Jatim, Battleground Terakhir Prabowo-Sandi?

Jatim Battleground terakhir Prabowo-Sandi
Foto : Info Surabaya
7 minute read

Jawa Timur mungkin saja tengah menjadi battleground terakhir antara kubu petahana dan kubu oposisi jelang 17 April nanti. Lalu siapakah yang mampu merebut wilayah ini?


PinterPolitik.com

Jawa Timur menjadi sorotan beberapa waktu lalu berkat tagar #CrazyRichSurabayan yang sempat mengguncang dunia maya. Provinsi di paling ujung timur pulau Jawa ini memang disebut-sebut sebagai tempat asalnya para taipan-taipan bisnis, utamanya di ibu kotanya, Surabaya.

Selain soal Crazy Rich Surabayan, Jatim kini kembali disorot jelang Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 ini. Pasalnya, di tengah situasi yang kian memanas, survei Litbang Kompas terbaru menunjukkan bahwa elektabilitas pasangan petahana Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, menurun di basis suara mereka, salah satunya di wilayah Jatim.

Hasil survei tersebut menyebutkan bahwa suara Jokowi di Jatim pada Maret 2019 hanya mencapai 57,1 persen, turun sebesar 12,5 persen dibandingkan pada Oktober 2018 lalu yang mencapai 69,6 persen. Jumlah ini memang masih unggul dibandingkan dukungan untuk Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, namun cukup mengkhawatirkan dilihat dari besarannya.

Menurut beberapa pengamat, faktor yang mempengaruhi turunnya elektabilitas ini cukup beragam.  Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes menilai bahwa saat ini muncul anomali di mana basis kekuatan petahana cukup digerogoti.


Oleh karenanya, Jokowi idealnya harus lebih fokus mengamankan basis utama suara karena ada penurunan dukungan yang cukup besar di Jatim dan beberapa basis lain, termasuk juga di Jawa Tengah.

Konteks posisi Jatim menjadi hal yang menarik karena belakangan ini banyak gesekan terjadi di provinsi penyumbang DPT kedua terbanyak setelah Jawa Barat itu. Mulai dari aksi-aksi penolakan terhadap pasangan Prabowo-Sandi, hingga perebutan basis massa ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang kuat di provinsi ini.

Lalu, mungkinkah Jatim menjadi medan pertempuran membara di akhir-akhir periode kampanye menjelang 17 April nanti?

 

Anomali Petahana

Berkaca dari Pilpres 2014, keunggulan terbesar Jokowi di pulau Jawa kala itu berada di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Seperti diketahui, Jateng merupakan kampung halaman Jokowi sekaligus basis partai pengusungnya, PDIP. Sementara Jatim juga menjadi lumbung suara PDIP, sekalipun terpaut tipis dibanding PKB – partai yang kini juga mendukung Jokowi – sebagai pemenangan pada Pemilu 2014. Sehingga, penurunan elektabilitas Jokowi ini terbilang cukup mengkhawatirkan.

Kekhawatiran tersebut tentu bukan tanpa alasan. Khusus untuk Jatim, sesungguhnya peringatan terkait akan adanya pertarungan berdarah-darah telah muncul setelah PDIP dan PKB gagal memenangi Pilgub di provinsi tersebut pada 2018 lalu. Dengan turunnya elektabilitas petahana, hal tersebut semakin menunjukkan bahwa PDIP maupun PKB sebagai mesin politik tak bekerja secara maksimal.

Selain itu, terpilihnya Khofifah Indar Parawansa tak menunjukkan bahwa kehadiran gubernur perempuan pertama Jatim tersebut berpengaruh bagi kenaikan elektabilitas Jokowi. Apalagi, Khofifah yang adalah mantan menteri di kabinet Jokowi telah secara terbuka menyatakan dukungannya untuk sang petahana.

