Jabar, Medan Perang Jokowi-Prabowo

Rilis hasil survei Indopolling Network mengenai elektabilitas Jokowi-Prabowo di Jawa Barat. (foto:inilahkoran.com)
6 minute read

Jawa Barat menjadi wilayah yang diperebutkan suaranya oleh kedua kubu calon presiden, yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Pada Pilpres 2014 , Prabowo menang telak atas Jokowi di Jabar. Tetapi pada Pilgub Jabar 2018, pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum yang berada di kubu Jokowi memenangkan Jabar. Maka, di manakah posisi suara masyarakat Tanah Pasundan?


PinterPolitik.com

 

“Apa yang terjadi di Jabar, akan mempengaruhi apa yang terjadi di Indonesia,” – Prabowo Subianto

 

Jawa Barat adalah medan perang. Hal ini kerap menjadi ungkapan dari politisi tanah air karena Jabar memiliki jumlah pemilih terbanyak di Indonesia dan memiliki peta politik yang sulit diprediksi. Kondisi tersebut membuat kedua kubu calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan nomor urut 02 Prabowo Subianto berusaha keras untuk merebut suara di daerah tersebut.

Pada Pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa unggul di Jabar dengan memperoleh suara sebesar 59,78%, sedangkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla hanya memperoleh 40,22% suara. Hal ini merupakan wilayah kemenangan terbesar Prabowo-Hatta pada saat itu.

Dengan majunya kembali Prabowo sebagai calon presiden, diprediksi masyarakat Jabar masih setia memilih Prabowo pada Pilpres 2019. Namun pada Pilgub Jabar 2018 lalu -yang dianggap sebagai peta untuk melihat pemenangan Pilpres 2019- pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum yang berada di kubu Jokowi menang di wilayah tersebut.

Kemenangan Ridwan-Uu di Jabar seakan-akan membelokkan persepsi mengenai peta politik Jabar yang merupakan basis kuat Prabowo dan partai-partai pendukungnya. Kemenangan ini juga berbanding terbalik dengan hasil Pemilu 2014.

Tetapi berdasarkan data dari lembaga survei Australia Roy Morgan, menunjukkan bahwa Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapatkan suara sebanyak 57% di Jawa Barat, sedangkan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 43% suara.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa Prabowo masih dimungkinkan untuk menang di Jabar, meskipun para pendukung NU di Jabar telah mendeklarasikan untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf dan Ridwan Kamil yang berada di kubu Jokowi.

Jika masyarakat Jabar memang masih konsisten untuk memilih Prabowo, apakah hasil dari Pilgub Jabar 2018 memang tidak memengaruhi elektabilitas dalam Pilpres 2019? Dan apakah hal itu disebabkan oleh masih kuatnya kubu oposisi di Jabar?

Peta Politik Jabar yang Dinamis

Berbeda dengan hasil survei Roy Morgan, berdasarkan survei Indopolling Network, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf unggul di Jabar dengan persentase 41,7%, sedangkan Prabowo-Sandi 37,9%.

Secara rinci, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf menang di Jabar bagian Timur yang mencakup wilayah Cirebon, Indramayu, Kuningan, Majalengka dan Sumedang. Ia juga menang sangat tipis dari Prabowo di wilayah Jabar bagian Tengah, Utara, dan Barat.

Sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandi menang di Jabar bagian Selatan yang mencakup Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Pangandaran dan Banjar dengan meraih suara sebesar 50% dan Jokowi hanya mendapat 40%, yang tidak menjawab sebesar 10%.

Partai yang memiliki basis kuat di Jabar pun berubah dari waktu ke waktu. Di zaman Orde Baru, Golkar unggul di Jabar. Kemudian setelah Reformasi, PDIP, Demokrat, dan PKS sempat menguat. Dalam konteks Pilgub, hanya PKS yang dapat menang berturut-turut di Jabar dengan terpilihnya Ahmad Heryawan (Aher) sebagai Gubernur Jabar selama dua periode.

Setiap daerah di Jabar juga memiliki partai kekuasaan masing-masing. Di Kota-Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Purwakarta, misalnya, dikuasai oleh Golkar selama beberapa periode. Kemudian Kota Depok yang statis dikuasai PKS sejak 2006, Kabupaten Garut yang dikuasai oleh Gerindra, lalu Tasikmalaya yang merupakan wilayah kekuasaan PPP di kotanya dan PDIP di kabupatennya.

Tetapi Kota Tasikmalaya memiliki fenomena politik yang unik. Dengan wilayah di bawah kekuasaan PPP, untuk kontestasi Pilpres ini Prabowo malah unggul. Posisi PPP yang berada di kubu pertahana tampaknya tidak memengaruhi pilihan masyarakat Tasikmalaya untuk memilih Prabowo.

