Indonesia Terserang Virus Atwater

Indonesia Terserang Virus Atwater
2 minute read

Memasuki awal tahun politik, situasi sudah mulai hangat dengan berbagai isu yang menyerang moral para kandidat. Virus kampanye hitam ala Atwater menghantui Indonesia?


PinterPolitik.com

“Kampanye hitam itu harus betul-betul kita hilangkan dari proses-proses di demokrasi kita.”

Pesan tersebut disampaikan Jokowi dihadapan para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (8/1) kemarin. Menurutnya, kampanye hitam yang saling mencela dan membunuh karakter lawan, bukanlah demokrasi yang menunjukkan karakter Indonesia.

Demokrasi Indonesia, kalau menurut Mantan Walikota Solo ini, seharusnya menunjukkan karakter yang penuh kesantunan. Mengedepankan ide, gagasan, dan program dalam pertarungan di setiap pemilihan umum, baik pada tingkat pemilihan kepala daerah (Pilkada) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres).

Kalau ditarik ke belakang, Indonesia memang bisa dibilang sedang ‘belajar’ berdemokrasi. Walaupun sudah lebih dari 70 tahun merdeka, namun baru beberapa tahun saja rakyat Indonesia benar-benar memegang kuasa untuk memilih pemimpinnya sendiri. Itu saja, sudah banyak yang mengeluh untuk dievaluasi.


Selain faktor kesiapan masyarakatnya, partai politik dan politikusnya pun belum banyak yang siap untuk melakukan demokrasi secara ‘benar’. Buktinya, politik uang masih sering terjadi di mana-mana. Selain parpol yang menggunakan kesempatan untuk ‘memeras’ calon, rakyatnya pun masih sangat bisa untuk ‘dibeli’ suaranya.

Tapi belum selesai urusan dengan politik uang, para politikus kita yang sering sowan ke negara Paman Sam, ternyata juga mengadopsi sistem lain yang mampu mempengaruhi suara pemilih. Apalagi kalau bukan kampanye hitam atau black campaign yang disebut-sebut Jokowi di awal tulisan ini.

Kampanye yang kerap digunakan para politikus AS untuk menjatuhkan lawan dan merebut suara ini, belakangan mulai banyak dimainkan di tanah air. Padahal di negaranya sendiri, strategi kampanye hitam yang pertama kali digunakan oleh Lee Atwater ini telah dianggap sebagai ‘sampah’.

Tapi ya namanya juga orang Indonesia, sampah di AS kalau menguntungkan di Indonesia, kenapa enggak diadopsi aja? Jadilah, demokrasi kita diacak-acak oleh para politikus yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri saja. Berkoar-koar tentang nasionalisme, namun menyebarkan kebencian yang nyaris memecah belah bangsa.

Herannya, orang-orang ini kayaknya santai dan bangga saja dengan hasil permainan kotornya. Di negara asalnya, virus Atwater memang selalu sukses menggulingkan lawan, jadi tak heran kalau di Indonesia virus ini pun bisa sangat merajalela. Apalagi bila dicampurkan dengan unsur SARA, pas sudah formulanya. Siapapun tentu bisa tertular. Pertanyaannya sekarang, sadarkah kalau kita sudah mengidapnya? (R24)