Selain itu, meskipun Jokowi memiliki relawan sekaliber Tim Bravo – sebutan untuk tim yang digawangi oleh beberapa purnawirawan militer – yang diklaim bergerak masif di Jatim, hal itu juga tak berbanding lurus dengan kenaikan elektabilitasnya.

Bahkan, masuknya mantan Gubernur Jatim, Soekarwo dalam jajaran dewan pembina Tim Bravo-5 Jatim justru dipertanyakan perannya selama ini.

Hal ini terkait dengan posisi Pakde Karwo yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Demokrat Jatim – partai yang justru ada dalam koalisi Prabowo-Sandi. Sekalipun Pakde Karwo memiliki basis masaya sendiri – disebut-sebut sebagai kunci untuk meraih suara kelompok masyarakat abangan – nyatanya ia juga tak mampu mendongkrak suara petahana.

Oleh karenanya, penurunan elektabilitas Jokowi di Jatim seolah menjadi anomali tersendiri. Jatim masih menjadi wilayah yang cukup berpeluang untuk dikuasai oleh oposisi.

Hal ini berpeluang mengulang apa yang terjadi pada Pemilu di Amerika Serikat (AS) pada 2016 lalu, yang menurut banyak pengamat disebut sebagai runtuhnya blue wall atau tembok biru milik Partai Demokrat AS.

Empat negara bagian yang sejak tahun 2000 menjadi basis Demokrat, yaitu Iowa, Wisconsin, Pennsylvannia, dan Michigan nyatanya mampu dimenangkan oleh Donald Trump – kandidat dari Partai Republik.

Kemenangan itu menurut John Sides, Michael Tesler dan Lynn Vavreck dalam tulisan di Journal of Democracy  menggambarkan bagaimana kesuksesan Trump dalam pertempuran battleground dan mengantarkannya menjadi presiden. Lalu mengapa Jatim menjadi wilayah penting dalam Pilpres 2019 kali ini?

Merebut Jatim, Iowa-nya Indonesia?

Di Pemilu AS, terdapat negara bagian yang selalu menjadi rebutan bagi para kandidat yang akan bertarung dalam kontestasi politik, yakni Iowa. Meskipun negara bagian ini sebenarnya tidak memiliki banyak suara di Electoral College – semacam kelompok pemilih yang dipilih dan menentukan siapa yang akan terpilih menjadi presiden di AS – namun sangat menentukan kemenangan seorang kandidat presiden.

Lalu mengapa Iowa penting? Jawabanya adalah karena negara bagian ini merupakan representasi AS secara keseluruhan. Seperti dikutip dari The Economist, meskipun negara bagian ini terletak di pinggiran, namun dihuni oleh orang-orang kulit putih yang mayoritasnya adalah kaum Kristen konservatif yang sering dianggap sebagai representasi asli penduduk AS.

Terkait hal tersebut, apakah mungkin Jatim menjadi representasi Iowa-nya Indonesia? Dalam konteks karakteristik penduduk, Jatim tentu berbeda dengan Iowa. Namun, dalam konteks posisinya sebagai penentu, hal serupa bisa saja terjadi. Pasalnya, dalam sejarah Pemilu di Indonesia, Jatim selalu memiliki dinamika politik elektoral yang terbilang unik dan memiliki dinamika politik yang tak terprediksi.

Selain itu, secara ekonomi, Jatim juga menjadi jantung perekonomian terbesar kedua setelah Jakarta. Tim riset CNBC Indonesia menyebut Surabaya sebagai salah satu wilayah yang menjadi tulang punggung perekonomian di Indonesia.

Provinsi ini juga disebut sebagai gerbang untuk Indonesia Timur karena menjadi sentral arus barang dan jasa ke wilayah tersebut. Hal ini salah satunya ditulis oleh Heath McMichael  dalam tulisannya yang berjudul Economic Change in East Java: Balanced Development or Skewed Growth? yang diterbitkan oleh Murdoch University.