Suara Jabar ke kubu capres mana? Click To Tweet

Pada acara ‘Deklarasi Ulama Se-Kota Tasikmalaya Mendukung Ir. H. Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin’ yang dihadiri oleh Uu Ruzhanul Ulum, dipenuhi dengan teriakan “Prabowo!” dan di puncak acara, spanduk acara tersebut digoyang-goyang oleh sejumlah orang untuk diturunkan paksa.

Hal serupa juga terjadi di Garut, Ciamis, dan Banjar. Jika merujuk pada hasil dari Pilgub Jabar 2018, masyarakat Garut Ciamis, dan Banjar memenangkan Ridwan-Uu. Namun, ketiga wilayah yang tergolong Selatan Jawa Barat tersebut malah mendukung Prabowo.

Berbanding terbalik dengan wilayah Tengah, Utara, dan Barat yang mencakup wilayah Sukabumi dan kawasan Megapolitan Jabar seperti Bogor, Bekasi, dan Depok. Wilayah-wilayah tersebut pada Pilgub Jabar 2018 memilih Sudrajat-Syaikhu yang berada di kubu Prabowo, namun berdasarkan survei Indopoll Network, elektabilitas Jokowi di wilayah tersebut justru unggul meskipun sangat tipis.

Hasil itu menggambarkan bahwa untuk Jawa Barat, partai yang menguasai suatu daerah atau dengan telah memenangkan suatu kubu di Pilgub belum tentu dapat dikorelasikan dengan pemenangan pilpres. Menjadi tidak heran juga, jika pemetaan politik di Jabar sulit untuk dibaca atau diprediksikan.

Jabar untuk Jokowi atau Prabowo?

Dengan adanya perbedaan hasil Roy Morgan dan Indopolling, ditambah dengan saling klaim Jabar antara TKN dengan BPN, semakin sulit untuk memperkirakan di mana posisi suara Jawa Barat pada Pilpres 2019 ini.

Jika berkaca secara mentah dari hasil Pilgub Jabar 2018, dapat diduga bahwa Jabar beralih ke kubu Jokowi. Namun, karena adanya hasil survei Roy Morgan dan hasil yang sama terjadi di Tasikmalaya, Garut, Ciamis, dan Banjar, perlu dipikirkan kembali di mana posisi suara Jabar.

Kemenangan Ridwan-Uu memang menandakan kemunduran kubu oposisi yang mengusung Sudrajat-Syaikhu. Tetapi kemenangan tersebut merupakan kemenangan dengan hasil persentase yang tipis.

Sudrajat-Syaikhu yang diusung oleh Gerindra, PKS, dan PAN berada di posisi kedua dengan total suara sebanyak 28,74 persen, berbeda tipis dengan hasil yang diperoleh Ridwan-Uu yaitu 32,88 persen. Selisih antara Ridwan-Uu dan Sudrajat-Syaikhu yakni 4,14 persen. Dari hasil ini dapat dipikirkan bahwa sebenarnya masyarakat Jabar masih memiliki kepercayaan terhadap kubu Prabowo.

Merujuk pada hal tersebut, terlihat bahwa kemenangan Ridwan Kamil di Jabar belum sepenuhnya memberi keuntungan lebih bagi Jokowi. Meski Jokowi dinyatakan unggul di satu survei, nyatanya masih ada survei yang mengunggulkan Prabowo.

Hal ini membuat Jabar dapat disetarakan dengan competitive states atau negara bagian kompetitif yang misalnya disebutkan oleh Thomas Patterson. Daerah seperti ini kerap juga disebut sebagai battleground atau medan perang bagi kandidat capres yang berlaga.

Di Amerika Serikat, ada beberapa negara bagian yang disebut dengan istilah tersebut. Salah satu yang dianggap paling penting adalah Florida karena jumlah konstituensinya yang tinggi. Pada tahun 2016, Florida dianggap sebagai faktor utama bagaimana Donald Trump bisa memenangi pertarungan dari Hillary Clinton.

Merujuk pada hal tersebut, Jabar boleh jadi kini setara dengan Florida di Amerika. Keberadaan Ridwan Kamil di kubu Jokowi dan performa survei Prabowo membuat provinsi ini menjadi medan perang yang masih harus dimenangkan.

Lalu, di mana sebenarnya posisi Jabar di hari pencoblosan nanti? Tampaknya, hanya waktu  yang dapat menjawabnya. Yang jelas, perebutan suara di medan perang ini diprediksi akan berlangsung ketat dan kompetitif. (D44)

Facebook Comments