanye Pilkada dimulai. Padahal, PKB sendiri belum secara resmi mendeklarasikan diri untuk mengusung Jokowi di Pilpres 2019.

Langkah berani Cak Imin ini, diakui Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin sebagai langkah yang cerdas. Selain mampu meningkatkan elektabilitas Cak Imin, PKB juga berusaha menaikkan angka elektoralnya dengan memanfaatkan popularitas Jokowi yang tinggi.

 

Merujuk pada klasifikasi tipologi partai politik Richard Gunther dan Larry Diamond, PKB dapat dikategorikan sebagai partai dengan karakter personalistik. Sebab dengan kampanye tersebut, Cak Imin ingin lebih banyak menumpukan citra partai pada pola patronase yang kuat dengan sosok pemimpin yang kharismatik.

Menurut Gunther, partai dengan karakter personalistik memang banyak menitikberatkan legitimasi partai pada sosok figur elit politiknya atau keterkenalan sang ketua umumnya. Begitu juga dengan pengambilan keputusan maupun perumusan strategi kebijakan yang akan dilakukan oleh partainya.

Di sisi lain, sebagai partai yang tidak bertumpu pada personalitas pemimpinnya, perpecahan yang menyebabkan terjadinya dualisme di PPP, terbukti tidak banyak berdampak pada jaringan partai di berbagai wilayah dan pecahnya pemilih loyalis partai seperti  yang terjadi pada PKB.

Sehingga, ketika Kampanye JOIN yang membawa namanya dan Jokowi masih belum berhasil mendongkrak peraihan suara PKB di Pilkada, apakah ini bukti kalau kombinasi JOIN kurang diminati masyarakat? Padahal, Cak Imin sendiri mengakui kalau Kampanyenya tersebut telah mampu mendongkrak elektabilitasnya di berbagai survei.

Kembali pada hasil Pilkada, kalahnya peraihan suara PKB dari PPP ini sudah tentu akan mampu melemahkan nilai tawar Cak Imin pada Jokowi. Padahal selama ini, Cak Imin selalu mengandalkan basis massa NU yang dimiliki partainya karena sangat dibutuhkan Jokowi untuk membantu mempertahankan suara pemilihnya di Pilpres nanti.

Sebagai sesama partai berbasis massa NU yang memiliki kekuatan suara di Jawa, tentu posisi PPP menjadi lebih kuat dibanding PKB saat ini. Apalagi sejak awal, PPP telah secara tegas mendukung Jokowi di 2019. Posisi ini tentu membuat Rommy menjadi rival berat lainnya bagi Cak Imin. Jadi, apakah Kampanye JOIN hanya sekedar strategi untuk dikalahkan seperti ucapan Sun Tzu di atas? (R24)

Share On