Lalu dalam konteks politik, mengapa Jatim selalu menjadi medan pertempuran panas di setiap gelaran pesta demokrasi nasional?

Setidaknya hal tersebut dapat dilihat dari beberapa hal. Salah satunya adalah keunikan tipologi kostituen, di mana Jatim menjadi salah satu basis utama pengikut ormas terbesar di Indonesia, yakni NU.

Sehingga, perebutan suara kaum nahdliyin di Jatim disebut-sebut cukup mempengaruhi peta perpolitikan nasional.

Hal ini disebabkan karena pada Pemilu 1999 dan 2004, NU melalui PKB berhasil menghijaukan Jatim dan menjadikannya basis suara mereka.

Namun, Jatim juga merupakan sebuah contoh bagaimana sebuah wilayah dapat jatuh ke tangan partai atau kandidat lain, meski secara tradisional menjadi basis massa partai tertentu.

Pilpres 2004 adalah contoh di mana suara NU di Jatim terpecah ke dalam dua kubu. Kala itu, Jatim diyakini menjadi basis suara untuk pasangan calon Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi yang diusung oleh PDIP. Nama terakhir kala itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU.

Namun, saat itu sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang merupakan tokoh berpengaruh di NU, memilih untuk menyatakan golput. Walaupun demikian, Gus Dur justru “menitipkan” putrinya Yenny Wahid mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan menyebabkan suara PKB dan NU terpecah. Hal ini secara tidak langsung mendongkrak suara SBY di Jatim.

Di Pemilu 2009, Partai Demokrat juga berhasil membirukan Jatim, di mana partai berlambang bintang tiga arah itu berhasil menghentikan dominasi PKB dan mendapatkan suara terbanyak di provinsi tersebut, baik untuk Pileg maupun Pilpres. Realitas dinamika tersebut menunjukkan bahwa Jatim selalu menjadi penentu di setiap momentum politik melalui hal-hal yang tak terprediksi.

Selain konteks tersebut, Jatim juga masih merupakan wilayah kunci bagi pemenangan Pilpres 2019 karena jumlah pemilih di provinsi ini yang mencapai 31.011.960 jiwa. Data tersebut menunjukkan Jatim menjadi salah satu penyumbang suara terbesar di tingkat nasional.

Bisa dibilang, Jatim kini menjadi arena pertarungan yang berat bagi kubu oposisi, pun bagi petahana untuk mempertahankan keunggulannya. Dengan semakin aktifnya Sandiaga Uno sebagai cawapres Prabowo berkampanye di Jatim, memang menunjukkan bahwa provinsi ini sedang diberikan perhatian lebih.

Selain itu, hal serupa juga terlihat dalam aksi pengamat politik Rocky Gerung – yang cenderung partisan ke kubu Prabowo-Sandi – yang mulai makin sering memberikan ceramah di sejumlah titik di Jatim. Konteks panasnya situasi di Jatim ini bisa dilihat dari kasus-kasus penolakan yang terjadi kepada aksi-aksi politik kelompok oposisi tersebut.

Baik Sandiaga maupun Rocky Gerung sering mendapat pencekalan. Demikianpun halnya dengan Prabowo yang kerap mendapat sambutan kurang mengenakkan.

Melihat effort dari Rocky maupun Sandi serta Prabowo untuk “turun gunung” ke Jatim, mungkin saja memicu basis politik petahana untuk melakukan berbagai upaya mendelegitimasi kampanye dari kubu oposisi.

Dengan semakin menurunnya elektabilitas Jokowi di Jatim dan serangkaian gempuran yang tak berkesudahan terhadap aktivitas kampanye oposisi tersebut, seolah menggambarkan bahwa Jatim adalah arena battleground penting baik bagi Jokowi maupun Prabowo.

Lalu, siapakah yang pada akhirnya memenangkan pertempuran ini? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (M39)

[related_posts_by_tax posts_per_page="7" taxonomies="category,post_tag" order="ASC"]